Bab 54. Basecamp

66.5K 6K 294
                                        



 "Rasanya lega banget." Phoebe memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya setelah masuk ke dalam mobil. Hari ini terakhir ujian, cewek itu tidak memiliki beban lagi untuk selanjutnya.

Hanya menunggu hasilnya saja. Phoebe juga pasrah, yang penting dia sudah berusaha beberapa hari ini.

Lain lagi dengan Barta. Dia duduk tenang di samping cewek itu. Seperti tidak berefek sama sekali tentang ujian yang memabukkan bagi sebagian anak-anak sekolah.

Tentu saja. Banyak yang stress menghadapinya. Sampe ada juga yang kurus karena harus les sana sini. Belum lagi setelah ini, untuk melanjutkan kuliah, harus les lagi agar mencukupi nilai yang ditentukan oleh kampus yang diincar masing-masing.

Kalau Phoebe sama sekali tidak memikirkannya. Dia enggan melanjut. Dia ingin tinggal di rumah saja menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak. Seperti itu katanya pada Barta beberapa hari yang lalu.

"Kita kemana?" Tanya Phoebe mengernyit. Barta membawa cewek itu bukan menuju rumah mereka.

"Basecamp." Jawab Barta singkat. Mereka sudah janjian di tempat biasa untuk terakhir kalinya setelah selesai ujian.

Keempat cowok itu biasa saja, sama sekali tidak menunjukkan kesedihan akan berpisah setelah ini. Mereka tetap ceria seperti biasa, mengumpat dan menjahili satu sama lain. Berbeda dengan cewek yang cengeng. Belum perpisahan sudah nangis-nangisan dan berpelukan ria.

Saling berjanji untuk tidak saling melupakan. Apapun yang akan terjadi jangan pernah lost contact. Saling mengabari, jangan kacang atau keluar dari grup. Pokoknya mereka tetap teman selamanya.

Drama banget. Satu bulan kemudian satu-persatu pasti sudah ada yang keluar grup. Sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga lupa dengan janjinya untuk saling mengabari.

Klasik aja. Sama pacar aja kadang lupa ternyata punya. Karena terlalu senang dengan yang baru dan yang lama dilupakan begitu saja.

Ada saja alasannnya. Lupalah, sibuklah, nggak sempetlah, kartu kena blokirlah, nggak ada sinyallah, ponsel hilang hingga error, dan masih banyak lagi.

Mendingan nggak usah janjian seperti itu. Barta dan ketiga temannya malah terkesan tidak terpengaruh dengan perpisahan tersebut. Meskipun masing-masing tahu bahwa mereka akan semakin jauh nantinya.

Stef sudah pasti nggak bisa kuliah ke luar negeri. Itu anak cita-citanya menikahi dan membahagiakan Nina sejak dari orok. Begitu juga dengan Romeo, cowok itu nggak bisa meninggalkan Queensha. Kemungkinan Romeo melanjut kuliah di salah satu universitas pilihannya di Jakarta. Mungkin UI.

Barta juga begitu. Sebelumnya punya cita-cita kuliah ke luar negeri. Keluarganya juga sudah setuju. Tapi sekarang sudah berbeda, cowok itu memiliki istri dan calon bayi sekarang. Kemungkinan besar tidak bisa kuliah jauh-jauh.

Mungkin juga nantinya cowok itu bekerja sambil kuliah untuk menghidupi keluarga kecilnya. Terutama jika mereka sudah pindah rumah, karena tidak selamanya mereka tinggal di rumah orang tuanya.

"Yang lain udah di sini?" Phoebe berbinar. Ruangan itu sudah penuh suara, ada juga Nina yang bela-belain datang demi Stef.

"Hem." Jawab Barta singkat. Sengaja tidak ngebut di jalan. Khawatir dengan perut Phoebe. Cewek itu suka mengeluh kalau Barta ngebut dikit.

Phoebe langsung berlari ke ruangan dengan senyum lebar. Barta berdecak, hendak melarang tapi cewek itu sudah menghilang di balik pintu.

Barta memicing, Phoebe duduk di tengah-tengah mereka sedang makan kue, pastinya dari Nina. Cewek itu paling rajin kalau ada perkumpulan seperti ini. Stef kan suka makan, jadinya cewek itu harus tetap siap siaga mengamankan perut tunangannya.

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang