Tangan itu terulur dari balik selimut. Menggapai sebuah benda persegi yang sejak tadi berbunyi. Dengan keadaan masih mengantuk, Athena mengangkat panggilan yang entah dari siapa.
"Halo?" jawabnya dengan suara serak sembari mengucek mata. "Siapa?"
"Ini gue, Dewa."
"Saya Athena. Salam kenal," ujar Athena masih belum sepenuhnya sadar.
"Lo masih tidur?"
"Iya nih, masih ngantuk banget," jawah Athena ngaco.
"Ya udah, Gue pergi lagi."
"Oke."
Sambungan telepon terputus. Athena kembali terlelap. Tapi tunggu, ia yang mimpi atau yang menelepon tadi benar-benar Dewa?
Wait! Apa tadi itu benar-benar Dewa?!
Athena kembali bangun dan menyambar ponselnya. Melihat panggilan masuk.
Dewanya Athena🌹
Itu benar-benar Dewa!
"Aiiisshh!" Athena mengacak rambutnya yang berantakan. Melompat dari kasur dan berlari keluar kamar.
"Jangan lari-lari, Na!" tegur Hana yang sedang menyiapkan sarapan di ruang makan.
"Mimi! Lihat Dewa nggak?" tanya Athena.
"Hm? Dewa kesini? Mimi nggak tau."
"Aduuhh!" Athena kembali berlari keluar rumah.
"DEWA!!" teriaknya kencang. Athena terdiam di tempatnya, tidak menemukan Dewa. Apa dia sudah pergi?
"Aargh! Bego! Bego banget sih!" kesal Athena pada dirinya sendiri.
Kenapa juga tadi ia tidak sadar saat Dewa meneleponnya?
Athena berjongkok seperti anak kecil. "Dewa," rengeknya dengan bibir mengerucut ke depan dengan mata berkaca-kaca. Persis seperti anak kecil yang ingin menangis.
"Ngapain lo jongkok di situ?"
Athena tersentak mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Lantas ia menoleh ke belakang, melihat Dewa yang menatapnya dengan kening berkerut.
"Dewaaa!!" Athena langsung memeluk Dewa.
"Heh, lo kenapa?" tanya Dewa heran mendapatkan serangan tiba-tiba seperti ini.
"Huaaa! Aku pikir kamu marah sama aku! Aku minta maaf, aku nggak tau yang nelfon tadi kamu!"
Dewa menghela napas. Ternyata cuma masalah tadi?
"Ya udah, nggak apa-apa. Gue juga nggak terlalu mikirin." Dewa melepaskan pelukan Athena yang terasa mencekiknya.
"Bener kamu nggak marah?"
"Iya,"
"Bener?"
"Iya, Athena. Gue nggak marah." Dewa mengusap air mata Athena. "Udah, nggak usah nangis lagi. Masa udah gede masih nangis," cibir Dewa.
"Emang kalau udah gede nggak boleh nangis? Nangis itu lumrah kalau kita lagi sedih tau."
"Iya, iya, tau. Udah nggak usah nangis. Malu di liatin orang. Dikirain ntar gue ngapa-ngapain lo."
Athena menghapus air matanya dan tersenyum. "Ayo masuk." Athena merangkul lengan Dewa masuk ke rumah.
"Tungguin aku ya," ujar Athena.
"Cepetan. Ntar kita telat sekolah."
"Nggak apa-apa. Kan kita sekarang pekan olahraga. Jadi nggak apa-apa telat dikit."
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Ficção Adolescente"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)