Bab 39. Benar Satu

65.3K 5.8K 175
                                        


"Tapi ini kan benar satu."

Phoebe protes. Sudah dua malam belajar giat, baru satu pertanyaan yang bisa diselesaikan dengan benar. Itu juga yang jawabannya paling singkat. Tapi sekarang sudah menuntut Barta untuk minum susu.

"Nggak!" Barta tetap menolak.

"Kamu kan udah janji." Elak cewek itu bersikukuh.

"Kamu cuma benar satu!" Jawab Barta tidak terima.

"Tetap aja Bee bisa. Kamu nggak boleh ingar janji." Kata Phoebe bersikukuh.

Barta makin kesal. "Terserah kamu!" Jawabnya akhirnya.

Phoebe tersenyum senang. Dia mendekap pada cowok itu dan mengecup pipinya cepat lalu berlari ke dapur untuk membuat susu untuk Barta. Cowok itu memutar bola mata, susah sekali mengajari cewek itu.

Sekali lagi memandangi semua buku yang berserakan di sana. Meraih kertas soal pertanyaan yang dikerjakan oleh Phoebe. Dia meringis, sebagian besar jawabannya ngelantur. Meskipun ada juga yang hampir mendekati.

Dia menggeleng dramatis. Mimpi apa bisa punya istri sebege itu. Parah maksimal. Seumur hidup Barta mengajarinya, pasti cewek itu tidak akan mampu berada dua atau tiga tingkat di bawahnya.

Barta meringis. Mulai berjaga-jaga jika kelak anak yang dilahirkan Phoebe ikutan bego seperti ibunya. Membayangkan saja membuat cowok itu frustasi. Dia tidak suka orang bodoh. Meskipun bandel dan urakan, tapi otak harus di isi.

"Bar, ini susunya."

Senyum sumringah Phoebe menyambut wajah kecut Barta. Cewek itu mendekat dan mengangsurkan segelas susu putih untuknya.

"Minumnya sedikit. Tergantung kamu sekarang!" Kata Barta tidak terima.

Tapi Phoebe menggeleng tidak setuju. Dia kembali menyodorkan susu tersebut pada Barta. "Minum semua."

Barta meringis, malas berdebat sehingga meneguk cepat. Phoebe sangat senang, bertepuk tangan dan mengecup Barta singkat. Cowok itu memutar bola mata lalu menyuruh Phoebe membereskan buku-buku yang berserakan di sana.

Cowok itu menyandar pada ujung ranjang sembari sibuk dengan tab, mulai sibuk membuat ilustrasi di sana. Phoebe yang sudah selesai dengan pekerjaannya ikut bergabung. Mendekat pada Barta dan memperhatikan tangan cowok itu yang begitu gesit.

"Bar, kamu nggak mau melukis di bahan kanvas?" Tanya Phoebe penasaran.

Cowok itu menggeleng, "Ribet." Jawabnya. Phoebe mengangguk paham, dia sudah menguap tapi tetap bertahan ingin menemani Barta hingga selesai. "Tidur duluan." Suruh cowok itu.

"Mau nungguin kamu." Elak Phoebe menggeleng.

"Aku tidurnya pagi." Jawab cowok itu. "Sekarang kamu tidur duluan!" Cowok itu menghentikan pekerjaannya dan menatap Phoebe tajam.

Akhirnya Phoebe mengalah dan beringsut tidur di samping cowok itu. Dia memeluk kaki Barta sembari tersenyum. Cowok itu tidak merasa terganggu, lebih Baik Phoebe tidur duluan agar dia bisa konsentrasi.

Kebetulan banyak gambar yang harus diselesaikan. Rencananya Barta ingin bersantai selama menempuh ujian kelulusan nanti sehingga dia sibuk menyelesaikan pekerjaannya tanpa menunggu batas waktu.

Sebelum menikah, Barta kadang terjangkit insom, namun sejak ada Phoebe, cowok itu lebih banyak menghabiskan waktu tidur jika berdua dengannya. Phoebe berisik, Barta malas menanggapinya. Kepalanya pusing, bukannya mengerti sekali dijelasin, cewek itu juga keras kepala.

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang