"DOKTER!! SUSTER!!" Arvin berteriak saat mereka baru saja sampai di Rumah Sakit. Masuk dengan bergegas dan raut wajah panik. Suster dan perawat yang mendengar teriakan Arvin langsung mengambil brankar dorong pasien dan meletakkan Athena yang semula di gendongan Husein ke atas brankar. Bergegas mereka membawa Athena ke UGD.
Tepat di depan pintu UGD mereka di larang masuk dan membiarkan Dokter melakukan tugasnya. Sekaligus berdo'a untuk Athena supaya dia baik-baik saja.
"Dewa kemana?" tanya Naomi berbisik pada Irene. Tidak melihat keberadaan orang yang dia maksud.
"Nggak tau. Di luar mungkin," jawab Irene. "Eh, Mi, lo mau kemana?" tanya Irene saat Naomi berbalik hendak pergi.
"Sebentar." Naomi keluar dari Rumah Sakit. Matanya menyapu sekitar Rumah Sakit untuk mencari sosok Dewa yang sekarang entah dimana.
Mata di balik lensanya itu memicing saat melihat seseorang yang duduk memunggunginya dengan kepala menunduk di dekat taman Rumah Sakit. Naomi pun mendekat setelah menebak sosok itu yang sangat dia yakini adalah Dewa.
"Ngapain lo disini?"
Dewa mendongak menatap Naomi yang entah sejak kapan di depannya. Dewa tidak menjawab, ia kembali menundukkan kepala menatap kosong ke bawah.
Naomi menghela napas. Pasti sekarang Dewa sedang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Athena saat ini. Naomi berjongkok di depan Dewa. Membuka tas punggung yang dia sandang. Mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dengan tulisan P3K.
Naomi menggulung ke atas ujung celana jeansnya. Dewa tidak bereaksi. Membiarkan Naomi mengobati luka di pergelangan kakinya. Bahkan ia tidak meringis sedikitpun saat obat merah itu mengenai lukanya.
"Semuanya salah gue," lirih Dewa pelan. "Andai gue menolak ajakan Athena, pasti semua ini nggak akan terjadi."
Naomi tidak menjawab. Dia terus mengobati luka Dewa, namun telinganya masih mendengarkan apa yang cowok itu ucapkan.
"Memang benar, kalau gue adalah pembawa sial. Athena selalu terkena masalah saat dekat sama gue." Dewa masih meracau.
"Seharusnya dia nggak pernah ketemu sama gue, dan hal seperti ini tidak akan terjadi padanya."
"Gue emang nggak berguna." Dewa meremas kuat rambutnya frustasi.
"Kalau dia nggak ketemu sama lo, maka lo nggak akan seperti sekarang," ucap Naomi. Dewa menatap Naomi saat mendengar gadis itu mulai membuka suaranya sesaat dia terdiam sejak tadi.
Naomi selesai mengobati luka Dewa. Dia membereskan kotak P3K tersebut dan memasukannya ke dalam tas. "Lo akan terus jadi orang yang tenggelam dalam kegelapan diri lo sendiri. Seumur hidup lo hanya akan sendiri. Merasa sepi dan muak dengan dunia ini. Dan gue juga yakin, jalan yang akan lo pilih untuk melupakan semua yang lo rasain pada dunia adalah bunuh diri."
Dewa tertegun mendengarnya. Lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat. Naomi sampai berpikir jauh kesana.
"Pertemuan kalian itu bukan hanya sekedar kebetulan. Nggak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Tuhan pasti sudah merencanakan semuanya termasuk pertemuan lo dan Athena yang merupakan takdir."
"Takdir?" lirih Dewa.
Naomi berdiri, kembali menyandang tasnya di punggung. "Jadi berhenti menyalahkan diri lo sendiri atas apa yang terjadi pada Athena. Ini semua bukan salah lo. Ini merupakan takdir Athena dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Lo juga nggak mau, kan, Athena marah sama lo karena selalu menyalahkan diri lo sendiri?" Naomi menyentuh pundak Dewa memberikan cowok itu semangat. "Yang harus lo lakuin sekarang cuma satu, yaitu berdo'a demi kesembuhan Athena."
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Fiksi Remaja"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)