Di gelapnya pantai yang di terangi cahaya bulan tanpa bintang, Dewa mengeratkan pelukannya pada Athena saat angin berhembus. Mereka masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
Athena semakin lemah seperti ini. Tangannya meremas sweater rajut yang ia kenakan. Ia masih terdiam dengan posisi yang sama. Seperti tidak ada tenaga untuk bergerak sama sekali.
"Athena," panggil Dewa membalikan tubuh Athena menghadapnya.
Dewa menatap Athena yang menunduk. Pundak gadis itu bergetar menandakan bahwa dia menangis dengan suara yang di tahan. Dewa mengangkat dagu Athena agar menatapnya dan tangannya yang bebas mengenggam tangan Athena yang terkepal. Berusaha memberikan kehangatan pada gadis itu.
"Tatap gue," suruh Dewa.
Athena menatap Dewa dengan mata berkaca-kaca. Perlahan tangannya menangkup kedua pipi Athena. Menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya.
"Gue minta maaf udah buat lo cemas sama gue. Gue minta maaf karena gak angkat telfon lo ataupun balas pesan lo. Gue minta maaf kalo gue baru bilang..."
Dewa menghentikan ucapannya. Mendekatkan wajahnya dengan Athena dan menyatukan kening mereka. Sehingga Dewa dapat menatap mata indah Athena walaupun di kegelapan malam.
"Happy birthday, Athena Wiatama Husein," lanjut Dewa berbisik namun jelas di dengar oleh Athena.
Athena terdiam dengan tatapan lurus pada mata Dewa. Dengan jarak sedekat ini, tak bisa di pungkiri lagi bahwa sekarang jantungnya berdegup kencang mendengar suara khas Dewa yang berat dan juga... Seksi?
Dewa menjauhkan kepalanya namun ia tidak bergeser dari posisinya.
"Lo tau alasan kenapa gue baru ngucapinnya sekarang?"
Athena menunduk dan perlahan menggeleng.
Dewa menyelipkan beberapa helai rambut Athena ke belakang telinga seraya mengangkat dagu gadis itu supaya menatapnya.
"Karena gue gak mau jadi orang pertama yang ngucapin."
"Ke-Kenapa?" tanya Athena gugup.
Dewa tersenyum tipis. "Setelah pertama, pasti ada kedua, ketiga dan selanjutnya. Gue pengen jadi yang terakhir karena gue gak mau setelah gue ada orang lain."
Athena semakin mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Dewa. Ia masih belum paham.
Dewa merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kalung dengan liontin bulan sabit dan bintang. Mata Athena terpana melihat kalung itu yang bersinar saat di terpa cahaya bulan. Begitu cantik.
Dewa mendekat, memasangkan kalung tersebut di leher Athena. Gadis itu sempat menahan napas saat dirinya begitu dekat dengan Dewa. Tangannya sampai meremas sweater rajutnya untuk menahan gejolak yang semakin menggila dalam dirinya.
"Selamat ulang tahun... Dan maaf udah buat lo khawatir," lirih Dewa tulus.
///////
Di atas pasir yang menggelitik kaki di temani suara ombak dan aroma air laut yang menenangkan, Athena bersandar di pundak Dewa dengan pandangan ke arah bulan yang bersinar terang di langit malam. Gadis itu menekuk kakinya, memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang begitu lembut menerpa wajahnya. Bersama Dewa ia selalu merasakan perasaan nyaman dan hangat secara bersamaan.
"Aku pikir kamu benar-benar lupa dengan hari ini," ucap Athena.
Dewa melirik Athena yang begitu nyaman bersandar di pundaknya. Kembali mengalihkan pandangannya ke arah laut di depan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Novela Juvenil"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)