Fifty

43 14 0
                                    

"Hyung?!" Ucapku kaget saat melihat orang ini berada di sini. Jujur saja, aku juga takut saat melihatnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, hyung?" Tanya ku lagi.
"Tadi aku mencari mu di dalam, tapi pelayanmu bilang kalau kau belum pulang. Dan aku melihatmu di sini." Jawab nya sambil duduk di sampingku. Dengan refleks aku sedikit menjauhan tubuhku darinya.

"Ini, obati lukamu dulu." Ujarnya sambil menyodorkan kotak P3K kepada ku. Aku terkejut dengan perilakunya. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambilnya dan mencoba mengobati luka mu sendiri.
"Ne, gomawo hyung." Jawabku. Aku sedikit kesulitan saat mengobati luka ku karena aku tidak bisa melihat letak pasnya dimana.

Tiba-tiba ia merebut obat merah yang sedang ku pegang.
"Sini biar ku bantu." Ucapnya dan mengobati lukaku. Aku sedikit meringis kesakitan saat diobati.
"Aigoo, aku lupa kalau kau tetap adik kecil untukku." Ucapnya lagi sambil terkekeh. Aku terdiam.

"Taehyung-ah, mianhae. Jeongmal mianhae. Tidak seharusnya aku melakukan ini padamu. Melihatmu seperti ini ternyata juga melukai perasaanku. Aku jadi seperti menyakiti diriku sendiri." Ujarnya sambil terus mengobati luka ku.
"Ne, hyung. Gwenchana. Aku mengerti kau sangat marah. Jika aku jadi dirimu, aku juga sangat marah." Jawabku.

Aku mendengar ia terkekeh kecil dan berkata, "Entah mengapa aku bodoh sekali. Padahal aku juga pernah ada di posisimu. Aku mabuk dan aku berciuman dengan wanita lain, tentu saja itu menyakiti Yoori. Aku pernah menyakitinya." Aku hanya diam, seakan menyuruhnya terus berbicara.
"Aku menyesal telah memukulmu. Jika kau tidak bisa memaafkanku, tidak apa-apa. Aku sudah menyiksamu." Lanjutnya.

Aku tersenyum mendengarnya, "Hyung, seharusnya aku yang meminta maaf. Fisik ku memang sakit saat kau pukul, tapi hati mu lebih sakit saat kau tau bahwa wanita yang kau cintai di sentuh oleh bajingan sepertiku." Jawabku dan sedikit meneteskan air mata. Aku benar-benar merasa sangat bersalah. Aku menyesal.

"Sudahlah, Taehyung-ah. Aku sudah memaafkanmu. Aku harap kau bisa menjadikan kejadian ini menjadi sebuah pelajaran." Ucapnya.
"Hyung, ma-" pembicaraanku terpotong olehnya.
"Sudah selesai. Wajah tampanmu akan segera sembuh." Ucapnya sambil terkekeh. Dan keadaan menjadi hening dan ssngat canggung.

"Apa kau mencintai Yoori?" Tanya nya tiba-tiba. Aku hanya mengangguk dengan ragu. "Aku sudah menduganya." Lanjutnya.

"Aku sangat mencintainya. Aku mencintai Yoori layaknya seorang pria dan wanita." Ucapku.
"Arasseo. Tapi ku mohon jangan membuatnya bimbang, biarkan ia memilih antara aku dan kau. Dan jangan sesekali kau mencoba merebutnya dariku, itu akan menyakitinya." Jawabnya sambil menepuk pundak ku, membuatku menunduk. Apa aku seorang pengganggu?

"Aish, jinjja. Aku sangat kesal padamu." Ucapnya sambil menatapku.
"Aku tau. Sudah ku bilang kau pantas membenciku." Jawabku.
"Aniya. Aku sangat kesal denganmu, tapi entah mengapa aku tidak bisa membencimu." Ujarnya sambil tersenyum, aku balas senyumnya.

"Taehyung-ah, aku rasa aku harus pulang sekarang. Kau istirahatlah." Ujarnya sambil bangkit dari duduknya.
"Ah, ne hyung. Kau bisa mampir ke rumahku kapan saja." Jawabku sambil menyusulnya berdiri. Namun tiba-tiba ia memelukku.

"Sekarang aku tau kenapa aku tidak bisa membencimu." Ujarnya dalam pelukan.
"Waeyo?"
"Karena kau tetap adikku. Adik kecilku yang harus ku jaga sampai kapanpun." Jawabnya. Aku sungguh terharu mendengarnya, secara otomatis senyuman di wajahku langsung mengembang.
.
.

Kebesokan harinya, aku bangun dari tidurku. Merasakan nyeri di wajahku.

"Ah, aku lupa. Ini ulah Namjoon hyung. Aish, si ceroboh itu." Ujarku sambil memegangi wajahku. Namun aku teringat bagaimana ia memperlakukan ku dengan perhatian. Aku terkekeh mengingat saat ia mengobati wajahku. Hari ini suasana hatiku cukup membaik.

Can we?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang