DESTINY-56

2.3K 177 0
                                        

Athena sejak tadi terus melirik jam tangannya sekaligus menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Berharap sosok yang ia tunggu selama kurang lebih sepuluh menit ini datang. Namun sejak tadi juga matanya masih belum menangkap siluet sosok yang ia tunggu.

Athena juga merasa kakinya mulai pegal berdiri di depan gedung besar dan tinggi ini. Matanya sejak tadi juga bergulir memperhatikan setiap orang yang lewat di dekatnya.

Sekali lagi entah untuk keberapa kalinya Athena kembali menghela napas. Kepalanya menunduk menatap sepasang sepatu Vans yang ia pakai sore ini. Kedua tangannya memegang tali tas yang tersampir di bahunya.

Tidak mungkin Dewa mengingkari janjinya. Itulah yang selalu di ucapkan Athena dalam hati, berharap Dewa akan segera datang supaya Athena tidak perlu lagi seperti orang bodoh berdiri di depan pintu mall ini lama-lama.

Athena memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Dewa. Athena memutuskan untuk kembali menghubungi Dewa supaya ia tahu Dewa dimana sekarang. Niatnya urung saat hendak mendial nomor Dewa ketika sebuah panggilan yang menyerukan namanya terdengar. Suara yang begitu hapal di telinga Athena.

Sontak saja Athena menegakkan kepalanya ke sumber suara. Akhirnya Athena bisa bernapas lega diiringi kedua sudut bibirnya yang terangkat melihat sosok Dewa yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.

Dewa berhenti di depan Athena dengan napas yang ngos-ngosan. Cowok itu tampak kelelahan membuat Athena mengernyit heran.

"Kamu kenapa, Wa?" tanya Athena merapikan rambut Dewa yang tampak berantakan sehabis cowok itu berlari.

"Maaf gue telat," kata Dewa dengan napas masih tersendat-sendat.

"Gak apa-apa." Athena lalu mengalihkan pandangannya ke sekitar. "Motor kamu mana? Kamu gak bawa motor?" tanya Athena.

Dewa menggeleng. "Motor gue tiba-tiba mogok di jalan."

"Terus kesini naik apa?"

"Ojek. Tapi cuma sampe depan."

Athena menghela napas pelan. Gara-gara dirinya Dewa jadi susah seperti ini.

"Maaf, Wa. Aku udah buat kamu susah," lirih Athena menunduk dengan perasaan bersalah.

Dewa terdiam menatap Athena yang menunduk. Sungguh kejadian yang menimpanya ini bukanlah kesalahan Athena.

"Na, liat gue," suruh Dewa namun Athena menggeleng.

"Na, liat gue. Angkat kepala lo," suruh Dewa lagi namun Athena tetap menggeleng tidak mau.

Dewa menghela napas. Mendekat ke arah Athena dan mendongakkan kepala gadis itu supaya menatapnya. Selama beberapa detik tatapan mereka bertemu tanpa ada yang bicara. Athena hanya diam memperhatikan mata coklat Dewa yang begitu indah saat di terpa sinar matahari sore hari.

"Kejadian yang menimpa gue itu bukan salah lo. Paham?"

Refleks Athena mengangguk. Tatapannya masih terpaku pada Dewa. Sedetik kemudian ia sadar dan langsung berdehem pelan. Menetralkan dirinya yang sempat hanyut dalam tatapan Dewa.

"I-iya, Wa. Aku paham," kata Athena berusaha untuk tidak terdengar gugup.

"Jadi beli hadiah buat Abang lo?" tanya Dewa melihat ke sekitar mereka, dimana banyak orang yang keluar-masuk mall bergantian. Ada yang jalan bersama teman-temannya, jalan bareng keluarga bahkan tak sedikit yang jalan sama pacar sambil bergandengan tangan.

"Jadi," jawab Athena mengangguk. Ia ikut melihat ke dalam mall. "Tapi aku bingung mau ngasih apa."

Dewa melirik Athena yang raut wajahnya sudah berubah bingung. "Kita liat ke dalam aja. Siapa tau ada ide." Dewa menarik tangan Athena dan berjalan masuk ke dalam mall.

DESTINY [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang