Bab 37. Teman

76.9K 5.5K 154
                                        



 "Semangat, Bar."

"Hem."

Phoebe memandang punggung Barta yang semakin menjauh. Cewek itu kembali tersenyum lebar. Dia teramat bahagia sekarang, hubungannya dengan Barta sudah mulai membaik dari sebelumnya.

Cewek itu melangkah semangat sembari bersenandung kecil, wajahnya merona. Ingin berteriak tapi tempatnya tidak pas, dan sekarang masih pagi. Akhirnya dia hanya bisa menyengir-nyengir lebar.

"Bee sepertinya seneng banget."

Cewek itu menoleh, Azalea mengernyit di sampingnya. Phoebe belum melunturkan senyumnya. Dia mengangguk semangat dan memegang kedua pipinya. "Iya." Jawabnya.

Azalea ikut tersenyum senang. "Kenapa?" Tanyanya kepo. "Udah baikan sama Barta ya?" Tebaknya.

Senyum Phoebe semakin lebar, dia kembali mengangguk mengiyakan. "Iya. Bee senang banget." Tambahnya.

Azalea berbinar. "Wah.., Lea ikut senang kalau Bee juga senang." Ucapnya.

"Makasih, Lea." Phoebe berhenti dari langkah mereka yang pelan-pelan di koridor sekolah. Cewek itu tidak bisa membendung kebahagiaannya, sehingga tanpa berpikir dua kali memeluk Azalea di sampingnya.

Azalea terkekeh. Phoebe mudah sekali ditebak. Jika senang wajahnya berseri-seri dan senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Lain lagi jika sedih, kedua matanya berkaca-kaca, bibirnya kecut dan tubuhnya seperti tidak bertenaga.

"Makasih, Lea, udah mau temenan sama Bee. Bee sedih bentar lagi kita lulus nggak bisa ketemu seperti ini lagi." Kata cewek itu langsung sedih.

Azalea tergelak. "Nanti masih bisa ketemu di luar, Bee. Kita bisa bikin janji." Jawabnya menenangkan.

Phoebe mengangguk setuju. "Nanti Lea jangan lupa sama Bee. Jangan sombong."

Azalea semakin tergelak. "Kamu ada-ada, Bee. Mana mungkin Lea sombong. Bee kan satu-satunya teman Lea di sekolah ini."

Nasib orang terkucilkan seperti itu. Sama sekali tidak memiliki teman banyak seperti yang lain. Bukan mereka yang tidak mau berteman dengan yang lain, hanya saja tidak ada yang tahan berteman dengan mereka.

Terutama jika mereka anak rumahan, teman-teman lainnya menganggap mereka tidak gaul. Tidak trendy dan tidak mengikuti zaman.

Seumuran mereka, bukan hal baru lagi seperti dunia malam. Banyak di antara mereka yang sering keluar masuk tempat tersebut. Mereka sering bercerita begitu bangganya di sekolah. Hanya menemani duduk saja, sangat mudah menadapatkan segempok rupiah.

Terkadang bukan itu tujuannya, mereka memang ingin bersenang-senang dan menadapatkan teman baru. Sehingga tidak heran jika di antara mereka mudah sekali mencampakkan teman lama. Menindas yangh tidak bisa di ajak bekerja sama dan mencari mangsa baru.

Phoebe juga pernah dibully. Awal sekolah ingin bergabung dengan teman-temannya yang katanya gaul.Cewek itu sangat senang bisa bergabung dengan mereka, tapi Phoebe sadar bahwa dia seperti dimanfaatkan. Dia dijadikan kurir untuk membawa tas mereka, serta sering disuruh-suruh.

Arin melihatnya ketika sedang menjemput cewek itu. Phoebe membawa tas mereka dipundaknya, sampai dia kesusahan berjalan. Belum lagi beberapa macam makanan di tangannya. Arin geram dan menuntut sekolah tersebut.

Sejak itu Phoebe tidak mau berteman dengan mereka lagi. Arin juga melarang, lebih baik sendiri-sendiri dan langsung pulang jika sudah selesai sekolah.

Phoebe manut, akhirnya dia tidak memiliki teman kompak. Hanya sesekali teman sekolahnya bisa di ajak bekerja sama. Phoebe membatasi diri dari yang lain, dia tidak mau kejadian dulu terulang kembali.

Kelas Phoebe dan Azalea bersebelahan, meskipun kelas Azalea lebih baik satu tingkat dari pada Phoebe tapi cewek itu tetap mau berteman dengannya. "Lea masuk dulu ya." Pamit Azalea setelah mereka tiba di depan kelasnya.

Phoebe mengangguk, dia juga buru-buru masuk ke kelas. Cewek itu tetap mengenakan cardigan sama seperti Azalea untuk menutup perutnya. Satu sekolahan sama sekali tidak pernah menanyainya, mereka terkesan cuek. Sehingga Phoebe tidak terlalu memusingkannya.

Dia kembali tersenyum sambil membuka buku pelajarannya. Untuk sekarang dan selanjutnya, Barta akan mengajarinya belajar di rumah. Kesepakatan mereka tadi malam, Barta melihat nilai-nilai Phoebe sangat anjlok.

Rasanya malu sekali memiliki istri yang memiliki nilai separah itu. Sehingga membuat jadwal akan mengajarinya. Sekarang tulisan tangan cowok itu ada di buku Phoebe. Cewek itu tanpa henti memandangnya.

Dia membuka buku bukan untuk belajar, tapi mau memandangi tulisan suamuinya.


***


Jakarta, 13.11.18


Semar mesem si Bee. Wuakakakkaka

Tapi gatau artinya apa hahahhaha


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang