"Athena mana ya? Daritadi nggak datang-datang," kata Irene melihat ke sekitar tempat mereka duduk. Berharap menemukan sosok Athena yang belum juga menghampiri mereka. Sedangkan acaranya sebentar lagi akan mulai.
"Telfonnya juga nggak di angkat," kata Naomi melihat layar ponselnya setelah mencoba menelfon Athena beberapa kali.
"Toilet mungkin?" tebak Galih pada kedua gadis itu.
"Gue susul aja." Dewa bangkit hendak menyusul Athena. Tiba-tiba lengannya di cekal oleh Ben. Dewa menoleh pada cowok itu dengan tatapan tanya.
"Lo mau nyusulin Athena ke toilet?" tanya Ben dengan tatapan terkejut. Dewa langsung menjitak kepala sahabatnya itu sebal. Ia sudah tahu apa yang saat ini di pikirkan oleh Ben.
"Mi, bersihin nih otaknya udah gesrek," ujar Dewa pada Naomi.
"Ogah, lo aja sana," ujar Naomi. Ia melirik Ben yang sedang mendumel memperbaiki tatanan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah Dewa.
"Hai, Mi." Ben nyengir seraya melambaikan tangan pada Naomi yang jelas-jelas duduk di sebelahnya. Naomi hanya memutar matanya malas melihat kelakuan Ben.
Mata bak elangnya terus menyusuri setiap orang-orang yang berpapasan dengannya ataupun yang berdiri tak jauh darinya. Mencari baik-baik sosok Athena di tengah-tengah kerumunan orang-orang.
Dewa masih ingat dengan gaun yang di kenakan Athena. Jadi tidak akan susah lagi mencari keberadaan gadis pencinta kucing itu.
Sedang fokus memperhatikan orang-orang di sekitarnya, tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk pundaknya. Dewa lantas berbalik melihat seorang cowok yang sepantaran dengannya. Memakai setelan jas berwarna hitam.
Dewa mengerutkan keningnya meneliti cowok di depannya. Merasa pernah bertemu sebelumnya.
"Gue Sam, sepupu Athena," ujar cowok itu mengerti arti tatapan Dewa padanya. Sam mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Dewa.
"Kita pernah ketemu kok. Athena pernah ngajak lo ke rumahnya waktu ulang tahun kakek kami," ujar Sam memperjelas.
Dewa mengangguk. Sekarang ia ingat siapa cowok ini. Salah satu sepupu Athena yang pendiam dan dingin. Itu kata Athena.
"Lo Dewa, kan?"
"Iya," jawab Dewa.
"Nyari Athena?"
Dewa kembali mengangguk. Sam kemudian menoleh ke sebuah tempat. Otomatis Dewa mengikuti arah pandang Sam. Dewa terdiam menatap pada sosok Athena yang sekarang berdiri berhadap-hadapan dengan seorang cowok yang tidak Dewa kenal. Keduanya hanya saling menatap tanpa bicara.
Sam kembali menepuk pundak Dewa. "Bawa Athena. Jangan biarin Athena sama orang itu." Setelahnya Sam pergi.
Dewa tidak mengerti namun kakinya seolah bergerak sendiri. Melakukan apa yang di katakan Sam. Perlahan Dewa mendekat. Semakin dekat juga Dewa dapat melihat raut wajah Athena yang terlihat berbeda.
"Na," panggil Dewa setelah ia sampai dekat Athena. Gadis itu tersentak kemudian menoleh. Matanya membulat melihat Dewa di dekatnya.
"Dewa," lirih Athena masih dengan raut wajah terkejut.
Dewa mendekat. Berdiri di samping Athena sambil tersenyum. "Acaranya udah mau mulai. Ayo." Dewa meraih tangan Athena yang terkepal dan menggenggamnya. Membawa gadis itu pergi.
Athena pasrah saat Dewa membawanya. Matanya sempat melirik sosok yang tadi berhadapan dengannya yang sekarang sudah berbalik pergi berlawanan arah dengannya.
Sampainya Athena dan Dewa langsung duduk di kursi yang kosong, bersebelahan. Dewa masih menggenggam tangan Athena. Ia melirik gadis itu yang tampak lesu. Tidak seceria tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Teen Fiction"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)