Bab 90. Batu

50.5K 6.7K 514
                                        

Urutan terbully part I

Setip -

Barta, Romeo, Kevin -


Bingung mau urutan apalagi wuakakka.

Masukkannya dong, gengs.


***

Phoebe sedang cemberut melihat anak bayinya tidur pulas setelah disusui. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu tampak damai dengan nafas cepat namun teratur di atas ranjang yang sama dengan mama mudanya.

"Ma, Bee nggak suka di sini. Bee pengin sama Barta." Kata Phoebe protes pada mamanya yang sedang sibuk merapikan peralatan mandi cucunya. "Bee penginnya kumpul sama Barta dan adek bayi."

"Kamu jangan mikir lain-lain dulu. Sekarang tidur, nanti adek bayinya bangun, kamu nggak bisa tidur lagi." Arin tidak menghiraukan pertanyaan Phoebe.

"Ma, kapan Barta datang?" Phoebe kembali bertanya.

Arin menarik nafas kasar, "Dia nggak akan datang!"

Phoebe menghapus air matanya kasar yang mengalir tiba-tiba di pipinya. "Mama kenapa bawa kami pergi? Kenapa nggak ngasih tau sama Barta? Kalau Barta nyariin Bee sama adek bayi, gimana?"

"Bukannya dia seneng kalau kalian nggak ada?" Sindir Arin. Emosi Arin akhir-akhir ini lebih labil. Dia seperti bukan mama yang dikenal oleh Phoebe selama ini. Arin cenderung kasar dan ketus padanya.

Phoebe terdiam sambil sesegukan, tangan kanannya kembali menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir. "Barta berpesan sama Bee, agar Bee nungguin Barta pulang. Barta cuma bentar aja dikampus ngasih surat cuti. Barta mau jagain Bee sama adek bayi. Barta juga udah janji mau bawain Bee bunga." Protesnya pelan.

"Kamu percaya?" Arin kesal pada anak semata wayangnya. Dua minggu sejak Phoebe keluar dari rumah sakit, Arin sangat sibuk mengurus anak dan cucunya. Phoebe yang masih kekanak-kanakan tidak mengerti dan tidak mau belajar mengurus anaknya.

"Bee selalu percaya sama Barta. Barta suami Bee."

Emosi Arin meluap mendengar kalimat polos dari bibir Phoebe. "Kamu harusnya juga percaya kalau perjanjian konyol yang kalian sepakati itu adalah kenyataan!" Katanya dengan suara tertahan agar tidak mengganggu bayi mungil yang masih pulas di atas ranjang. "Barta akan menceraikan kamu setelah bayinya lahir! Apa mama salah dengar malam itu?"

Phoebe tidak berani menjawab, dia menggeleng takut-takut dan terus mengusap wajah menyedihkannya.

"Terus apa lagi yang kamu harapkan dari dia? Apa yang kamu pikirkan selama ini? Kamu berharap dia akan menarik kembali ucapannya dan menerima kamu serta anak kamu?" Phoebe tidak berani menatap mamanya. "Apa yang ada di pikiran kamu? Kenapa kamu masih mau mengemis padanya agar dia mau nerima kamu?" Tanya Arin serius. "Jangan percaya sepenuhnya sama laki-laki, Bee! Mama udah sering bilang sama kamu sejak dulu! Jangan dekat-dekat dengan laki-laki selain Bintang, tapi kamu langgar aturan dari mama!"

"Maaf, ma. Bee cinta sama Barta."

"Apa balasan dari cinta kamu?" Potong Arin cepat. "Kamu malah dimanfaatkan!" Arin menggeleng frustasi. "Mama percaya kamu sama Bintang selama ini karena mama tahu bagaimana Bintang. Dia nggak sama seperti laki-laki lain. Dia tidak pernah memanfaatkan kamu meskipun dia suka sama kamu!"

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang