"Lho, kenapa Bee ada di sini? Zen mana? Citra dan Kevin mana?"
Pagi-pagi Phoebe bangun dan langsung heboh. Tentu saja. Dia menemukan dirinya ada di kamarnya bersama Barta. Seingatnya tadi malam dia dan Zen ketiduran di mobil Kevin ketika perjalanan pulang.
"Ck!" Barta berdecak ikut bangun. "Jangan biasain keluar sendiri!" Katanya dingin.
"Kenapa?" Phoebe mengerutkan dahi.
Sedangkan Barta bangun dari pembaringannya. "Kamu keluar tanpa bawa apa-apa! Wajar gak itu?! Kamu nggak ngasih tahu mau pergi kemana! Ponsel ditinggal, dompet ditinggal!" Barta emosi.
Phoebe terkejut. "Maaf." Cicitnya.
Barta mendengkus kesal. "Kalau kamu nggak ketemu sama mereka, gimana cara kamu pulang? Gimana kalau ada orang jahat di luar sana mau celakain kamu? Udah berapa kali diingetin kalau mau keluar bawa ponsel, bawa uang secukupnya."
Semakin mengenal Phoebe, Barta tidak abis pikir tentangnya. Cewek itu lebih polos dan lebih bodoh dari yang diketahui selama ini.
Ternyata dia tidak pernah kemana-mana sebelumnya. Setiap pulang sekolah dia selalu ke rumah sakit di antar taksi langganan. Arin selalu mengingatkannya sebelum keluar rumah, tapi sepertinya tingkat kebodohan cewek itu tidak tertolong lagi.
"Maaf..." Phoebe menunduk ketakutan. "Bee mau makan kerang, tapi nggak nemu-nemu. Jadinya jalan-jalan dibawa taksi. Terus di pasar malam ada banyak mainan, Bee penasaran terus turun. Ternyata ada Citra dan Kevin,"
Barta menjambak rambutnya sendiri. "Terus kenapa nggak suruh Citra atau Kevin nelpon aku?"
Phoebe sudah meneteskan air matanya, secepat mungkin menyeka kasar karena Barta tidak suka pada cewek cengeng. "Bee lupa. Soalnya ada Zen. Bee dan Zen main sampe nggak ingat."
"Alesan kamu banyak!" Barta memandangnya tajam. "Aku nggak mau tahu, kamu nggak boleh lagi keluar rumah tanpa ijin dari aku"
"Kalau Bee kepengen sesuatu tapi kamu nggak mau keluar gimana?" Protes Phoebe mengernyit.
"Nggak mau tahu! Kamu bisa order online!"
"Kemarin Bee pengen makan di warungnya langsung."
"Apa bedanya?" Barta geram.
"Bee juga nggak tahu. Tapi kepengen banget."
Barta menggeram sembari mengepalkan tangannya. "Pokoknya aku nggak suka kalau kamu ngebantah dan susah dibilangin!"
"I-iya. Maaf."
Barta akhirnya bisa menghela nafas lega. "Sekarang mandi sana."
"Nanti malam Bee pengen ke sana lagi." Katanya.
"Nggak boleh!"
"Bee udah janji sana Zen juga."
"Nggak! Kamu nggak boleh keluar rumah selain sekolah. Ini hukuman buat kamu."
"Tapi..."
"Mandi sekarang!!"
Phoebe mengangguk patuh. Dia langsung masuk ke kamar mandi meskipun dia sedang malas mandi. Pikirannya beralih pada janjinya pada Zen tadi malam. Zen pasti kecewa padanya, baru sekali berjanji bertemu lagi tapi sudah dilanggar.
Cewek itu mandi lebih dulu, tapi Barta yang turun duluan untuk sarapan. Cewek itu masih sibuk menyiapkan tas sekolahnya. Dia lupa meletakkan salah satu buku pelajarannya, tadi malam sudah ketiduran. Biasanya juga Phoebe sibuk malam-malam.
Barta heran melihatnya. Dia saja yang cowok bisa rapi, tahu tata letak barang pribadinya, meskipun kalau tidur suka melempar kaosnya. Sedangkan Phoebe sama sekali tidak becus. Buku pelajarannya bisa lari di balkon. Sepatu bisa di dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Novela JuvenilSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)