Eighty Two

38 15 2
                                    

Saat aku sedang asik menemani Yoori mengerjakan tugas, ponselku tiba-tiba berdering, aku langsung melihat siapa yang menelepon. Aku pun mengerutkan dahiku heran dan tidak mengangkatnya. Ada apa ia meneleponku semalam ini?

"Nuguya? Kenapa kau tidak mengangkatnya?" Tanya Yoori saat ia mendengar ponselku terus berdering.
"Sekretarisku." Jawabku polos.

Ia langsung menatapku dengan sinis dan menyeramkan, seakan tatapannya itu sudah bersiap membunuhku. Aish, wanita sangat mengerikan jika tamu bulanannya datang.

"Tenang saja, mungkin ia hanya mengingatkanku tentang rapat besok." Jawabku sambil menggenggam tangannya.
"Apakah sopan meneleponmu saat sudah larut malam begini? Jika itu penting, tidak bisakah ia mengirimkan email? Karyawan macam apa yang menelepon sampai dua kali di malam hari?" Celotehnya panjang lebar dengan sangat sinis dan menatapku. Wah, dia seperti kesetanan.

"Sudahlah, aku juga tidak mengangkatnya. Dia tidak akan meneleponku lagi, Yoori-ya." Ujarku menenangkan. Tapi sialnya ponselku berdering lagi dan menunjukkan wanita itu meneleponku.

Yoori tiba-tiba menutup laptopnya dengan kasar dan mengulurkan tangannya padaku. "Biar aku yang menerima telepon itu." Ucapnya dengan serius.

"Aniya, aku saja." Jawabku.
"Kalau begitu, besarkan suara speakernya. Aku ingin mendengar." Pintanya dengan sarkas, aku pun seperti terhipnotis untuk menuruti perintahnya.

"Sajangnim, apakah kau sudah tidur?" Tanya wanita itu saat aku menjawab teleponnya.
"Belum. Ada apa?" Tanyaku sedikit tegas dan melirik ke arah Yoori.
"Ahh.. aku hanya ingin mengingatkanmu. Jangan lupa untuk makan malam dan jangan tidur terlalu larut. Kau harus sehat, Sajangnim." Jawab wanita itu sambil terkekeh, aku membulatkan mataku sempurna. Apa-apaan ini?

"Matikan sekarang juga!" Pinta Yoori dengan tegas, aku segera mengakhiri teleponnya dan mematikan ponselku.

"Yoori-ya, percay-" Ucapanku terpotong.
"Mwoya?! Apa yang baru saja aku dengar? Dia itu sekretarismu atau baby sittermu?! Perhatian sekali." Ucapnya dengan nada yang naik dan matanya berkaca-kaca.

"Yak! Kenapa kau menangis?" Tanyaku khawatir.
"Aku.. aku sudah stress dengan tugas-tugas bajingan ini, ditambah lagi perutku yang sakit karena tamu bulanan! Dan kau malah bertelponan dengan wanita lain di sampingku! Aku ini siapamu?!" Bentaknya padaku. Aku tidak bisa berkata-kata dan langsung memeluknya erat. "Aku lelah!" Ucapnya lagi sambil terisak.

Ah, aku lupa sekali jika ia sedang datang bulan. Wanita sangat sensitif jika sedang datang bulan, kan?

"Mianhae. Kau mau aku memecatnya?" Tanyaku dengan lembut, ia hanya menggeleng dan terus menangis.
"Perutmu sakit sekali? Kau ingin aku bawakan air hangat?" Tanyaku lagi, aku sangat mengkhawatirkan dirinya. Namun ia terus menggeleng dan menangis.

"Kembalilah ke kamarmu, Taehyung-ah. Tinggalkan aku sendiri." Pintanya dengan suara yang parau, aku yang merasa bersalahpun hanya bisa mengangguk lemah dan meninggalkannya sendirian. Aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa.

Sekarang aku mengerti kenapa awalnya ia tidak mau berpacaran denganku, mungkin ia menghindari perpecahan seperti ini. Ia tidak ingin menghancurkan hubungan karena cemburu buta macam ini. Ia sangat tidak ingin kehilanganku, begitupun juga aku.
.
.

Yoori's POV

Semenjak perdebatan semalam, aku benar-benar merasa bersalah kepada Taehyung. Aish, jinjja. Ada apa denganku? Kenapa aku bisa semarah itu padanya?

Aku beranjak meninggalkan kamarku, aku mencari Taehyung di kamarnya namun tidak ada. Aku beranjak ke dapur dan melihatnya sudah memakai pakaian kerjanya, sedang mencuci piring.

Can we?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang