"Maaf Kak, telat," ujar Athena setelah sampai di dekat Abi yang sedang berdiri di dekat motornya.
Sekolah sudah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa murid saja yang sedang melaksanakan ekskul mereka.
"Udah lama, Kak?" tanya Athena.
"Mm.. lumayan," jawab Abi tersenyum simpul pada Athena.
Athena meringis. Salah satu hal yang tidak begitu ia sukai adalah, menunggu dan membuat orang lain menunggunya.
"Maaf, Kak. Tadi aku lupa kalo aku ada piket hari ini." Athena menggaruk kepalanya sembari cengengesan.
Abi tersenyum dan mengacak puncak kepala Athena. "Gak pa-pa. Kan gue yang ngajak lo, jadi gue gak keberatan nunggu. Kalau perlu nungguin lo buat jadi pacar gue," goda Abi tersenyum menatap Athena.
Athena terdiam. Wajahnya jadi tiba-tiba berubah. Raut wajahnya perlahan turun, dan tatapannya juga berubah nanar dan sendu.
Senyum Abi perlahan memudar melihat wajah Athena yang tiba-tiba berubah murung. Apa ia salah bicara? Sampai-sampai membuat cewek yang sekarang berdiri di depannya jadi sedih.
"Na, so... Sorry... Gue gak bermaksud buat ngomong gitu. Gue gak bermaksud buat lo tersinggung. Gue cuma bercanda, Na. Maaf," ujar Abi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benar-benar sangat merasa bersalah.
Kenapa ia bisa berbicara seperti itu sampai membuat Athena jadi merasa tersinggung.
Athena langsung merubah raut wajahnya. Ia tersenyum. Membuat Abi salut melihatnya. Secepat itu Athena bisa merubah raut wajahnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gak pa-pa kok, Kak. Jujur... Gue emang agak sensitive sih kalo denger itu. Tapi gue tau Kak Abi gak sengaja, kan?"
Abi mengangguk pelan. Ia memang tidak sengaja mengatakan itu. Niatnya tadi hanya ingin bercanda saja. Tapi ia tidak tahu bahwa Athena jadi merasa tidak suka dengan candaannya itu.
"Sorry, gue gak akan ngomong soal itu lagi," kata Abi menyesal.
Athena mengangguk.
"Jadi pergi?" tanya Athena.
"Jadi," jawab Abi. "Gue keluarin motor dulu."
Athena memberi jarak dengan Abi supaya dia bisa mengeluarkan motornya dari parkiran. Athena naik ke atas motor Abi. Setelah memakai helmnya, Abi mulai menyalakan motornya dan pergi.
Di tempatnya Dewa memperhatikan kepergian Athena dengan Abi. Menatap keduanya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dalam dirinya ada sesuatu yang tidak suka saat melihat kedekatan Athena dan Abi. Namun Dewa sadar bahwa ia tidak boleh terlalu ikut campur yang bukan urusannya.
Dewa jadi berpikir, bahwa sebenarnya Athena memang gadis baik. Walaupun kadang ia sering cerewet dan mengomel dan membuat Dewa risih. Namun secara perlahan ia juga mulai terbiasa dengan sikap Athena. Sikap hangat yang membuatnya kembali merasakan hal yang dulu sempat hilang darinya.
Apa Dewa terima saja Athena menjadi temannya?
"Wa, ngapain?" tanya Ben datang berjalan ke arah Dewa yang masih duduk di dalam kelasnya sambil melihat keluar jendela.
"Liat apa?" tanya Ben lagi melihat keluar jendela, mencari sesuatu yang di lihat oleh Dewa.
Dewa tersenyum tipis. Ia bangkit dan menyandang tasnya di sebelah bahunya.
"Yuk, pergi," ujarnya berjalan keluar kelas.
Ben tercenung menatap punggung tegap Dewa. Perlahan sudut bibirnya terangkat. Bukannya tidak lihat, malah Ben melihat dengan jelas senyuman tersebut di wajah Dewa. Senyuman yang tidak pernah lagi ia lihat setelah bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang ia melihat itu, walaupun hanya senyuman tipis namun menyimpan banyak makna.
///////
"Terima kasih, silahkan pesan kembali di restoran kami," ujar Dewa keluar dari pekarangan sebuah rumah pelanggannya.
Dewa berjalan ke arah motor matic milik restoran tempat ia bekerja. Dewa bekerja paruh waktu sebagai seorang delivery. Mengantarkan pesanan pelanggannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Beginilah kegiatan Dewa sepulang sekolah. Bekerja paruh waktu dari siang sampai malam. Dan kalau hari libur maka Dewa akan memanfaatkan waktu itu untuk bekerja lembur dari pagi-pagi sekali sampai malam. Hanya untuk memenuhi kebutuhannya ia bekerja untuk mencari uang. Karena ia tahu dunia ini sangat keras. Tidak akan ada orang yang bisa bertahan di dunia yang keras ini, kecuali orang itu mau berusaha.
Di sekolah orang-orang hanya mengetahui bahwa Dewa adalah cowok berandal dan suka mencari ribut bahkan berkelahi. Tapi orang-orang tidak tahu seperti apa dia sebenarnya di luar sekolah. Dewa terus berusaha bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhannya.
Dewa melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Dewa berjalan ke arah motornya untuk segera kembali ke restoran.
"Hei! Hati-hati! Kalau mau sepeda lihat-lihat! Jangan nabrak sembarangan!"
Dewa lantas menoleh ke arah jalan raya, dimana seorang wanita yang kira-kira berusia 30 tahunan berteriak pada gerombolan anak-anak yang bersepeda dan menabrak wanita tersebut sampai semua belanjaannya jatuh.
Dewa langsung turun dari motornya dan berlari mendekat. Membantu wanita itu untuk membereskan semua belanjaannya yang jatuh.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya Dewa sopan. Walaupun ia tampak seperti anak berandalan, namun Dewa tetap memiliki rasa sopan santun pada orang yang lebih tua darinya. Sekalipun itu orang yang tidak ia kenal.
Mereka berdiri dan Dewa menyodorkan belanjaan wanita itu yang sudah dimasukan dalam tas belanja.
"Iya, tidak apa-apa. Terimakasih, ya," jawab wanita itu.
Dewa mengangguk. "Mereka memang seperti itu, Bu. Main tinggal aja setelah nabrak orang dan nggak minta maaf. Tapi Ibu beneran nggak apa-apa, kan? Nggak ada yang luka, kan?" tanya Dewa kembali memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.
"Ibu baik-baik saja." Wanita itu tersenyum ramah pada Dewa.
"Oh ya, ngomong-ngomong Ibu mau kemana?" tanya Dewa.
"Ibu mau pulang setelah dari restoran."
"Ibu punya restoran?"
Wanita itu mengangguk seraya tersenyum.
Dewa manggut-manggut. "Ibu pulang sendiri? Kalau mau saya bisa antar. Rumah Ibu dimana?" tanya Dewa.
"Rumah Ibu di perumahan Mutiara," jawab wanita itu.
Seketika Dewa berpikir. Ia tahu perumahan itu. Itu adalah salah satu perumahan elit juga di Jakarta.
"Saya tau, Bu. Kebetulan rumah saya juga lewat perumahan itu," ujar Dewa.
"Benarkah?"
Dewa mengangguk. "Jadi bagaimana, Bu? Mau saya antar?" tawar Dewa lagi.
"Ibu tenang saja. Saya gak akan macam-macam. Tampang saya emang kaya gini, Bu. Jadi orang mandangnya saya anak berandalan, suka cari ribut. Tapi sebenarnya saya gak gitu. Saya juga menghormati wanita seperti Ibu. Dengan begitu saya juga ingat sama Ibu saya," jelas Dewa saat melihat tatapan meneliti wanita itu padanya.
"Maaf ya, bukan maksud Ibu buat kamu tersinggung." Wanita itu tersenyum bersalah. Tidak seharusnya juga ia melihat seseorang dari penampilan luarnya saja. Karena penampilan luar belum tentu menjamin seperti apa orang itu.
"Gak apa-apa, Bu. Saya sudah biasa di pandang kaya gitu sama orang-orang. Jadi gak masalah."
Wanita itu jadi semakin merasa bersalah.
"Jadi bagaimana, Bu? Mau saya antar?"
Wanita itu mengangguk. "Gak ngerepotin, kan?"
"Enggak lah, Bu. Gak ngerepotin. Saya senang bisa bantu Ibu," ujar Dewa.
"Sebentar ya, Bu. Saya ambil motor dulu."
Dewa berbalik mengambil motornya. Setelah wanita itu naik ke atas motornya, Dewa mulai menjalankannya pergi.
///////
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Ficção Adolescente"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)