SUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN!
1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA -
2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA -
3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA -
4. QUEEN (PROSES TERBIT)
ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
Phoebe bergerak hati-hati menyeret selimut dan buru-buru ke sofa. Dia meringkuk di atas sofa dan sesegukan. Berharap Barta keluar dari kamar mandi ketika dia sudah tidur.
Tetapi keinginannya tidak terpenuhi, pintu kamar mandi berderit beberapa saat kemudian sehingga membuat Phoebe semakin gemetaran dan memejamkan mata, dia masih memeluk bonekanya erat untuk menguatkannya. Suara helaan nafas kasar Barta semakin mendekat.
"Pindah! Jangan di sini!" Suruhnya dingin. Phoebe menggenggam erat selimutnya dan pura-pura tidur. "Phoebe!"
Phoebe akhirnya memutar tubuhnya dan menemukan Barta berdiri di sampingnya. Dia menunduk takut-takut dan memijakkan kaki pada lantai marmer yang dingin. Selimutnya dan bonekanya jatuh, Phoebe hanya memungut selimut cepat dan menaiki ranjang.
Dia mengambil di sisi kiri dan memunggungi sisi kanan. Barta masih belum puas menyiksanya, dia memaksa Phoebe berbaring dan menarik tangannya. Phoebe melawan dan berusaha menyembunyian tangan kiri di balik selimut.
"Tangan kamu kenapa?" Barta menahan tangan kiri Phoebe yang berusaha melepaskan diri. Bagian pergelangan tangannya biru dan memerah, Barta menatap Phoebe tajam meminta penjelasan. "Kenapa?"
"Ta-ta-tangan Bee kena spion mobil." Akunya pelan dan kembali menangis semakin ketakutan.
Barta menggeram semakin marah, "Kenapa nggak diobatin?! Dia nggak mau ngobatin kamu?!"
"Nggak apa-apa gimana, hah? Ini tangan kamu memar!"
"Ta-tangan Bee nggak sakit." Phoebe merasa lebih sakit dengan bentakan Barta dari pada tangannya. "Ah, jangan..." Phoebe masih berusaha melepaskan tangannya. "Sa-sakit." Phoebe akhirnya mengaku kalau tangannya sakit.
"Jangan kemana-mana!" Barta turun dari ranjang dan buru-buru pergi. Phoebe bangun dan meraih salah satu boneka panda dari sisinya. Boneka panda pemberian Bintang masih tergeletak di lantai dekat sofa tadi.
Phoebe menunggu Barta kembali. Meskipun dia takut, tetapi Phoebe khawatir menunggu hampir dua puluh menit suaminya belum kembali.
Dia duduk di ujung ranjang dan memeluk bonekanya erat. Menunggu sekitr lima belas menit lagi akhirnya Barta kembali dengan tergesa-gesa. Phoebe takut, kedua matanya kembali meneteskan air mata kala Barta menghampirinya.
Nafas Barta tidak beraturan, dia meletakkan sebuah kantong kresek dan potongan es dalam wadah di sampingnya lalu meraih tangan istrinya. Phoebe masih berusaha menarik tangannya dari genggaman Barta, tetapi suaminya itu tidak mau mengalah.
"Sa-sakit." Cicit Phoebe bersusah payah.
Barta membungkus potongan es padat pada handuk kecil dan mengompres pergelangan tangan kiri Phoebe. Tangan Barta terus bekerja tanpa mengeluarkan suara, secara berangsur-angsur tubuh Phoebe rileks.
Pergelangan tangan Phoebe jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekitar lima belas menit kemudian Barta mengembalikan handuk kecil itu ke dalam wadah bersama potongan es. Dia mengeluarkan isi kantong keresek yang dibawanya tadi yang ternyata perban elastis.
Dengan telaten membungkus tangan Phoebe yang sakit. Cewek itu kembali meneteskan air mata haru, buru-buru menyeka kasar agar Barta tidak marah.
"Bee minta maaf, Bar." Ucapnya pelan.
Barta tidak menjawab, dia membawa wadah ke kamar mandi dan keluar beberapa saat kemudian. Phoebe memandang gerak-gerik Barta kembali bergabung dengannya.
"Ayo, tidur." Kata Barta serak.
"Bar, maafin Bee." Phoebe berusaha mendapatkan permintaan suaminya.
"Hm." Jawab Barta pelan.
Phoebe belum puas, dia menunduk sedih dan tidak ketakutan lagi. Bintang memang tidak mengetahui tangannya sakit karena Phoebe mengelak dan mengenakan baju lengan panjang sehingga tidak kelihatan.
"Ha-hari ini kak Bintang u-ulang ta-tahun." Cerita Phoebe tanpa diminta. "Te-terus kak Bintang datang ke sini ngajakin Bee jalan-jalan. Biasanya kami jalan-jalan seharian tiap tahun di ulang tahun Bee dan kak Bintang." Phoebe menyeka wajahnya kasar. "Bee nggak hati-hati, Bee mau fotoin gedung, terus mobil lewat. Kak Bintang nyelamati Bee, tapi tangan Bee kena kaca spionnya dan posel Bee kelindes."
Barta mendengkus. Sekarang sudah tahu semua ceritanya meskipun Phoebe tidak melanjutkannya lagi. Tetapi dia diam, ketika Phoebe kembali berbicara.
"Ta-tadi tangan Bee nggak sakit. Makanya Bee nggak minta di obatin sama kak Bintang." Lanjutnya lagi. "Terus kak Bintang ganti ponsel Bee. Beli yang baru."
"Hem." Barta berdehem. "Ayo tidur, kamu harus istirahat." Ajaknya tidak sekeras sebelumnya.
"Ka-kamu nggak marah lagi sama Bee, kan?" Tanya Phoebe hati-hati.
"Marah!" Jawab Barta cepat sehingga Phoebe kembali sedih. "Kamu kalau kemana-mana selalu ceroboh! Ini salah satunya! Gimana tadi kalau ketabrak? Kamu nggak ingat lagi bawa adek bayi kemana-mana?" Barta menunjukkan pergelangan tangan Phoebe.
"Ma-maaf." Cicitnya. "Bee nggak kepikiran sejauh itu. Maaf, Bar, Bee janji akan selalu jagain adek bayinya. Nanti Bee nggak ceroboh lagi, akan selalu ingat perut Bee."
Barta menghela nafas berat. "Udah, ayo tidur."
Phoebe cemberut, "Kamu jangan marah sama Bee lagi."
"Iya, nggak." Wajah Phoebe lega, dia memaksa senyum di wajahnya sehingga Barta merasa lebih baik sekarang. Phoebe mendekat dan memeluk Barta erat sembari mengecup pipi kiri suaminya.
***
Jakarta, 29.01.19
Huuu, udah baikan lagi kan hahaha
Pibi emang terhalu hahaha
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.