Bab 55. Pesimis

61.4K 6.2K 278
                                        

 "Bar, sekarang Bee nggak tenang."

Phoebe memegang dadanya. Mulutnya meringis dan meremas kedua tangannya.

Kemarin-kemarin dia santai saja. Tapi hari ini sangat berbeda karena pengumuman kelulusan dikeluarkan hari ini.

Barta cuek seperti biasa. Yakin kalau cewek itu lulus mengingat bagaimana Phoebe menjawab pertanyaan yang diujinya. Hanya saja dia tidak yakin nilai istrinya tidak melebihi angka enam.

Artinya Phoebe dan Barta tidak jadi ke kebun binatang. Tidak jadi beli boneka panda dan tidak ada acara makan malam romantis.

Sebelumnya Phoebe sudah mencatata semua yang akan mereka lakukan nantinya. Jaga-jaga agar tidak ada yang keluapaan. Cewek itu suka lupa kalau udah di samping Barta, terutama jika sudah dinyamani sama Barta

"Kalau Bee nggak dapat nilai di atas enam gimana?"

"Ya, nggak jadi."

"Yah..." Phoebe melemah. "Bee lulus aja udah sukur." Gumannya. Sekarng baru menyesal tidak menawar nilai waktu itu. Kalau Phoebe ingat tawar menawar, mungkin cowok itu mau memberikan nilai lima atau empat.

Dia jadi tidak percaya diri.

"Kesepakatannya udah begitu." Jawab Barta mengangkat bahu.

"Yaudah..., asal Bee lulus aja kalau gitu. Nggak ngarep lagi nilainya di atas enam." Cewek itu menunduk dan pergi meninggalkan Barta sendirian di ruang tamu.

Barta mengernyit, tidak biasanya Phoebe langsung mengalah seperti ini. Biasanya cewek itu paling bawel, tawar menawar dan menangis kalau Barta bersikukuh.

Sekitar satu jam kemudian, Barta masih duduk santai di sofa. Dia sedang main playstasion makanya betah. Cowok itu menoleh pada jam dinding, sepertinya sudah di sebar di website sekolah.

Dia kemudian membuka website. Mengecek nilai Phoebe terlebih dahulu. Kalau nilainya nggak perlu dicek lagi. Pasti urutan keempat seperti biasa. Citra, Stef, Romeo lalu Barta. Selalu seperti itu, posisi mereka bertiga sering bergantian. Tapi tidak pernah ada yang bisa mengalahkan Citra.

Barta beranjak ke kamar. Dia mengerutkan dahi, sepertinya Phoebe sedang berbicara dengan Arin melalui telpon.

"Iya, ma. Bee nggak tahu nilainya berapa." Ucapnya sedih. "Bee nggak berani buka. Takut kalau ada di bawa enam. Nanti Barta nggak mau ngajakin Bee ke kebun binatang." Curhatnya.

"Kenapa? Barta nggak ngancem?"

Phoebe mengerucutkan bibir. "Barta janji sama Bee. Kalau nilai Bee di atas enam semua pelajaran, nanti Barta ngajak Bee ke kebun binatang, terus beli boneka panda. Pokoknya jalan-jalan seharian."

"Oh, begitu." Arin terkekeh.

"Bee kan pengen jalan-jalan sama Barta, ma. Bee mau satu harian di luar."

"Ajakin Barta dong."

"Kalau nggak mau?"

"Salah kamu kalau nilainya tetap nggak bisa di atas enam."

"Yah, mama." Phoebe sudah pasrah. Arin memberikan nasihat-nasihat lagi, cewek itu mengiyakan dengan lesu.

Barta masuk kamar setelah Phoebe mengakhiri percakapannya dengan Arin. Phoebe menoleh sekilas, lalu membaringkan tubuhnya. Tidak berani lagi meminta pada Barta atau menanyakan nilainya.

"Udah ngecek nilainya? Berapa?" Tanya Barta basa-basi.

Phoebe menggeleng pelan. "Belum." Jawabnya.

"Kenapa?"

His Girlfriend [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang