Bab 49. Di Belakang Sekolah Yang Engkau Janjikan

68.4K 6.5K 244
                                        


            "Apa pengertian tenaga kerja?"

Phoebe terkejut. Barta baru saja duduk di kursinya, Phoebe sibuk menyiapkan roti selai, tapi cowok itu memberikan pertanyaan ujian pagi-pagi begini. Tangan Phoebe berhenti mengolesi selai, dia berdehem panjang. Langsung ingat kesepakatan tadi malam, cowok itu benar-benar langsung mengujinya.

"Tenaga kerja adalah..." Phoebe melanjutkan mengolesi selai, lalu meletakkan di piring Barta. Cowok itu berdehem, sesekali mengoreksi kalimat berantakan Phoebe.

Phoebe berhenti mengunyah, dia minum untuk mendorong makanan di mulutnya. Sedangkan cowok itu makan santai sembari menggoyang-goyangkan kakinya.

"APBN dan APBD singkatan dari apa?"

"APBN singatan dari Badan..." Barta berdehem. "Eh, Anggaran Pendapatan Belanja Negara." Phoebe menelan kembali roti di mulutnya yang sudah halus. "APBD adalah Badan... Angaran Pendapatan Belanja Desa. Eh... Daerah."

Barta manggut-manggut. Cukup puas untuk pagi ini. "Cepet makannya, udah mulai siang." Ucapnya memperingati.

Phoebe mengangguk, lalu buru-buru makan. Barta tidak bertanya lagi, memberikan ruang untuk cewek itu segera bersiap-siap ke sekolah.

"Udah." Katanya.

Barta mengangguk, "Nanti kalau kelas kamu nggak belajar lagi, temui aku di belakang sekolah ya."

"Ngapain?" Phoebe mengerutkan dahi curiga.

"Belajar." Phoebe menyengir lebar ketika cowok itu memutar bola mata. Phoebe mengira mau ngapain aja.

Keduanya sudah selesai sarapan, Phoebe mengekor dari belakang Barta. Cowok itu sama sekali tidak memberikan celah untuk Phoebe. Di perjalanan seperti ini masih memberikan pertanyaan untuknya.

Bukan satu pelajaran saja. Kadang Barta bertanya Bahasa Indonesia, lalu pelajaran geografi. Pertanyaannya singkat, tapi bagi Phoebe jawabannya sangat menyiksa.

Cowok itu sengaja memberikan catatan kecil dengan pengertian yang cukup singkat serta mudah dipahami. Meskipun sama sekali tidak pernah dipelajari, namun cowok itu jauh lebih paham darinya.

Azalea heran melihat Phoebe yang sangat serius sembari menunduk. Cewek itu mencegat dan mengajak ke kantin setelah istirahat. Namun Phoebe menolak, dia kembali menghafal sembari kembali ke kelas setelah dari toilet.

Phoebe duduk di kursinya, sama sekali tidak merasa terganggu dengan teman sekelasnya yang teramat berisik seperti biasa. Dia juga mengabaikan mereka penasaran dengannya. Phoebe menjawab seadanya lalu kembali menghafal.

"Guru matematika nggak masuk. Kita disuruh belajar sendiri-sendiri!!"

Phoebe mengangkat kepala. Sorakan demi sorakan menyambut kabar gembira tersebut. Kelas mereka memang tidak belajar lagi, hanya disuruh mengulang pelajaran yang kemungkinan besar diujiankan.

Phoebe langsung beranjak dari kursinya keluar dari kelas. Dia tersenyum lebar untuk menghampiri Barta di belakang sekolah.

Jantungnya berdentam kencang, bukan untuk pertama kalinya bertemu dengan Barta. Mereka bahkan sudah menikah, tapi tetap saja jantungnya seperti itu. Lebih parah, perasaan Phoebe semakin dalam pada cowok itu.

Phoebe mencari-cari di belakang sekolah. Dia menoleh ke belakang, anak-anak berhamburan pergi ketika bel sekolah berbunyi.

Cewek itu berharap Barta tidak membiarkannya sendiri. Meantapkan hatinya bahwa cowok itu serius mengajarinya seperti kemarin, hingga rela menulis catatan kecil untuknya.

His Girlfriend [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang