Seventy Seven

39 15 0
                                    

Sekarang aku bersama Taehyung dan Jimin sedang bertemu Seolhyun, entah mengapa Jimin ingin bertemu dengannya. Padahal aku sangat khawatir dengan keadaan Jimin, ia mungkin masih trauma dengan kejadian itu.

"Wah, jinjja. Kalian bertiga masih saja hidup." Sapa wanita itu saat melihat kami bertiga yang datang mengunjunginya. Aku berdecak kesal saat melihat tingkahnya, apakah dia sama sekali tidak menyesal?

Aku melirik Taehyung yang sudah memancarkan kemarahan, tangannya mengepal menahan emosi.
"Seharusnya kau yang mati." Ujar Taehyung sambil melemparkan pandangan sinis.
"Taehyung-ah." Tegurku sambil menatapnya datar, aku tidak mau ada keributan disini.
"Mian." Jawabnya singkat. Aku langsung menggenggam tangannya, aku berharap ini bisa meredakan emosinya. Ia pun menggenggam tanganku juga.

"Apakah kau betah dirumah baru mu ini?" Tanya Jimin dengan nada mengejek dan mengeluarkan senyum sinisnya.
"Michin saekki. Seharusnya sekarang kau sudah berada di taman pemakaman." Jawab Seolhyun dengan tawa meledek, membuatku sangat ingin menamparnya.

"Aku penasaran. Kau ini sebenarnya kenapa? Apa yang telah kita lakukan sehingga kau begitu kejam pada kami?" Tanyaku, akhirnya aku membuka suara. Aku sama sekali tidak tahan melihat tingkahnya.
"Kau ini pura-pura polos atau apa? Sudah jelas kalian yang membuatku menderita!" Bentaknya padaku. Aku terkekeh saat mendengar jawabannya. Kami? Kami yang membuatnya menderita?

"Kau ini berbicara seolah-olah kau adalah korbannya." Jawabku sambil berdecak kesal. "Jadi kau marah perihal Jimin membuka status asli mu? Wahh, jinjja. Jika memang benar karena itu, kami bertiga minta maaf." Ujarku sambil menatap matanya. Aku melihat sorot kemarah pada matanya.

"Mworago? Kenapa kau yang minta maaf?" Tanya Taehyung, ada nada terkejut dalam suaranya. Aku melirik Jimin yang sedang menatapku sinis. Aku hanya menarik napasku dalam.

"Tidak seharusnya kau mencelakai kami. Ayolah, itu hanya masalah anak SMA belaka. Kau tidak seharusnya memperpanjang masalah ini. Lihat? Dirimu sendiri yang menjadi sengsara." Ucapku melanjutkan.
"Mwo? Hanya masalah anak SMA? Ya, Min Yoori! Semua karena Jimin! Gara-gara aku di DO dari sekolah, aku tidak bisa menggapai cita-citaku!" Betaknya padaku, nada bicaranya benar-benar membuatku muak.
"Aish, jinjja! Dirimu sendiri yang membuatmu menderita!" Teriak ku kesal. Detik berikutnya Taehyung menarik pinggangku dan mendekatkan diriku padanya, ia mengusap punggungku membuat diriku jauh lebih tenang.

"Majja. Semua yang dikatakan Yoori itu benar adanya, Seolhyun-ah. Jika kau tidak berulah, aku tidak akan ikut campur dengan urusanmu. Tapi kau membuat murid lain di sekolah menderita, kau juga membohongi Taehyung dan Yoori. Aku sangat tidak terima. Aku hanya berharap, selama di penjara kau bisa sadar dengan apa yang telah kau perbuat selama ini." Ucap Jimin angkat bicara, suaranya yang lembut sangat membuatku tenang.
"Kau ini mabuk? Yang ada aku bisa gila selama di penjara! Seharusnya kau mati, Park Jimin-ssi! Semua itu karena kau!" Bentak Seolhyun. Aish, wanita ini apakah tidak bisa berbicara dengan halus?

"Sudahlah. Aku lelah berbicara baik-baik denganmu. Lagi pula aku kesini hanya ingin melihatmu menderita. Lebih baik kau mati dan membusuk saja di penjara. Tidak ada yang menginginkanmu hidup. Seharusnya kau mencoba membunuh dirimu sendiri, bukan membunuhku." Ucap Jimin lagi yang nampaknya sudah geram, aku membulatkan mataku saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jimin.

"Eoh, jika aku atau Jimin yang mati, keluarga kami akan menangis dan merindukan kami. Sedangkan kau? Tidak ada yang memedulikanmu walaupun kau mati. Susullah kedua orangtua mu di alam baka." Ujar Taehyung menambahkan. Wah, jinjja! Mereka berdua kasar sekali! Aku sangat tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut teman-temanku.

Andwae, aku tidak bisa diam saja. Keadaan sudah semakin kacau. Kata-kata itu tidak baik untuk mental Seolhyun. Aku harus segera menghentikannya.

Aku pun berjongkok di sebelah Jimin, agar badanku sejajar dengannya yang terduduk di kursi roda. Masih tersirat sorot kemarahan di matanya. Sangat menyeramkan.
"Jimin-ah, ku rasa kita harus pulang sekarang. Kau perlu istirahat, kau ingin cepat sembuh, kan? Kita pulang, eoh?" Ujarku sambil tersenyum dan mengelus lengannya agar ia tenang. Dan itu berhasil, ia pun mengangguk mengiyakan ajakanku.

Can we?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang