DESTINY-03

4.8K 375 4
                                        

"Daripada troublemaker, gue lebih ngeliat kalo dia tuh misterius. Susah di tebak."

–AthenaWiatamaHusein–

///////

Bel istirahat berbunyi. Semua murid dan guru segera keluar dari kelas untuk mengistirahatkan otak mereka setelah belajar. Dibangkunya, Athena mengemasi buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Semua orang sudah keluar, hanya tinggal beberapa orang lagi di dalam kelas.

Terdengar suara kursi yang digeser. Otomatis membuat Athena menoleh ke arah Dewa yang sudah berdiri.

"Wa, mau kemana?" tanya Athena menatap Dewa.

"Perlu lo tau?" bukannya menjawab Dewa malah balik nanya dengan nada dingin dan datar.

"Boleh aku ikut? Soalnya aku belum dapat temen."

"Enggak."

"Tapi—"

Sebelum mendengar lanjutan Athena, Dewa langsung pergi. Tidak peduli apakah cewek itu kesal padanya.

"Dewa! Iihhh!" ujar Athena jengkel dengan sikap dingin Dewa. Ia hanya bisa merengut sebal menatap punggung tegap Dewa yang keluar dari kelas.

"Hai, Na."

Athena menoleh pada dua orang cewek yang sudah berdiri didekat mejanya. Athena lantas tersenyum. "Hai," balas Athena ramah.

"Kenalin, gue Irene," salah satu dari mereka mengulurkan tangannya pada Athena, "dan ini Naomi," lanjutnya menunjuk temannya. Cewek berkacamata yang terlihat kalem dan tenang.

"Hai, Na. Gue Naomi." Cewek itu juga mengulurkan tangannya berkenalan.

"Mau ke kantin bareng nggak, Na?" tawar Irene.

"Boleh nih?" tanya Athena dengan wajah polos.

"Ya boleh lah, Na," ujar Naomi terkekeh.

Athena nyengir. "Bentar ya, dikit lagi."

Athena kembali memasukkan bukunya ke dalam tas dan menutupnya. Setelahnya mereka bertiga keluar dari kelas. Menyusuri koridor menuju kantin. Tempat yang Athena tebak pasti lebih ramai pada saat jam istirahat.

Athena juga sudah mulai akrab dengan Irene dan Naomi. Kesan pertama yang Athena lihat dari keduanya; Irene adalah cewek humoris yang selalu banyak omong. Tidak bisa diam seperti cacing kepanasan. Selain itu Irene adalah anggota cheers dan juga banyak diincar cowok-cowok di sekolahnya. Namun Irene selalu menolak semua cowok-cowok itu. Karena dia sudah mempunyai seseorang yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali masuk ke SMA Trisatya.

Namanya adalah Galih Mahesa dari Kelas 11 IPA–1. Seorang kapten tim basket putra yang banyak di puja oleh kaum hawa. Galih sosok humoris dan ramah pada siapapun. Bisa dijamin saat Galih tersenyum akan langsung membuat kaki lemas saat melihat senyuman manis Galih yang begitu menawan.

Berbeda dengan sifat Irene yang kadang childish dan rempong. Naomi bisa di katakan lebih kalem dan tidak banyak ulah. Walaupun kadang dia sering bertengkar dengan Irene hanya karena hal sepele. Naomi termasuk murid terpintar di sekolah. Dia selalu mendapatkan peringkat satu di kelas. Selain itu Naomi juga sering ikut olimpiade dan membawa pulang banyak piala.

Di luar mungkin Naomi terlihat culun dengan kacamata di wajahnya. Tapi jangan salah, malah Naomi memiliki mulut pedas dan nyesek. Makanya tidak ada yang berani bicara sembarangan sama dia. Karena kalau ada, pasti akan langsung di tepis oleh kata-kata pedas dan menusuk dari cewek itu.

DESTINY [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang