"Selamat pagi, cantik."
"Hem..." Phoebe menggeliat dan meleguh dalam tidurnya, membuat Bintang tersenyum sembari mengelus rambut Phoebe yang sudah panjang.
"Ayo, bangun. sudah siang."
"Kak.., dingin. Jangan ganggu, Bee." Racaunya tidak jelas. Memutar tubuhnya memunggungi Bintang dan menarik selimut hingga menutupi kepala.
"Udah siang, lho. Cewek nggak boleh bangun siang. Nanti rezekinya dipatok ayam."
Phoebe cemberut. "Nggak mau."
"Kamu nggak sekolah, hem?"
"Nggak mau. Bee capek. Bee mau tiduran aja di sini." Jawabnya membuat Bintang terkekeh.
"Kalau begitu kamu mandi dan makan dulu. Setelah itu pergi jalan-jalan sama kakak. Hari ini kamu bebas mau pergi kemana aja."
Phoebe langsung bangun. "Beneran, kak?"
"Hem..." Bintang mengangguki.
"Mau, mau. Bee mau jalan-jalan sama kakak."
Bintang tersenyum tipis sembari mengelus kepalanya. "Kamu mandi dulu, terus makan ya."
Phoebe cemberut. "Bee mau digendong, kak." Pintanya manja.
Bintang tergelak, dan memutar tubuhnya memunggungi Phoebe. "Ayo, cantik. Mandi dulu."
Segera mungkin Phoebe menempel di punggung Bintang sembari tergelak senang. Mengangkat salah satu tangannya tinggi-tinggi dan mengkomando Bintang agar mempercepat langkahnya ke kamar mandi.
Bintang menurunkannya di atas wastafel kamar mandi. Terlebih dahulu mengatur suhu air untuk Phoebe. Phoebe duduk bersila di samping wartafel dan masih mengantuk, dia menguap lalu menggaruk-garuk kepala.
Setelah selesai mengatur suhu air, Bintang kembali pada Phoebe. Dia menyalakan kran air dan membasuh tangannya. Bekas tetesan air ditangannya dicipratkan ke wajah Phoebe. Langsung membuat Phoebe menjerit karena dngin.
Bintang tergelak lagi, senang melihat Phoebe sudah kembali seperti biasa. Tidak seperti tadi malam, Phoebe sangat kacau dan menangis. Bintang menungguinya sampai pagi agar Phoebe tidak ketakutan lagi sendirian.
Bintang keluar dari kamar mandi, memberikan waktu untuk cewek itu membersihkan tubuhnya. Phoebe masih bermalas-malasan. Di sini dia bebas ingin apa aja. Tidak seperti di rumah Barta. Berendam agak lama di bak mandi Barta langsung menyelonong masuk dan mengomelinya.
Phoebe cemberut. Suaminya memang kejam. Tidak ada rasa kemanusiaan memberikannya kelegaan sedikitpun. Phoebe kesal, kenapa harus ingat di saat dia tidak ingin memaafkannya.
Phoebe capek diperlakukan seperti itu. Semua dilarangh, tidak ada juga rasa kepercayaan bahwa cewek itu mampu dan baik-baik saja.
"Bee, jangan lama-lama berendamnya. Kasian adek bayinya."
Phoebe tersentak. Dia mengerjap banyak lalu cemberut. Sekarang Bintang melakukan hal yang sama seperti Barta. Akhirnya dia bangun dari bak mandi dan melilitkan bathrome di tubuhnya.
Tidak. Bintang dan Barta berbeda. Bintang menyuruh Phoebe menyudahi mandinya karena takut kondisi kandungannya. Dia dokter, lebih ahli dan paham. Tidak seperti Barta yang tidak mau kerepotan menjaga Phoebe jika cewek itu sakit.
Sudah pernah terjadi, ketika Phoebe menangis karena kejamnya perlakuan sepupu-sepupunya. Barta marah-marah di kamar meskipun akhirnya mereka mencari makan di luar. Membawanya ke dokter untuk mengobati lukanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Ficção AdolescenteSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)