Di rooftop Dewa masih menghisap rokok di tangannya. Menenangkan pikiran yang tadi sempat berkecamuk di kepalanya. Entah kenapa perasaannya aneh saat melihat Athena pingsan tadi. Seperti ada yang menekan dadanya kuat. Sesak.
Dewa mengambil ponselnya yang bergetar di saku celananya. Melihat sebuah pesan masuk.
Athena: Wa, aku udah sadar. Aku gak apa-apa. Jadi kamu gak usah khawatir.
Athena: Terimakasih karena mau peduli dan bawa aku ke UKS:)
Dewa menghela napas lega. Mendongak menatap langit cerah. Dan seutas senyum tipis terlihat di wajahnya.
Syukurlah, batinnya.
Sedangkan di UKS Irene dan Naomi berdiri di samping kanan dan kiri Athena. Memperhatikan Athena yang masih duduk di atas brankas.
"Lo sih ceroboh. Jadi gini kan? Makanya kalo jalan tuh liat-liat dulu, apa ada bola terbang ke arah lo atau enggak," omel Irene setelah Athena sadar beberapa menit yang lalu.
"Iya sorry. Gue juga mana tau kalo bola basket itu suka sama gue? Sampe nimpuk gue lagi. Sakit tau.." Athena memajukan bibirnya seperti anak kecil. Mengusap dahinya yang sedikit masih terasa nyut-nyutan.
Irene menghela napas.
"Yang sabar ya, Nak. Nasib terkadang memang lebih kejam," ujar Irene mengelus kepala Athena.
"Iya. Kasihan ya jadi, Na," lirih Athena mengikuti kekonyolan Irene.
"Iya. Kasihan banget."
Naomi melihat keduanya aneh. Setelah terkena bola basket sepertinya otak Athena sedikit geser dan jadi gila seperti ini. Belum lagi Irene yang juga ikut-ikutan gila.
Ia hanya bisa menghela napas berat. Prihatin dengan keadaan keduanya.
"Na, kepala lo masih sakit?" tanya Naomi. Sepertinya saat ini hanya dia yang normal diantara kedua temannya.
"Udah gak apa-apa," jawab Athena. "Yuk ke kelas. Bentar lagi bel."
Athena berdiri dari brankas di bantu Irene. Ketiganya keluar dari UKS menuju kelas. Langkah ketiganya berhenti saat melihat Abi bicara dengan salah satu teman sekelas mereka. Cowok itu tidak sendirian, melainkan bersama temannya.
"Kak Abi?"
Abi menoleh. Ia langsung menghampiri ketiga cewek itu, terutama Athena. Dapat mereka lihat ada raut khawatir yang tergambar jelas di wajah cowok itu.
"Na, lo gak apa-apa? Gue denger lo pingsan kena bola basket," ujar Abi dengan nada khawatir.
Athena menggaruk kepalanya sembari cengengesan.
"Iya, Kak. Gue terlalu ceroboh gak liat bola basket terbang ke arah gue."
Abi mengulurkan tangannya menyentuh kening Athena. "Masih sakit?" tanyanya lembut.
Athena menatap Abi. Ia tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Udah gak apa-apa," jawab Athena. Entah kenapa rasanya Abi bersikap beda kali ini padanya. Dia terlihat begitu... Perhatian?
Bukan hanya Athena. Malah Irene dan Naomi juga merasakan hal yang sama. Selama mereka bersekolah di SMA Trisatya, belum pernah sejarahnya mereka lihat Abi begitu pedulinya pada seorang cewek. Karena Abi memang terkenal karena dia tidak mudah untuk di dekati apalagi sama cewek. Cowok itu selalu menjaga jarak dari lawan jenisnya, kecuali keluarganya.
Mata Athena langsung tertuju pada seorang cowok dengan kemeja seragamnya yang di keluarkan dari celana. Berjalan santai dengan kedua tangan di masukan dalam kantong celana. Walaupun cowok itu berjalan membelakanginya namun Athena bisa langsung tahu siapa dia.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Novela Juvenil"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)