"Bee, kamu ngapain ke rumah aku?"
Barta terkejut menemukan Phoebe ada di rumahnya. Di ruang televisi sedang menonton sendirian. Phoebe mengangkat kepala, Barta sepertinya baru pulang futsal. Baju olahraganya masih terlihat basah oleh keringat.
"Bee ke sini sama mama." Jawabnya polos.
Barta melotot. Jantungnya berdentam kuat. "Ng-ngapain?"
"Mau ketemu sama mama dan papa kamu." Selesai sudah. Barta bukan cowok bodoh yang tidak mengerti maksud kedatangan mereka. Cowok itu mendelik tajam, Phoebe yang suka menonton kartun kembali serius.
"Mama kamu sekarang dimana?"
Phoebe kembali menoleh ke samping. Cowok itu meraih gelas Phoebe dan meneguk isinya. "Masih ngobrol di ruang tamu."
Barta menghela nafas panjang. "Mama kamu marah?" Tanyanya pelan. "Mama kamu tahu kejadian kemarin?"
Phoebe menggeleng, Barta mengerutkan dahi tidak percaya. Tetapi Phoebe sepertinya tidak peduli. Dia kembali fokus pada layar di depannya. Barta berdecak, cewek itu masih kekanak-kanakan sekali.
"Mas Barta, dipanggil tuan ke ruang tamu." Mereka menoleh. Asisten rumah tangga Barta memanggilnya untuk menghadap kedua orang tua mereka. Dia mengangguk lalu beranjak dari sana meninggalkan Phoebe dan tas olahraganya.
"Bar, Bee ikut. Tadi Bee nggak dibolehin masuk."
"Kamu di sini aja." Jawab cowok itu lalu meninggalkan Phoebe sendirian di sana. Cewek itu cemberut, lalu merogoh isi toples dari dekapannya. Dia hampir menghabiskan keripik pedas setengah toples.
Cewek itu sesekali menoleh pada ruang tamu. Dia sama sekali tidak mendengar apa-apa. Arin tidak memperbolehkannya ikut, wanita itu khawatir jika Phoebe semakin tertekan mendengar diskusi tersebut.
Sekitar satu jam kemudian, barulah Phoebe melihat Arin menghampirinya dengan senyum lembut. "Bee, ayo pulang." Ajaknya.
"Udah selesai, ma?" Arin mengangguk, cewek itu menutup toples dan meletakkan di atas meja. Lalu menghampiri Arin sembari tersenyum. Wanita itu diam, meskipun sudah begini Bee tetaplah anaknya yang ceria.
Arin mengelus kepalanya lembut, lalu mereka keluar dari rumah tersebut. Arin mengambil mobilnya, sedangkan Phoebe menunggu di depan rumah tersebut. Carport di rumah Barta ada di samping, karena bagian depan cukup sempit.
Phoebe menoleh pada kamar Barta, dia gelisah seperti ada yang mengintai. Ternyata benar, cowok itu ada di balik jendela. Phoebe menundukkan kepala, Barta sama sekali tidak menghampirinya. Wajah cowok itu kusut seperti baju yang baru keluar dari mesin cuci.
"Bee, yuk." Arin mengejutkan Phoebe. Cewek itu buru-buru masuk dan mereka meninggalkan rumah tersebut.
"Gimana, ma? Mama ngomongin apa sama mama dan papanya Barta?" Tanya Phoebe penasaran.
Arin menghela nafas panjang. "Kamu dan Barta menikah."
Phoebe terkejut tidak percaya. "Tapi Barta nggak mau, ma. Dia sediri yang bilang sama, Bee."
Arin menghela nafas panjang. Phoebe tidak akan mengerti jika berada di posisi terpaksa mengalah. "Barta mau. Tadi udah setuju sama keputusan."
"Terus, ma?"
"Nanti kamu tinggal di rumah Barta."
Phoebe kembali terkejut. "Di rumah tadi?" Arin mengangguk. "Terus mama tinggal sama siapa? Bee nggak mau ninggalin mama sendirian di rumah." Kedua mata Phoebe sudah berkaca-kaca.
Arin menahan nafas sesaat, dia menoleh sembari tersenyum. "Mama biasanya tugas ke luar kota. Kamu aman ada yang jagain mulai sekarang." Phoebe malah cemberut. "Mama nggak khawatir lagi ninggalin kamu di rumah sendirian." Jelasnya sebagai alasan.
"Terus sekolah Bee gimana, ma?" Phoebe teringat dengan sekolahnya.
"Kamu tetap sekolah. Nanti Barta yang awasin kamu." Phoebe mengerutkan dahi. "Kamu jangan nyebarin ke sekolahan. Cukup kalian berdua aja yang tahu sampai lulus nanti."
Phoebe mengangguk patuh. "Terus nikahnya kapan, ma?"
"Minggu depan."
Phoebe terkejut. "Secepat itu, ma?" Arin mengangguk.
"Kenapa, ma? Barta mau secepat itu?" Arin kembali menghela nafas lagi. Cowok itu tidak akan mau jika tidak dipaksa. Tapi Phoebe terlalu polos sehingga mikirnya jongkok. "Nanti setelah anak Bee lahir. Bee dan Barta akan cerai ya, ma?"
Arin mencengkeram kuat setir mobil. "Nggak, Bee. Kamu dan Barta nggak akan cerai sampai kapanpun. Kalian harus rawat anak kalian nantinya."
"Tapi, ma..."
Arin menggeleng. "Nanti kamu harus nurut sama suami kamu. Jangan bantah perintahnya. Tapi kalau sampai dia nyakitin kamu, kamu harus lapor sama mama." Potongnya cepat.
Phoebe cemberut. "Barta nggak pernah jahatin Bee selama ini, ma." Arin memijit pelipisnya. Yang Phoebe tahu, disakiti itu dengan cara memukul. Bukan dengan cacian atau makian. Dia tidak pernah mendapatkan semua itu dari kecil, sehingga Phoebe langsung ketakutan jika melihat orang yang mulai marah. Dia takut dipukul. "Ma, kenapa Bee dan Barta nggak tinggal sama mama aja?"
***
Jakarta, 26.09.18
Tamat riwayat Barta mulai dari sekarang.
Mama Arin galak tuh.
Jadi, nanti mereka tinggal dimana tuh?
Follow ig ila_dira dan novel.dira
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Fiksi RemajaSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)