"Dewa!"
Dewa yang sedang berbaris untuk mengantri naik bus menoleh pada Selina. Cewek itu tersenyum menghampiri Dewa.
Dewa hanya diam, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seolah Selina tidak ada di dekatnya.
"Wa, kita duduk bareng ya di bus," kata Selina. "Kamu sendirian kan? Ben katanya bareng Naomi," lanjut Selina sebelum Dewa menjawab.
"Darimana lo tau Ben bareng Naomi?"
"Tadi gue ketemu sama Ben. Dan dia bilang lo duduk sendirian. Gue bareng lo ya."
"Gak. Gue gak mau," tolak Dewa terang-terangan.
"Kenapa?" tanya Selina dengan wajah yang perlahan turun. Lagi-lagi Dewa menolaknya.
Dewa diam. Alasan apa yang harus ia katakan supaya Selina tidak dekat-dekat lagi dengannya?
Matanya melihat Athena yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Ikut mengantri untuk naik bus. Sebuah ide langsung terlintas di otaknya. Segera Dewa memanggil Athena yang langsung di sahuti oleh gadis itu.
"Athena!" panggil Dewa.
Athena menoleh lalu tersenyum melihat Dewa yang memanggilnya dengan gerakan tangan yang menyuruhnya mendekat. Tanpa banyak kata Athena langsung menghampiri Dewa.
"Ada apa, Wa?" tanya Athena setelah sampai di dekat Dewa.
Dewa langsung mengenggam tangan Athena, membuat gadis itu terdiam dan melirik ke arah tautan tangannya dan Dewa. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang seperti beterbangan.
"Gue sama Athena. Lo cari aja orang lain," ujar Dewa pada Selina.
Cowok itu langsung menarik Athena dan masuk kedalam bus. Sebelumnya Athena sempat melirik gadis di depan mereka. Dari tatapannya Athena dapat melihat pancaran kesedihan yang mendalam.
Siapa dia? Apa hubungannya dengan Dewa? Kenapa Dewa tampak tidak suka pada cewek itu?
Begitu banyak pertanyaan di otaknya saat ini. Namun Athena memilih untuk diam. Ia hanya akan menunggu saat Dewa ingin bercerita padanya. Ia tidak mau memaksa Dewa disaat ia dan Dewa sudah mulai dekat. Athena tidak mau karena rasa ingin tahunya malah membuat hubungannya dengan Dewa kembali ke awal mereka bertemu.
Sedangkan Selina hanya bisa diam di tempatnya. Menatap Dewa yang menggandeng gadis lain selain dirinya. Selina tersenyum miris. Mungkin inilah alasan Dewa tidak mau menemuinya lagi. Dewa tidak ingin membuat gadis itu salah paham padanya karena kehadiran Selina.
Dari samping seseorang menarik tangan Selina lembut. Membawanya masuk ke bus lain. Selina tidak melawan. Ia hanya menurut saat Viktor mendudukkannya di salah satu kursi bus. Cowok itu juga duduk di sebelah Selina.
Selina menoleh menatap Viktor dari samping. Wajah datar itu hampir sama dengan Dewa. Namun Viktor selalu bersikap baik padanya.
"Jangan di liatin terus. Ntar lo suka gue yang repot," ucap Viktor dengan nada datarnya.
Selina mendengus menyenggol lengan Viktor. Ia tersenyum. Viktor selalu tahu bagaimana cara untuk membuatnya tidak sedih lagi karena perlakuan Dewa padanya.
Viktor menoleh dan ikut tersenyum saat melihat Selina tidak bersedih lagi. Cowok itu mengacak rambut Selina sampai berantakan. Membuat Selina geram lalu menepis tangan Viktor. Sudah susah-susah ia merapikan rambutnya malah di buat berantakan oleh Viktor. Tentu Selina geram di buatnya.
"Gue lebih suka liat lo marah-marah daripada sedih kayak tadi," ucap Viktor menatap dalam Selina.
Cewek itu menoleh dan matanya langsung bertubrukan dengan mata elang Viktor. Entah apa maksud kata-kata cowok itu namun satu hal yang Selina yakini bahwa dalam kata-kata itu banyak menyimpan makna yang tidak ia mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Teen Fiction"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)