Salah satu pelajaran yang tidak begitu disukai Athena adalah olahraga. Ia tidak begitu mahir dalam olahraga apapun. Kalau bisa memutuskan, lebih baik Athena memecahkan berbagai macam rumus dari pada harus berolahraga.
Athena tahu bahwa olahraga itu sangat penting dan baik untuk kesehatan. Tapi bagaimana pun Athena mencoba tetap saja ia tidak bisa. Dan pelajaran yang sering ia remedi adalah pelajaran olahraga ini.
Gadis yang saat ini sudah mengucir kuda rambutnya itu berjalan beriringan dengan Irene dan Naomi di sampingnya menuju lapangan.
"Basket, ya? Keciiil!" ujar Irene menjentikkan jarinya. "Itu mah gampang."
"Nggak usah sok deh. Disuruh ke lapangan aja buat pemanasan suka ngeluh. Panas lah, takut hitam lah," ejek Naomi sarkas.
Irene mendecak. "Itu mah fakta! Emangnya lo nggak lihat sekarang kulit gue udah agak kusam? Huh, sepertinya gue harus ke salon buat perawatan minggu ini."
"Bagaimana kalau kita bertiga ke salon bareng? Pasti seru tuh! Iya, kan!" ujar Irene tersenyum dengan ide nya.
Athena dan Naomi memutar mata mereka malas.
"Pergi aja sendiri. Gue nggak minat ke tempat gituan!" ujar Naomi.
"Elo, Na? Gimana? Mau, kan? Mau dong yaa!"
Athena menampilkan cengirannya. "Hehe... Sorry, Ren. Gue juga nggak terlalu minat kesana."
Irene mendecak pelan. Kedua temannya ini di ajak untuk perawatan supaya cantik malah nolak. Gimana sih?
Sampainya di lapangan ternyata sudah banyak yang berkumpul. Ketiganya langsung bergabung dengan teman-teman mereka. Athena sejak tadi terus memperhatikan teman-temannya satu persatu. Mencari keberadaan Dewa. Cowok itu tidak ada.
Apa Dewa tidak sekolah hari ini?
"Nyari siapa, Na? Dewa, ya?" tebak Naomi yang diangguki oleh Athena.
"Dewa kok nggak kelihatan? Dia nggak sekolah hari ini?" tanya Athena.
Irene dan Naomi mengedikkan bahu tidak tahu.
Athena merasa gelisah. Entah kenapa melihat Dewa tidak hadir ke sekolah tanpa alasan membuatnya cemas dan khawatir. Takut jika nanti terjadi sesuatu pada Dewa.
Nggak! Gue nggak boleh berpikiran sempit kaya gitu. Harus positif thinking!
"Baiklah, anak-anak! Sebelum kita mulai olahraga kali ini, semuanya pemanasan dulu. Setelah itu lari lima putaran lapangan," kata Pak Danu—guru olahraga mereka.
Semuanya menurut dan melakukan pemanasan dan peregangan otot-otot supaya tidak kaku. Setelahnya mereka semua berlari mengelilingi lapangan. Athena, Naomi, dan Irene berlari beriringan. Naomi juga tidak beda jauh dari Athena. Cewek berkacamata itu juga tidak begitu menyukai pelajaran olahraga. Dia lebih suka bergelut dengan rumus-rumus sama seperti Athena.
"Huhh! Huhh! Capek banget!" ujar Irene kelelahan. Baru beberapa putaran cewek itu sudah begitu tampak kelelahan.
"Istirahat dulu deh!" Irene berhenti berlari. Membungkuk dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Rasanya sesak dan jantungnya berdetak sangat kencang.
"Katanya keciil!" ejek Naomi diiringi kekehan pelannya dan Athena. Mereka berdua juga berhenti berlari dan mengisi paru-paru mereka dengan oksigen.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Novela Juvenil"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)