SUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN!
1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA -
2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA -
3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA -
4. QUEEN (PROSES TERBIT)
ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
"Bee," Barta sedang mencari perhatian Phoebe, mengecupi pelipis istrinya tanpa jeda. Respon Phoebe masih dingin, dia hanya berdehem pelan sambil menjauhkan wajahnya dari Barta. "Bee, mau dicium lama, nggak?" Tanya Barta tidak mau melepas istrinya.
"Nggak mau." Phobe menggeleng dan menutupi wajahnya dengan boneka. Sialnya Barta tidak mau kalah, menyingkirkan boneka tersebut dan kembali mengecupnya dari belakang, setengah menimpa tubuh Phoebe yang memiringkan tubuhnya sehingga memunggungi Barta.
"Kenapa, hem? Udah dua hari lho kita nggak cium lama."
"Kalau maksa juga dosa." Phoebe tidak mau kalah. Tiba-tiba Phoebe tidak bisa dikibulin oleh suaminya lagi.
"Kalau nggak berhalangan nggak dosa."
"Bee capek. Malas gerak."
"Emang siapa yang nyuruh kamu lari-larian?"
Phoebe mengerucutkan bibirnya, "Bee lagi nggak pengin dicium lama, tapi kamu maksa."
Barta memutar bola mata, Phoebe terlalu banyak alasan. "Kamu maunya apa? Kita nginap di hotel aja? Mau makan apa? Dimasakin atau dibeliin?" Barta masih berusaha menyodorkan semua kesukaan istrinya. "Besok kita jalan-jalan beli baju adek bayinya lagi."
Phoebe menggeleng pelan, "Bee nggak pengen apa-apa sekarang." Barta meringis, susah sekali bujukin istri kampretnya. Nggak ada hujan, nggak ada badai tiba-tiba berubah pendiam dan mengabaikan suami tercintanya. Dia akhirnya berbaring dan diikuti oleh Phoebe sehingga mereka berdua menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. "Tapi, Bee pengin ikut outbond lusa."
Barta menoleh semakin tidak mengerti dengan pola pikir istrinya. "Kenapa ikut?"
"Bee pengin."
"Jauh. Nggak boleh."
"Bee tetap pergi." Phoebe bersikukuh. "Queen dan mbak Nina juga ikut."
Barta meringis, "Aku nggak ngijinin!"
"Bee tetap ikut!" Phoebe kembali memutar tubuhnya memunggungi Barta. Barta sudah tidak tahan lagi. Dia turun dari ranjang dan membawa ponselnya keluar kamar. Phoebe tidak peduli, tetap pada posisinya dan memejamkan mata.
"Mana Nina?" Tanya Barta langsung ketika sambungan telpon terhubung.
"Apaan dah lo ganggu gue lagi indehoi sadikapapap sama bini tercinta." Stef memutar bola mata.
"Sini bini lo, anjing!" Barta tidak sedang bercanda sekarang,
"Kenapa sih nyariin Nina? Nina bini gue, ada apa-apa ngomong ke gua langsung." Balas Stef masih santai seperti biasa.
Barta menarik nafas dalam-dalam. "Dia abis ngapain bini gue? Bee berubah sejak Nina bawa mereka jalan dua hari yang lalu."
"Oh, itu." Stef terkekeh geli membuat Barta ingin menghajar wajah songongnya. "Kenapa nggak nanya langsung sama bini lo sih? Kan Bee nggak pernah bohong." Saran Stef masuk akal.
"Bini gue susah ngomong, anjir!" Barta mengumpat.
Stef tergelak senang. "Kasian dong nggak dapat jatah preman, hehe."
"Babi lo! Mana, nying!" Emosi Barta di ubun-ubun. Stef tidak membantu, Barta ingin bertanya langsung pada Nina, tapi ponsel Nina tidak aktif.
"Bini gue lagi tepar abis perang bantal sama gue hehe. Enak lho." Stef mempermainkannya.
"Stef, gila! Buruan!"
"Oh, tidak bisa! Urus bini sendiri-sendiri aja. Bee nggak ada hubungannya sama gue dan bini gue. Dia bukan orang ketika di antara kami." Stef semakin ngelantur dan mempermainkan emosi Barta. Punya sableng begini memang tidak membantu, bukannya menyelesaikan masalah malah bikin hati makin memanas.
"Sarap!" Barta memutuskan panggilan secara sepihak.
Barta kembali ke kamar seperti cacing kepanasan. Dia tidka tahu lagi bagaimana caranya menarik perhatian Phoebe. Cewek itu sepertinya sudha tidur pulas, Barta mendengkus dan memnggoyanggoyangkan bahunya.
Phoebe berguman tidak jelas, tetapi Barta tidak mau kalah. Kembali memeluk Phoebe dari belakang dan mengecup wajahnya.
"Bee aku pengin minum susu. Bikinin sekarang." Suruhnya.