Husein keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana sudah ada kedua putra dan menantunya. Di tambah Alan yang menangis di gendongan Avran. Sudah beberapa hari ini Alan selalu menangis bahkan tanpa alasan. Membuat Ratu, Avran dan seluruh penghuni rumah kalang kabut dan susah untuk membujuk Alan.
"Alan nangis kenapa lagi, Avran?" tanya Husein. Terbesit rasa tidak tega melihat anak dan menantunya yang begitu kerepotan.
"Nggak tau, Yah. Tiba-tiba Alan nangis kayak gini," jawab Avran.
"Ratu dimana?"
"Lagi buatin susu untuk Alan, Yah."
Tak lama Ratu keluar dari dapur dengan botol susu di tangannya. Ratu langsung mengambil alih Alan dari sang suami. Membujuknya untuk minum susu.
"Alan, sayang, minum susu dulu, ya, nak."
Alan menggeleng kuat. Tangisannya semakin kencang. Bahkan hampir terjatuh dari gendongan Ratu.
"Aduh, gimana ini, Mas? Alan masih nangis," ujar Ratu pada Avran.
"Sayang, jangan nangis lagi, ya. Ayah janji akan beliin Alan robot-robotan. Tapi Alan jangan nangis lagi." Avran juga berusaha membujuk sang putra namun hasilnya tetap sama. Alan tidak juga berhenti menangis.
"Mbak, coba di bawa Alan ke halaman belakang. Mungkin Alan suntuk," ujar Elena.
"Benar juga," gumam Ratu. "Ya udah, Mas, Yah, aku bawa Alan ke halaman belakang dulu, ya. Siapa tau setelah dari sana Alan nggak rewel lagi."
Ratu berjalan ke halaman belakang rumah dengan Alan yang masih rewel di gendongannya. Sampainya Ratu membawa Alan ke kolam ikan Koi peliharaan Husein. Warna dari ikan Koi dan melihat mereka berenang cukup membuat tenang. Dan benar, Alan tidak serewel tadi lagi. Tangisnya sudah berhenti dan lurus menatap ke arah ikan-ikan Koi tersebut.
"Nah, gini dong. Alan, kan, sudah besar, jadi jangan rewel-rewel lagi, ya." Ratu mengelus kepala Alan yang berkeringat.
"Nana, Nana." Tiba-tiba Alan menunjuk ke arah jendela kamar Athena.
"Itu kamar Kak Athena, sayang."
"Nana! Nana!"
"Alan, jangan teriak-teriak, sayang."
"NANA! NANAAAA!"
Alan nangis lagi. Kali ini lebih rewel dari sebelumnya.
"Alan, kok malah nangis lagi?" bingung Ratu. Dia melihat Alan terus menunjuk ke arah jendela kamar Athena. Seketika perasaan Ratu mendadak aneh. Sudah hampir siang tapi gadis itu belum keluar juga dari kamar.
"Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini, ya?" gumam Ratu mengelus dadanya.
Ratu kembali ke dalam rumah. Alan masih rewel membuat Husein, Avran, Arvin, Elena dan Hana menoleh.
"Alan masih rewel, Ratu?" tanya Hana.
"Iya, Mi. Padahal tadi udah tenang. Tiba-tiba rewel lagi."
"NANA! NANA! NANAAAAA!!!"
"Tuh, Mi, daritadi teriak-teriak manggil Athena sambil nunjuk ke arah jendela kamar Athena. Aku juga bingung kenapa Alan tiba-tiba seperti ini," ujar Ratu.
"Athena? Tumben dia belum keluar kamar. Udah hampir siang loh, Mi," ujar Husein melirik jam tangannya.
"Iya, ya, perasaan Mimi kok jadi nggak tenang gini, ya, Yah?"
"Sama, Mi, aku juga ngerasain hal yang sama," sahut Ratu.
"Mimi ke kamar Athena, ya. Kalian makan aja dulu." Hana bangkit menuju kamar Athena. Sampainya Hana langsung mengetuk pintu kamar putrinya tersebut.
"Athena, bangun sayang, sudah siang. Athena," panggil Hana namun tidak ada sahutan dari dalam. Dada Hana semakin bergemuruh, merasakan perasaan yang tidak enak.
Hana kembali mengetuk dan memanggil anak gadisnya. "Athena, bangun sayang. Anak gadis nggak baik bangun siang loh. Athena."
Masih tidak ada sahutan dari dalam. Hana memutuskan untuk membuka pintu tersebut dari luar. Perlahan Hana mendorong pintu yang tidak terkunci tersebut.
"Athena, Mimi masuk, ya."
Suasana yang gelap menyambutnya. Hana membuka pintu tersebut lebih lebar dan berjalan masuk.
"Athena, sayang ayo ba—" ucapan Hana terhenti diikuti langkahnya. Matanya membulat melihat Athena tergeletak di lantai kamar yang dingin. "ATHENA!!"
Hana langsung menghampiri Athena. Membalikkan tubuh gadis itu dan semakin terkejut saat melihat hidung Athena sudah mengeluarkan banyak darah.
"Athena, bangun sayang! Athena!" Hana menepuk pipi Athena. Berharap anak gadisnya akan merespon dan membuka mata. Namun Athena tak kunjung sadar.
"AYAH!! AVRAN!! ARVIN!!" Hana berteriak memanggil Husein dan kedua putranya.
Mendengar teriakkan Hana membuat mereka yang sedang menikmati makanan berhenti dan saling pandang satu sama lain.
"Itu Mimi manggil kita, Yah?" tanya Arvin memastikan.
"Yah, sepertinya ada masalah," ujar Avran.
"AYAH!! AVRAN!! ARVIN!!"
terdengar lagi teriakan Hana. Segera mereka bangkit, menaiki tangga menuju kamar Athena.
"Ada apa, Mi— ATHENA!" Husein langsung masuk dengan mata membulat melihat Athena di pangkuan Hana dengan tak sadarkan diri.
Avran, Arvin, Ratu dan Elena juga tak kalah terkejutnya melihat kondisi Athena saat ini.
"Sayang, bangun sayang. Athena," ujar Husein juga berusaha membangunkan Athena namun tak berhasil.
"Yah, kita bawa Athena ke Rumah Sakit, Yah. Mimi takut terjadi sesuatu sama Athena," Hana sudah menangis melihat keadaan putrinya yang dapat dibilang mengenaskan.
Husein mengangguk. Lantas menggendong Athena menuju mobilnya.
"Ayah sama Mimi duluan aja. Aku sama Ratu nanti nyusul," ujar Avran lalu beralih pada Arvin yang sudah menyiapkan mobilnya. "Vin, kamu ikut. Jagain Ayah sama Mimi."
Arvin mengangguk. "Iya, Bang. Ayo, sayang." Arvin menarik tangan Elena dan masuk ke dalam mobilnya.
Husein langsung melajukan mobilnya diikuti mobil Arvin dan Elena di belakang.
Kepala Avran menoleh pada Alan—putranya yang masih rewel di gendongan sang istri. Seketika Avran langsung paham alasan kenapa Alan bisa serewel ini. Dan alasan itu tertuju pada Athena.
///////
Sampainya Husein langsung berteriak memanggil suster dan perawat di Rumah Sakit tersebut. Dengan sigap mereka langsung membawa Athena ke UGD. Hana langsung memeluk sang suami sambil menangis.
"Athena, Yah. Anak Mimi," tangis Hana.
"Mimi yang tenang. Kita berdoa semoga Athena baik-baik saja," hibur Husein.
Arvin juga merasa terpukul melihat kondisi adik semata wayangnya. Perasaan cemas dan gelisah langsung menggelayutinya.
Elena yang melihat Arvin risau mencoba menghiburnya. Memberikan semangat dan juga harapan bahwa Athena akan baik-baik saja.
///////
~I hope you like this my Story~
Pemberitahuan!! kalau hari ini DESTINY akan update dua part!!
Kapan satu lagi partnya update masih secret loh ya, hehehe...
Jadi pantengin terus DESTINY;)
See you next Chapter^^
Author sayang kalian;*
Salam,
RatihRahma
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Teen Fiction"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)