DESTINY-07

3.5K 300 0
                                        

Dengan sepiring siomay di tangannya, Athena menyusuri pandangannya untuk mencari meja kosong. Matanya dengan teliti mencari tempat supaya ia dan teman-temannya bisa duduk dan makan dengan hikmat. Tapi semua meja sudah penuh dan tidak ada tempat lagi.

Athena menghela napas. Masa ia harus makan berdiri sih? Kata Mimi tidak boleh makan sambil berdiri. Karena yang makan berdiri itu cuma setan dan Athena adalah manusia.

Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah meja kosong di pojok kantin. Di sana hanya ada seorang cowok yang makan sendirian. Dan Athena kenal siapa cowok itu. Lantas sebuah senyuman terbit di wajahnya. Athena dengan pasti melangkahkan kakinya dan duduk berhadapan dengan cowok itu.

"Hai," sapa Athena dengan senyuman manisnya.

Sosok itu yang tak lain adalah Dewa, melirik Athena dengan kening berkerut. Tidak, lebih tepatnya tatapan bertanya. Pasalnya orang-orang tidak mau duduk di meja itu. Tapi sekarang Athena sudah di depannya dengan sepiring siomay dan makan dengan lahap tanpa ada masalah.

"Ngapain lo?" tanya Dewa dingin seperti biasanya.

Athena melirik Dewa dengan mulut yang masih mengunyah. "Makan," jawab Athena santai.

"Kenapa disini?"

Athena mengerutkan keningnya. "Emangnya kenapa? Kan ini juga termasuk meja kantin. Jadi semua orang bebas dong milih meja yang mereka suka."

Dewa meletakkan sendoknya, menatap Athena yang masih asik dengan makanannya. Matanya melirik area kantin, semua tatapan orang-orang sekarang sudah mengarah pada mereka berdua dan Dewa tidak suka itu.

"Pergi," usir Dewa.

Athena kembali mendongak. Menatap Dewa tidak mengerti. "Kenapa?" tanya Athena polos setelah menelan makanannya.

"Lo nggak sadar sejak tadi di liatin terus?" tanya Dewa.

Athena menoleh, melihat orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan aneh sembari berbisik-bisik.

Athena kembali beralih pada Dewa lalu mengedikkan bahunya acuh. "Aku nggak peduli," ujarnya dan kembali makan dengan lahap.

"Emangnya kenapa mereka liatin kita kayak gitu? Kita, kan, bukan artis," ujar Athena polos.

Dewa mendelik. Tingkat kepekaan Athena pada lingkungannya benar-benar rendah. Apakah cewek itu tidak tahu bahwa sejak dia dekat dengan Dewa orang-orang sudah mulai memandangnya aneh? Selain itu banyak juga yang sudah membisikkan tentang dirinya di belakang.

Bukannya peduli, Dewa hanya tidak ingin gadis seperti Athena masuk dalam masalahnya dan mendapatkan tatapan aneh orang-orang pada gadis itu. Ia hanya tidak ingin Athena menjadi seperti dirinya. Tidak di sukai banyak orang dan di benci satu sekolah. Karena Athena masih berstatus murid baru.

"Widih... ada bidadari nih." Seorang cowok datang dan duduk di sebelah Dewa dengan sepiring ketoprak di tangannya. "Siapa, Wa?" tanyanya pada Dewa.

Dewa tidak menjawab. Ia masih tetap makan tanpa peduli dengan sekitarnya. Sedangkan Athena tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya pada cowok itu.

"Hai, gue Athena. Murid baru di kelas 11 IPA–3," ujar Athena.

Cowok itu menjabat tangan Athena. "Gue Ben, kelas 11 IPS–2."

Athena manggut-manggut.

"Sekelas sama Dewa dong lo?" tanya Ben yang diangguki oleh Athena.

"Bukan sekelas lagi. Malah kita sebangku, iya kan, Wa?" Athena beralih pada Dewa yang masih diam.

Dewa mengedikkan bahunya acuh. Athena mendecak pelan.

"Athena?"

Mereka menoleh kecuali Dewa. Melihat Irene dan Naomi yang sudah berdiri di dekat meja mereka dengan makanan masing-masing.

DESTINY [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang