Plak!!
Sebuah tamparan telak mengenai pipi Viktor. Bahkan cowok itu sampai menoleh ke samping karenanya. Viktor hanya diam menerima tamparan dari Selina. Walaupun saat ini pipinya terasa perih. Apalagi di tambah luka lebamnya yang masih belum di obati membuat rasa perih itu semakin terasa kuat.
"Maksud lo apa, hah!" ujar Selina menatap tajam Viktor. Wajahnya sudah memerah karena menahan emosi. Kedua tangannya terkepal kuat dengan tatapan tak beralih dari Viktor yang sejak tadi hanya diam.
"Jawab gue Viktor!!" bentak Selina.
Viktor menghela napas. Memutar kepalanya dan menatap Selina tanpa takut. Membalas tatapan gadis itu dengan datar. "Kenapa? Gue salah?"
"Lo mukul Dewa dan lo masih nanya kesalahan lo?"
"Gue cuma ngasih pelajaran aja sama dia," jawab Viktor santai. Tanpa merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Dengan cara lo mukul dia? Apa alasan lo?"
Viktor diam beberapa detik sebelum menjawab, "Dia udah bohong sama lo."
"Maksud lo?" Kening Selina berlipat.
"Lo pikir gue gak tau? Dua hari yang lalu, lo nungguin Dewa di rooftop pulang sekolah kan? Lo terus nungguin dia sendirian sampe sore dan berharap dia bakalan datang."
Selina terkejut. Dua hari yang lalu dia memang meminta Dewa untuk bertemu di rooftop. Selina berencana untuk memperbaiki semuanya. Namun sampai sore pun Dewa tidak datang membuat Selina terus menunggu Dewa sendirian.
Selina tidak mengatakan apapun pada Viktor. Tapi bagaimana cowok di depannya ini mengetahui hal itu?
"Lo pikir gue gak tau? Gue di sana, Sel. Gue nemenin lo nungguin Dewa tanpa lo tau," kata Viktor menatap dalam mata Selina.
Perlahan cowok itu melangkahkan kakinya mendekat. Matanya masih menatap lurus tepat pada kedua mata Selina yang sudah berkaca-kaca. Sekali gadis itu mengerjap, Viktor yakin kristal bening yang gadis itu tahan akan luruh seketika.
Tangan Viktor terangkat untuk mengelus pipi Selina. Gadis itu malah menepisnya dan mundur ke belakang. Memberi jarak antara dirinya dengan Viktor.
"Gue udah bilang kan, gak usah ikut campur urusan gue!!" teriak Selina. "Lo gak tau apa-apa Viktor! Lo cuma—"
"SAHABAT!!?" bentak Viktor membuat Selina terdiam menatapnya dengan kaget. "Gue tau kalo gue cuma sahabat buat lo. Selama ini mungkin gue diem dan bersikap cuek sama lo! Seolah gue gak peduli! Tapi sekarang gue gak bisa, Sel! Gue gak bisa gak peduli lagi sama lo Selina Anastasya!!"
Dada Viktor naik turun. Emosinya sudah membumbung di kepala dan siap meledak. Namun sebisa mungkin Viktor menahan diri supaya tidak sampai menyakiti Selina. Dadanya bergemuruh dengan tatapan lurus menatap gadis itu.
"Lo bodoh, Sel. Lo bodoh. Lo bersikap seperti ini supaya Dewa bisa kembali lagi pada lo? Cih!" Viktor berdecih. Memalingkan wajahnya ke samping. "Itu namanya egois."
"Gue tau," ujar Selina menunduk. "Gue tau gue bodoh, gue juga egois. Tapi salah kalo gue mau memperbaiki semuanya?"
Viktor kembali beralih menatap Selina yang masih menunduk. Gadis itu mengepalkan tangannya di samping sisi tubuhnya. Perlahan Selina mengangkat kepalanya menatap Viktor.
"Gue cuma pengen memperbaiki kesalahan yang udah gue buat, Tor. Jujur gue masih sayang sama Dewa. Dan gue juga yakin Dewa masih sayang sama gue."
"Mimpi jangan terlalu tinggi. Lo pikir Dewa bakalan mau lagi sama orang yang udah mengkhianati dia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Roman pour Adolescents"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)