Dengan balutan gaun cantik dan elegan, Athena berdiri di depan cermin. Gaun indah berwarna putih silver dan high heels dengan warna senada. Rambutnya di gerai setelah di rias oleh penata rias yang melakukan tugasnya untuk hari ini. Penampilannya semakin cantik di tambah anting yang juga berwarna senada dengan gaunnya.
Athena berbalik melihat pantulan dirinya dari belakang melalui cermin. Sejak tadi ia tidak henti-hentinya untuk tersenyum. Hari ini adalah hari spesial dan hari yang paling di tunggu-tunggu. Di tambah dengan cuaca hari ini yang cerah dan sangat mendukung.
Suara ketukan pintu mengalihkan antensi Athena dari mengagumi dirinya sendiri sekaligus kerja tangan perias hari ini.
"Na, lo udah siap?" Mega membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Mengamati Athena sambil tersenyum. "Wah, bidadari darimana nih?" tanya Mega menggoda dengan kedua tangan bersedekap.
"Gue cantik ya?"
Mega langsung memperlihatkan kedua jempolnya. "Cantik banget! Kalo kayak gini sih gue bisa pastiin Dewa gak akan berpaling hati mah."
Athena tersenyum mendengarnya. Sekali lagi ia melihat dirinya di pantulan cermin.
"Yuk ke ruangan Bang Arvin dulu. Sebelum acaranya mulai kita foto-foto dulu sama yang punya acara."
"Yuk!"
Athena dan Mega mengunjungi ruangan dimana saat ini Arvin berada. Saat masuk sudah ada keluarga dari pihak laki-laki yang berkumpul. Tepat di tengah-tengah sofa, Arvin di apit oleh Hana dan Wisnu—kakeknya. Arvin tampak sangat tampan dan gagah memakai seragam pilotnya.
"Cieee... yang gugup!" ujar Athena menggoda Arvin seraya terkekeh.
"Na, jangan goda Abang kamu. Gak liat itu wajahnya pucat?" Avran menghampiri Athena. Ikut menggoda Arvin. Dia Terkekeh melihat tatapan tajam Arvin padanya dan Athena.
"Iya ya, Bang. Kemarin aja gak sabar katanya. Gak bisa tidur lah. Sekarang malah pucat gini." Athena masih sangat gencar menggoda kakak keduanya itu.
Sedangkan orang-orang yang berada di sana ikut terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat Avran dan Athena begitu senang menggoda Arvin.
"Kalian gak ngerasain sih," ujar Arvin berdecak kesal.
"Abang lebih dulu ngerasain, Vin," ujar Avran yang membuat Arvin semakin berdecak kesal.
"Mimi..." Akhirnya Arvin mengadu pada Hana yang duduk di sampingnya. Merengek seperti anak kecil. Membuat orang-orang disana seketika tertawa melihat tingkah Arvin.
"Vin, jaga image kamu," tegur Husein setelah tawanya reda. "Ntar di ketawain sama Alan," ujarnya melirik Alan di gendongannya. Sudah rapi dan tampan dengan setelan jasnya. Mirip seperti ayahnya sendiri—Avran Wiatama Husein.
"Oom nangis..." ujar Alan menjulurkan lidahnya mengejek Arvin. Lagi semua orang tertawa melihatnya.
Ketukan di pintu membuat semua orang di sana menoleh. Seseorang yang merupakan salah satu dari karyawan yang bekerja untuk pernikahan Arvin masuk. "Mas Arvin, sebentar lagi acaranya akan di mulai."
Wisnu berdiri menepuk pelan pundak cucunya. "Ayo kita keluar."
Arvin menarik napas lalu menghembuskannya pelan. Melihat Arvin masih gugup, Athena menghampiri. Mengelus pelan pundak kakak keduanya dengan senyum manis dan menenangkan.
"Saat gugup ataupun tidak percaya diri, tutup matamu dan berpikir jernih. Sebut ayah dan ibu, maka kau akan bisa melewati rintangan dan merasakan perasaan yang lebih tenang seperti air mengalir dengan lembut. Kau akan menjadi dirimu dan kemenangan akan selalu di pihakmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Novela Juvenil"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)