Athena melemparkan ponsel di tangannya ke atas kasur dengan kesal seraya berdecak. Sejak tadi ia terus menantikan Dewa meneleponnya dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia belum mendapatkan ucapan apapun dari Dewa. Bahkan saat sekolah pun Dewa tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas. Padahal sejak tadi pagi Athena berharap bahwa Dewa adalah orang kedua yang akan memberinya ucapan setelah keluarganya.
Athena selalu berusaha menelepon bahkan mengirim cowok itu pesan. Athena juga bertanya pada Ben alasan Dewa tidak sekolah hari ini. Tapi cowok itu juga tidak tahu dan belum bertemu sama Dewa beberapa hari ini.
Athena semakin gusar. Cowok itu hilang tiba-tiba seperti di telan bumi. Pikiran buruk pun bergelayut di pikiran Athena. Ia takut jika nanti terjadi sesuatu pada Dewa dan Athena tidak mengetahuinya.
"Dewa kemana sih," lirih Athena menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya.
TokTokTok
"Masuk!" ujar Athena tanpa beranjak. Rasanya ia sangat malas hanya untuk berjalan ke arah pintu dan membukanya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Dewa Althaf.
Pintu terbuka dengan pelan. Hana melihat putrinya duduk di kasur dengan kaki di tekuk. Hana menghela napas seraya berjalan masuk.
"Sayang, makan dulu yuk. Daritadi kamu belum makan loh," kata Hana mengusap kepala Athena.
Athena mengangkat wajahnya. Menatap Hana dengan sayu. Ia menggeleng. "Aku gak laper, Mi."
Hana duduk di pinggir kasur Athena. Berhadapan dengan gadis itu yang sekarang memeluk boneka kucing pemberian Dewa saat mereka ke taman bermain. Hana mengerti kegelisahan putrinya.
"Masih belum ada kabar dari Dewa?" tanya Hana mengusap kepala Athena lembut.
Athena mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Hana.
"Mungkin Dewa sibuk sayang. Kamu tau sendiri Dewa selalu kerja kan?" hibur Hana.
"Tapi gak bisa Dewa telfon aku dan ngucapin selamat ulang tahun? Gak usah telfon deh. SMS aja," ujar Athena. "Aku gak butuh apa-apa, Mi. Aku cuma pengen denger Dewa ngucapin itu sama aku."
"Iya Mimi ngerti. Tapi kamu juga gak boleh bersikap kaya gini dong. Kamu juga harus ngertiin Dewa."
Athena terdiam. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Kitty.
"Aku takut kalau dewa lupa," lirih Athena takut.
"Kamu tenang aja, Mimi yakin Dewa gak akan lupa," hibur Hana tersenyum.
Hana kemudian berdiri. "Daripada bengong terus disini, gimana kalau kita pergi ke mall? Liat-liat pameran kucing?" ajak Hana.
Athena langsung mendongak menatap Hana berbinar.
"Pameran kucing?"
"Iya. Mimi baru di kasih tau sama temen Mimi kalau hari ini ada pameran kucing yang imut-imut. Kamu pasti suka. Mau ikut?"
Athena langsung mengangguk antusias. Seolah lupa dengan kesedihannya barusan.
"Mauuuu!!!"
Hana tertawa melihat tingkah Athena yang seperti anak kecil.
"Sekarang siap-siap. Sepuluh menit lagi kita berangkat!"
"OKE!"
Athena langsung beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi. Bersiap untuk pergi melihat kucing-kucing yang lucu dan imut.
///////
Di mall Athena tidak pernah mengalihkan pandangannya dari kucing-kucing imut dan lucu yang di pamerankan di sebuah tempat di mall tersebut. Bahkan berbagai macam pernak-pernik cantik berbentuk kucing banyak di jual disana. Kucing berbagai macam jenis dan warna pada bulu mereka membuat Athena semakin gemas melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Teen Fiction"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)