Bab 53. Dimasakin!

64.3K 6.4K 279
                                        


            "Besok ujian apa?"

Barta bertanya pada Phoebe yang sedang membuka ranselnya. "Geografi." Jawabnya.

"Ini hafalin dan pelajarin lagi."

Phoebe mengangguk semangat sembari menerima catatan kecil itu lagi. Mata pelajaran yang sudah diujiankan, catatan kecilnya disimpan rapi di lemari buku. Kata Phoebe mau disimpan buat kenang-kenangan.

Terserahlah! Barta tidak peduli, yang penting nilai cewek itu nggak malu-maluin.

"Udah bisa?" Tanya Barta mengernyit.

Phoebe berdehem lalu mengangguk ragu. "Tapi masih suka lupa." Ucapnya. "Tapi, kamu pinter banget, Bar. Semua yang kamu kasih, lebih banyak yang masuk ujian. Bee inget, terus yang Bee lupa itu nggak masuk ujian. Bee seneng banget."

"Sekitar berapa persen yang bisa kamu jawab tadi?" Tanya Barta mengernyit.

Cewek itu mulai gagap. Berdehem tidak yakin lalu meringis. "Nggak tau." Jawabnya menggeleng pelan.

Barta mencibir, sudah menduga akan seperti ini. Untuk menghafal saja susah, apalagi menghitung persentasi. "Kamu nggak pernah belajar. Tiap hari cuma gambar aja, emang kamu bisa jawab semua?" Tanya Phoebe mengernyit. Cowok itu menggangguk santai. "Semua?" Phoebe memekik. "Kenapa bisa?"

Barta meringis. "Semua udah pernah dipelajari."

"Kamu nggak lupa?"

"Nggak."

"Wah, hebatnya." Phoebe semakin kagum padanya. "Kamu suka makan telor setengah mateng gitu beneran bisa jadi pinter?" Phoebe kembali bertanya. Pasalnya Barta suka makan telor ayam atau bebek setengah matang. Kadang dicampur dengan madu murni sehingga baunya tidak begitu amis.

"Belajar juga." Dalam hati Barta makin halu, biar kuat juga.

"Tapi Bee udah belajar nggak bisa-bisa."

"Artinya oon!"

Phoebe cemberut. Mulut suaminya itu sama sekali tidak memiliki saringan. Ngomongnya aja jeblak aja tampa mikir lawan bicara.

"Bee nggak tau kenapa bisa oon gini." Cewek itu sedih dan menundukkan kepala.

"Belajar kamu tuh yang nggak bener. Asal dan nggak mau serius."

"Bee juga serius."

"Kenapa nggak bisa?" Barta berdebat. Menekan Phoebe yang semakin pusing. Cewek itu diam setelah menggeleng. Tidak berani mengangkat kepala lagi, dia menunduk dan pura-pura belajar.

Barta juga diam, dia melanjutkan pekerjaannya. Sekarang Barta sedang menggarap sebuah komik di situs online. Lumayan bayarannya tiap bulan untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Barta tidak bercita-cita jadi pelukis. Semua yang dikerjakannya selama ini hanya kesenangan semata. Meskipun kadang kala harus kejar target karena jadwal penerbitan yang sudah di depan mata.

Sehingga tidak heran jika basecamp tempat mereka berkumpul adalah milik Barta. Cowok itu juga memiliki kafe tempat tongkrongan di belakang sekolah. Tempat Phoebe dan Azalea bertemu setelah pulang sekolah.

Tapi Phoebe tidak pernah tahu. Karena Barta memang jarang ke sana. Dia lebih senang di basecamp, kafenya lebih besar dan juga pelanggannya lebih banyak dari berbagai kalangan.

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang