Sepanjang perjalanan Yoori hanya menangis, membayangkan apa yang terjadi dengan Taehyung dan Jimin. Bahkan ia tidak peduli orang-orang memperhatikannya, yang dia inginkan adalah sampai di Seoul secepatnya.
Pemberitahuan di kereta berbunyi bahwa sebentar lagi kereta itu akan segera di Seoul. Menyadari hal itu, Yoori segera mengambil ponselnya dan menghubungi Yoongi.
Yoongi yang sedang duduk terdiam di ruang tunggu rumah sakit itu berdecak kesal.
"Pasti anak ini benar-benar nekat datang ke Seoul." Batinnya. Namun detik berikutnya ia segera mengangkat telepon adiknya itu."Eoh?" Sapanya dengan datar.
"Taehyung dan Jimin, mereka ada di rumah sakit mana?" Tanya Yoori to the point.
"Ya! Apa kau benar-benar nekat? Dimana kau?" Balas Yoongi yang bertanya balik.
"Stasiun Seoul." Jawab Yoori dengan datar. Yoongi hanya menghembuskan napas pasrah.
"Tunggu disitu. Ini sudah tengah malam, jangan dengan bodohnya kau naik taksi kesini." Ujar Yoongi dan segera menutup teleponnya. Yoori pun mengecek jam di ponselnya, benar saja. Ini sudah jam 12 malam."Jungkook-ah, kau ingin bertanggung jawab?" Tanya Yoongi sambil menatap Jungkook yang sedang berdiri memandangi Jimin.
"Ne?" Jawab Jungkook yang bingung dengan pertanyaan Yoongi.
"Jemput Yoori di stasiun Seoul sekarang." Ucap Yoongi."Ne?"
"Mwo?"
"Yoori?"
Begitulah kaget semua orang mendengar nama Yoori disebut."Cepat, adikku bisa kedinginan." Pinta Yoongi lagi.
"Ne, hyung." Jawab Jungkook dan segera berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan menuju stasiun Seoul."Yoori nuna sudah datang, Hyung. Kalian tunggu lah dengan tenang, aku akan mencari bajingan yang menyakiti kalian bersama Nuna." Ucap Jungkook dengan dirinya sendiri, kini dirinya dipenuhi dendam. Melihat keadaan Jimin dan Taehyung membuatnya ingin sekali menabrak orang itu dengan truk besar.
.
.Yoori's POV
Aku menuruti kata Oppaku, aku tidak nekat naik taksi malam-malam. Aku menunggu Oppa menjemputku disini.
Udara malam ini sangat dingin, membuatku menggigil. Aku pun merapatkan mantel yang sedang ku pakai. Ah, jinjja. Mungkin benar kata Sungjae, aku bisa mati membeku jika aku nekat pergi hanya menggunakan piyama.
"Nunaa!" Panggil seseorang ketika aku sedang terdiam di kursi tunggu. Suaranya sangat familiar. Aku segera mencari sumber suara itu. Aku membulatkan mataku saat melihat siapa yang menjemputku.
"Jungkook-ah!" Kagetku, kini mataku sudah berkaca-kaca. Aku bangkit dari dudukku dan berlari ke arah Jungkook. Tapi kaki ku lemas sekali ketika mengingat saat Jungkook mengabariku tentang keadaan Jimin dan Taehyung. Aku hampir saja tersungkur ke lantai, namun Jungkook dengan sigapnya menahan tubuhku dengan tangan kekarnya itu.
"Jungkook-ah.." isakku saat melihat dirinya. Aku juga melihat matanya mulai mengeluarkan air mata. Ia segera memelukku dengan erat.
"Mianhae, nuna. Aku tidak bisa menahan air mataku." Ucapnya sambil terisak. Mendengar tangisannya, aku juga semakin sesak. Ingin sekali aku menghilang dari bumi ini sekarang juga."Nuna, kita harus menguatkan diri. Ayo kita lihat keadaan mereka." Ucap Jungkook melepas pelukannya padaku, dan membantu ku menyeimbangkan tubuhku. Aku mengangguk dan menghapus air mataku.
Sekarang aku dan Jungkook sudah berada di mobilnya, menuju rumah sakit dimana Jimin dan Taehyung dirawat.
"Apa yang terjadi, Jungkook-ah? Kecelakaan apa yang kau maksud sampai membuat mereka dalam keadaan koma? Bukankah kalian sedang di asrama panti sosialmu? Taehyung sempat meneleponku." Tanyaku membuka pembicaraan, aku sangat penasaran dengan hal itu. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri untuk mendengar jawaban dari Jungkook.

KAMU SEDANG MEMBACA
Can we?
Fanfiction"Yoori-ya, menikahlah denganku." Pinta Kim Taehyung. . "Kau akan bahagia jika bersamanya?" Tanya Kim Namjoon. . "Aish! Michin! Kenapa jadi seperti ini?!" Kesal Min Yoori. . . . NB: satu chapter tidak lebih dari 2000 kata. WARNING!! TERDAPAT BEBERAPA...