"Athena?"
Athena yang sedang duduk bersandar di kasurnya menoleh pada Hana yang barusan masuk ke kamarnya. Wanita itu duduk di pinggir kasur Athena. Menatap anak gadisnya itu yang semakin pucat dan kurus.
Athena menutup buku yang sedang ia baca. Perhatiannya kini tertuju pada Hana.
"Ada apa, Mi?" tanya Athena.
"Ada temen-temen kamu di bawah. Jenguk kamu. Mau turun atau Mimi suruh mereka kesini?"
"Biar aku aja yang ke bawah, Mi. Aku mau ganti baju dulu."
Hana mengangguk dan segera beranjak keluar dari kamar putrinya. Tak butuh waktu lama bagi Athena untuk mengganti pakaiannya. Kakinya melangkah pelan-pelan menuruni anak tangga. Melihat teman-temannya yang sedang bercanda gurau di ruang tamu.
Jujur Athena sangat merindukan mereka. Setelah kejadian waktu itu Athena harus izin sekolah hampir satu minggu lamanya. Itu perintah Husein dan Athena tidak bisa berbuat apa-apa jika Ayahnya sudah bertitah tegas seperti itu.
"Hai," sapa Athena membuat empat remaja sepantaran dengannya itu menghentikan tawa mereka dan menoleh pada Athena yang sudah mengambil tempat di sofa tunggal.
"Athena! Gue kangen banget sama lo!" ujar Irene langsung memeluk Athena. Bahkan cewek itu duduk dengan Athena di sofa tunggal tersebut sampai rasanya sempit.
"Gue juga kangen banget sama lo, Ren. Sama kalian juga," balas Athena memeluk Irene.
"Lo baik-baik aja 'kan? Udah mendingan?" tanya Naomi yang juga terlihat cemas melihat betapa pucatnya Athena sekarang. Bahkan cewek itu tampak terlihat kurus dari sebelumnya.
"Gue udah mendingan kok."
"Na, sorry ya gara-gara gue lo jadi sakit. Seharusnya kita gak ke TimeZone waktu itu," sesal Galih.
Athena tersenyum kecil. "Gak apa-apa, Gal. Ini bukan salah lo. Gue juga pengen kok main-main ke sana."
Galih hanya mengangguk. Perasaan bersalah masih bersarang di hatinya.
"Oh ya, Dewa mana? Gak ikut?" tanya Athena tidak melihat cowok itu. Hanya Irene, Naomi, Galih dan Ben yang datang menjenguknya. Padahal Athena sudah sangat merindukan sosok cowok dingin itu.
"Dewa masih kerja, Na. Mungkin nyusul," jawab Ben.
Athena mengangguk paham.
Mereka kembali mengobrol tanpa sadar bahwa waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Tidak terasa karena saking serunya mereka mengobrol dan bercanda bersama.
"Na, kita pulang dulu ya. Udah sore. Besok 'kan hari Minggu, kita kesini lagi," kata Naomi seraya berdiri diikuti teman-temannya.
"Iya, Na. Gue bakalan paksa Dewa buat ikut," sahut Ben.
"Iya. Makasih banyak ya kalian udah jenguk gue. Hati-hati di jalan," pesan Athena.
"Dadah!"
"Bye!" Athena melambaikan tangannya saat teman-temannya pergi dari rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Jugendliteratur"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)