bab 18. Rachel

84.6K 6K 118
                                        


"Sudah pulang, nak?"

Barta dan Phoebe disambut hangat oleh Rachel, mama Barta. Wanita itu senyum sumringah sembari memeluk Phoebe erat. Sedangkan cewek itu salah tingkah dan pasrah diperlakukan seperti itu. Ekor matanya melirik Barta yang hanya mengangkat bahu cuek lalu berlalu meninggalkan mereka.

"Iya, ma." Jawab Phoebe tersenyum tipis.

Rachel tersenyum sembari mengusap kepala Phoebe sayang. "Gimana sekolahnya? Nggak terjadi apa-apa kan? Dedek bayinya nggak rewel?" Wanita itu bertanya beruntun.

"Nggak apa-apa kok, ma. Dede bayinya nggak rewel."

"Syukurlah..., mama khawatir banget kalau terjadi apa-apa sama kamu. Sebentar lagi ujian, pasti berat banget kan? Harus belajar giat dan les mata pelajarannya juga bertambah."

Phoebe mengangguk membenarkan. "Iya, ma. Tapi dua minggu lagi udah nggak ada penambahan les lagi. Kita udah mulai ujian kok." Cengirnya berbinar.

"Iya. Mama senang kalian sebentar lagi lulus. Kamu nggak perlu lagi nyembunyiin kehamilan kamu." Ucapnya. "Jaga baik-baik calon cucu mama ya."

"Iya, ma. Pasti." Phoebe mengangguk semangat.

"Sudah kalau begitu. Ayo makan dulu. Kamu harus makan banyak biar dedek bayinya sehat." Phoebe kembali mengiyakan. "Tadi Barta ngasih kamu makan di sekolah kan?" Rachel menyipit curiga.

"Iya, ma. Tadi di sekolah Bee makan nasi goreng."

"Sama es krim juga?" Rachel kembali menyipit. Pasti kemasan es krim yang dibawa Barta tadi untuk Phoebe. Barta tidak begitu menyukai makanan itu, lagi pula untuk apa dibawa ke rumah jika bukan permintaan khusus dari Phoebe.

"Iya, ma. Bee kepengen banget makan es krim." Jawabnya meskipun tidak ingin lagi.

Rachel tersenyum maklum. "Nggak apa-apa." Ucapnya menenangkan. "Pokoknya kalau kamu butuh atau pengen sesuatu langsung minta sama Barta. Jangan ditahan-tahan, nanti dede bayinya ngiler lho." Godanya.

"Iya, ma. Siap! Pasti Phoebe langsung minta."

Wanita itu berbinar, "Ya sudah, kamu ganti baju dulu terus makan ya." Phoebe mengangguk, lalu meninggalkan wanita itu kembali membaca. Phoebe makin hari makin bisa mengadaptasi diri di keluarga Barta.

Keluarga cowok itu baik, menerima Phoebe yang sudah hamil. Tentu saja membuat Phoebe sangat senang dan beruntung memiliki mereka. Papa Barta, Rudi, jarang berbicara. Lelaki itu workaholic, meskipun sampai sekarang masih menyimpan kekecewaan terhadap Barta, tetapi dia tetap menerima Phoebe dengan baik.

"Bar, kamu nggak makan?"

Phoebe membangunkan Barta yang sudah tepar. Cowok itu bergerak sedikit dan memutar kepalanya. Tetapi Phoebe tidak mau kalah, terus membangunkannya.

"Bee, makan sendiri. Aku ngantuk sekarang!" Jawabnya.

Phoebe mengerucutkan bibir. "Bee nggak enak makan sendiri."

"Biasain, Bee! Sampe kapan kamu harus ditemenin makan?" Barta langsung bangun. "Kalau lapar ya makan. Jangan ditahan-tahan dan nunggu aku!"

"Bee belum biasa." Jawabnya lagi. "Makanya temenin Bee. Nanti kalau udah biasa, Bee makan sendiri. Janji nggak ganggu kamu lagi." Phoebe masih duduk di samping Barta. Perutnya tiba-tiba berbunyi. Sejak hamil cewek itu sering mudah lapar. Tapi kalau lagi kumat sama sekali tidak bisa makan apapun. Semua tidak selera.

Barta akhirnya bangun dengan kedua mata masih memerah. Terlebih dahulu ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu mengajak Phoebe keluar untuk makan.

Di lantai bawah Rachel kembali menyapa mereka. Menyuruh Barta memperhatikan makanan Phoebe. Pokoknya jangan sembarangan atau kekuarangan makan. Phoebe harus sehat dan makananya terjaga.

Barta berdecak, sama sekali tidak menjawab. Phoebe mengikuti dari belakang setelah meminta ijin pada Rachel. Mereka hanya berdua di dapur, makanan sudah tersedia di meja makan. Cowok itu tidak lapar lagi, sehingga dia hanya menemani Phoebe saja.

"Bar, kamu juga harus makan." Suruh Phoebe lembut.

"Nggak. Kamu aja." Jawab Barta sembari memainkan ponselnya.

"Kamu kan belum makan juga, Bar."

"Udah tadi." Jawab Barta masih cuek.

"Bar..."

"Bee... jangan manja deh! Kalau lapar makan aja. Jangan paksa orang! Kalau aku lapar pasti makan juga!" Cowok itu makin hari tidak mengerti cara berpikir Phoebe yang selalu seenaknya saja.

"Bee nggak mau kamu sakit nantinya. Makannya harus diperhatikan biar sehat." Phoebe anak seorang dokter. Tentu saja jadwal makan teratur sejak kecil. Meskipun dia suka bandel nggak mau makan. Tapi Phoebe tetap ingat nasihat Arin. Makan pada waktunya agar kesehatan tubuh tetap terjaga.

"Sekali lagi kamu maksa. Lain kali aku nggak mau nemenin kamu makan!" Ancam Barta sembari menatapnya tajam.

Phoebe mengangguk patuh, lalu melanjutkan makan. Tidak mau menyuruh Barta makan lagi, tetapi secara diam-diam mengintip cowok itu yang sedang serius main ponsel. Barta sama sekali tidak peduli padanya, dia hanya perfokus pada permaiannya.

"Bar, nanti akhir pekan kita ke rumah mama ya." Kata Phoebe hati-hati beberapa saat kemudian. Cowok itu mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya. "Bee mau sekalian ketemu sama kak Bintang."

Barta kembali berdehem mengiyakan. Tidak tahu bahwa Phoebe sedang berfikir keras untuk memberikan alasan untuk Bintang di pertemuan mereka nanti. Karena cowok itu belum tahu soal pernikahan mereka.

***

Jakarta, 04.10.18

Yuhu... Bee keras kepala come back!

Barta kampret makin emosi jiwa!

Lanjut??

koment dong

hhahah


Follow ig : ila_dira

novel.dira

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang