DESTINY-10

3.5K 318 4
                                        

"Seperti kata pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya. Jangan memandang seseorang dari luarnya saja. Orang-orang tidak akan pernah tahu seperti apa kita. Yang mengetahui tentang diri kita hanyalah kita sendiri."

–AthenaWiatamaHusein–

///////

Dewa melangkahkan kakinya turun dari rooftop. Selesai dari ruang BK Dewa langsung ke rooftop dan bolos pelajaran sampai pulang. Ia tidak mood untuk masuk ke dalam kelas dan menunggu sekolah benar-benar sepi.

Cowok itu berjalan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Langkahnya memelan saat menangkap sosok gadis yang berdiri di depan kelasnya. Gadis itu menunduk sembari memain-mainkan kakinya.

Mendengar langkah kaki mendekat membuat kepala gadis itu mendongak dan tersenyum melihat sosok Dewa dari kejauhan. Gadis itu berdiri tegak. Matanya memperhatikan Dewa yang masuk ke dalam kelas dan mengambil tasnya. Ia tidak memalingkan sedikitpun perhatiannya pada Dewa. Bahkan pergerakan kecil pun ia perhatikan tanpa berkedip.

Dewa berjalan keluar dengan ekspresi dingin seperti biasa. Menghiraukan Athena yang sejak tadi memperhatikannya. Langkah Dewa terhenti saat tangannya tiba-tiba di cekal dari belakang. Dewa menoleh menatap tak suka pada Athena yang menyentuhnya tanpa izin.

"Lepas," kata Dewa datar.

Athena diam. Ia kemudian menarik tangan Dewa membuat cowok itu sedikit kaget. Athena menarik tangan Dewa tanpa cowok itu tahu kemana Athena akan membawanya.

"Lo apa-apaan sih!" ujar Dewa menyentakkan tangannya dan terlepas dari Athena. Dewa langsung berbalik hendak pergi, namun langsung dicegah oleh Athena. Cewek itu kembali menarik Dewa dengan lebih kuat supaya cekalannya tidak lepas lagi.

"Lepasin woi!" teriak Dewa namun tidak di dengar oleh Athena. Seolah tuli dengan teriakan Dewa.

Ternyata Athena membawa Dewa ke UKS. Cewek itu langsung mendudukkan Dewa di salah satu brankas di ruangan tersebut. Kening Dewa mengerut menandakan ia bingung kenapa Athena membawanya kesini?

Dewa memperhatikan Athena yang sedang mencari sesuatu di lemari. Setelah dapat, cewek itu kembali duduk di sebelah Dewa dengan kedua tangan memegang kotak P3K.

"Aku obatin luka kamu," kata Athena mengambil kapas dan obat merah.

"Nggak usah. Gue nggak butuh." Dewa hendak berdiri. Athena langsung menarik tangan Dewa sehingga cowok itu kembali duduk di tempatnya semula.

"Bisa diem nggak? Aku cuma pengen obatin luka kamu supaya nggak infeksi!" tegas Athena. Dewa sempat tertegun. Ternyata cewek di depannya ini bisa tegas juga?

Perlahan tangan Athena terulur, mengobati luka di sudut bibir Dewa. Sebelah tangannya memegang dagu Dewa dan mulai telaten mengobatinya.

Dewa sempat meringis saat lukanya di sentuh.

"Tahan bentar," ucap Athena.

Dewa menatap Athena karena nada suara cewek itu berubah menjadi lebih lembut. Dewa diam saat matanya terpaku pada wajah Athena yang begitu dekat dengannya. Wajah serius yang membuat Dewa seolah tidak ingin melepaskan tatapannya walaupun hanya sedetik. Dewa juga sempat melihat tatapan cewek itu yang begitu mengkhawatirkannya.

Di lihat lebih dekat Athena memang cantik dan manis. Mata bulat dengan bulu mata lentik, hidung mancung, bibir merah muda yang alami, di tambah dengan rambut coklat dan kulit putih bersih. Siapapun tidak akan menolak pesona gadis itu. Tidak akan dan Dewa yakin itu.

Selesai mengobati luka di wajah Dewa, Athena menatap Dewa yang ternyata juga tengah menatapnya. Pandangan keduanya saling beradu. Sontak Athena terpaku saat matanya dan Dewa bertubrukan. Mata coklat yang indah membuatnya seketika terdiam. Sekilas ia dapat menangkap sebuah celah dimana mata itu banyak menyembunyikan sesuatu yang tidak Athena mengerti. Seperti kesedihan, lelah, hampa, kekosongan dan sebagainya. Entahlah, mungkin itu hanya perasaannya saja.

Dewa masih menatap mata Athena. Seolah waktu berjalan begitu lambat dari biasanya. Dewa tenggelam dalam sebuah lautan yang diciptakan oleh Athena. Dengan cahayanya, Dewa dapat merasakan bahwa Athena berbeda.

"Kenapa?"

Athena mengerutkan keningnya bingung. "Maksudnya?"

"Kenapa lo baik sama gue?"

Athena diam beberapa saat. Kemudian kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan senyum. Senyum tulus yang Dewa tangkap.

Athena mendekatkan wajahnya pada Dewa membuat cowok itu refleks memundurkan kepalanya. Entah kenapa sesuatu dalam tubuhnya tiba-tiba bergejolak aneh saat ini. Sesuatu yang begitu terasa beda.

"Karena aku pengen jadi temen kamu," jawab Athena pelan masih dengan senyuman di wajahnya. Jawaban tanpa ragu yang Dewa dengar.

Cewek itu kembali menarik kepalanya. Menyusun kembali obat-obatan ke dalam kotak. Dewa masih menatap Athena tidak mengerti. Kenapa cewek itu mau menjadi temannya? Sedangkan orang-orang berusaha untuk menjauh darinya.

"Kenapa lo pengen jadi temen gue?" tanya Dewa.

Athena menatap Dewa lalu berpikir. "Mmm... entahlah. Mungkin karena kamu orang baik?" Athena mengedikkan bahunya.

Dewa berdecih. "Gue orang baik? Nggak usah sok tau lo!"

"Aku bukannya sok tau." Athena menghela napas. "Jujur, ya, sejak pertama kita ketemu aku tuh emang pengen jadi temen kamu. Aku nggak peduli orang-orang ngomong apa tentang kamu. Karena aku percaya bahwa kamu orang baik. Seperti kata pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya. Sama halnya seperti kita, jangan memandang seseorang dari luarnya saja. Orang-orang tidak akan pernah tahu seperti apa kita. Yang mengetahui tentang diri kita hanyalah kita sendiri."

Dewa terdiam. Menatap semakin dalam pada Athena.

"Aku nggak keberatan dimusuhi satu sekolah karena deket sama kamu. Aku malah seneng, karena aku bisa tau mana temen yang real dan mana temen yang fake. Aku gak butuh banyak temen kalo ujung-ujungnya cuma manfaatin doang. Ninggalin pas kita lagi jatuh-jatuhnya. Lebih baik aku punya temen satu yang selalu mengerti dan selalu ada di saat aku butuh."

Dewa semakin terdiam di buatnya. Kata-kata Athena tiba-tiba menyentaknya begitu saja. Apa yang di katakan gadis itu membuatnya tidak bisa berkata-kata.

Athena kembali tersenyum. Tangannya terulur merapikan rambut Dewa yang terlihat berantakan.

"Aku tau kamu orang baik, Wa. Makanya aku bersikeras untuk jadi temen kamu," kata Athena.

"Aku emang gak tau alasan apa yang membuat kamu jadi seperti ini. Tapi aku akan selalu khawatir dan cemas sama kamu. Karena gunanya temen adalah selalu ada di saat apapun keadaan kita. Dan aku pengen ngelakuin hal itu untuk kamu. Selalu ada di saat kamu jatuh dan butuh uluran tangan, maka aku akan melakukannya. Aku akan mengulurkan tangan di saat orang-orang menyimpan tangan mereka."

Athena menurunkan tangannya dari kepala Dewa. Lalu menyentuh luka di pelipis dan sudut bibir Dewa.

"Satu hal yang harus kamu tau, kapanpun kamu butuh aku, aku akan selalu ada untuk kamu. Aku janji!"

Athena menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf V dengan senyuman manis. Melihat itu membuat sudut bibir Dewa perlahan terangkat. Hatinya menghangat mendengar kata-kata tulus Athena. Membuatnya yakin, bahwa masih ada harapan untuknya.

///////

~I hope you like this my Story~

See you next Chapter^^


















Salam,

RatihRahma

DESTINY [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang