Tiittt.... Tiittt.... Tiittt.... Tiittt.....
Suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi dengan konstan di ruangan yang sunyi serba putih itu. Menandakan bahwa di ruangan itu terdapat makhluk hidup. Yang bernapas, berdetak, namun matanya masih tertutup. Wajah manis dengan rambut coklat tergerai layu. Banyak sekali selang-selang yang entah apa namanya yang membantunya hidup.
Seorang wanita paruh baya duduk di kursi samping tempat tidur. Memperhatikan wajah putrinya yang masih menutup mata. Entah kapan putrinya akan bangun dan bertatapan lagi dengannya. Yang penting, ia selalu berdoa dan berharap bahwa putrinya akan segera bangun dari koma.
Sedangkan Avran dan Arvin duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu. Menatap sendu pada tubuh yang berbaring tersebut. Tidak tahan apalagi melihat ibu mereka yang tidak pernah beranjak dari tempat duduknya. Memberikan semangat, doa dan harapan untuk gadis yang berbaring tersebut.
Suara pintu terbuka. Namun Hana tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Karena dia sudah tahu siapa yang datang tanpa harus melihatnya.
Husein masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah sendu. Avran dan Arvin bangkit, menghampiri sang Ayah yang perlahan berjalan ke arah brankar.
Husein menghela napas berat. Mengusap kedua pundak Hana tanpa mengalihkan pandangannya dari anak gadisnya. Dia paham bagaimana perasaan istrinya saat ini. Karena dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya. Perasaan seorang Ayah yang selalu berharap anaknya akan baik-baik saja.
"Sayang, Mimi mohon... buka mata kamu, nak," lirih Hana gemetar. Dia menundukkan kepalanya di pinggir kasur dengan mengenggam tangan Athena. Memberikan kekuatan supaya putrinya tetap bertahan. Jujur, dia belum siap untuk kehilangan putrinya. Apapun akan dia lakukan agar anaknya kembali membuka mata.
Perlahan, jarinya bergerak. Sangat pelan.
"Athena!"
Husein yang melihat pergerakan kecil dari putrinya mencoba mendekat. Memastikan bahwa penglihatannya bukanlah halusinasi saja. Tapi benar-benar kenyataan. Avran dan Arvin juga mendekat. Memperhatikan adik semata wayang mereka. Berdiri mengelilingi brankar tempat Athena berbaring.
Hana mengangkat kepalanya dan menatap Athena dengan perasaan berharap sebentar lagi Athena akan membuka mata. Sangat pelan, kelopak mata itu akhirnya perlahan terbuka walaupun terasa berat. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sebuah langit-langit sebuah ruangan berwarna putih. Ia melirik ke arah empat orang yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan haru dan bahagia. Memang tidak begitu jelas, tapi akhirnya ia bisa melihat keempat orang itu yang berdiri di sampingnya.
Arvin langsung keluar, bergegas memanggil Dokter.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Hana meneteskan air mata bahagia. "Syukurlah. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih." Hana mengenggam erat tangan putrinya. Bersyukur karena doanya selama ini akhirnya terkabulkan.
"Sayang, ini Mimi, nak."
Athena menatap wanita di sampingnya. Belum mempunyai kekuatan untuk sekedar membuka mulutnya.
"Sayang, kamu ingat Mimi, kan?" Hana kembali menunjuk dirinya. Dengan perasaan yang was-was. Takut jika hal buruk menimpa putrinya.
"Mi....mi..?" dengan susah payah, akhirnya Athena bisa membuka mulutnya dan berbicara walaupun sangat sulit.
Hana langsung memeluk Athena. Husein dan Avran juga tidak bisa menyembunyikan perasaan haru mereka. Bersyukur karena doa mereka akhirnya terkabulkan.
///////
Irene berdecak kesal sembari meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Teen Fiction"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)