22.45 malam dan Athena masih belum bisa menutup mata untuk tidur. Matanya masih tertuju pada layar ponsel di tangannya. Menunggu Dewa untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya karena masih ada waktu sebelum hari kelahirannya berakhir tengah malam nanti. Athena masih berharap bahwa Dewa akan meneleponnya. Ia juga sudah mengirim banyak pesan dan chat pada cowok itu namun tidak di balas. Jangankan di balas, di baca saja tidak.
Athena jadi semakin geram dengan cowok itu. Apakah Dewa benar-benar tidak akan mengucapkan apapun padanya? Apakah Dewa benar-benar tidak ingat hari ulang tahunnya? Padahal Athena sudah membuat agenda di ponsel Dewa bahwa hari ini, tepat tanggal 14 Juli adalah hari ulang tahunnya.
Dewa benar-benar kejam sampai cowok itu lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri.
Athena semakin erat memeluk Kitty. Berusaha agar tetap kuat, namun air matanya terus saja keluar tanpa ia inginkan. Athena menoleh ke sebuah meja di samping meja belajarnya. Dimana semua hadiah dari teman-teman dan keluarganya belum ia sentuh sama sekali. Yang Athena inginkan hari ini adalah Dewa. Cowok itu mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Hanya itu. Tapi kenapa sulit sekali?
Rasanya Athena benar-benar sedih. Ia semakin meremas boneka di pelukannya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Dewa jahat," lirih Athena terisak. Ia tidak tahan lagi untuk tidak menangis.
DdrrttDdrrtt
DdrrttDdrrtt
Athena mendongak saat ponselnya berdering. Layarnya menyala menampilkan sebuah nama yang sayangnya bukan dari Dewa. Malah disana tertera nama Ben. Athena semakin malas mengangkatnya.
Athena tidak peduli dan membiarkan ponselnya mati.
DdrrttDdrrtt
DdrrttDdrrtt
Lagi-lagi ponselnya berbunyi dan itu masih sama dari Ben. Dengan malas Athena mengangkat telepon tersebut. Tidak peduli jika nanti Ben mendengar suaranya yang serak karena menangis.
"Halo," ujar Athena. "Apaan?!"
"Na, lo di rumah kan?" tanya Ben di seberang.
"Emang kenapa?" tanya Athena mengusap hidungnya.
"Keluar sekarang, Na. Ada yang mau gue kasih tau sama lo. Ini tentang Dewa."
Sontak mata Athena membulat saat mendengar nama Dewa apalagi dengan nada cemas dari Ben.
"Apa?! Dewa? Dewa kenapa, Ben?!"
"Makanya lo keluar dulu!"
"Ngomong dulu! Baru gue keluar!"
Ben menghela napas di seberang sana.
"Dewa dalam keadaan genting! Dia di serang sama beberapa orang!"
Mata Athena kembali memanas mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya terasa lemas.
Namun dengan cepat ia kembali sadar dan segera beranjak dari kasur. Memakai sweater rajut dan keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Bahkan Athena tidak mendengarkan seruan dari orangtuanya di ruang tengah. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada Dewa. Hanya Dewa.
Di luar rumah Athena mendapati Ben yang duduk di motornya dengan wajah panik.
"Dewa mana?" tanya Athena langsung di dekat Ben.
"Ikut gue sekarang," ucap Ben.
Athena tidak bertanya lagi. Ia segera naik ke atas motor Ben dan pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
DESTINY [ END ]
Teen Fiction"Aku tidak pernah menyalahkan rindu, sebab rindu hadir karena adanya KENANGAN." -Dewa Althaf "Aku juga tidak pernah menyalahkan pertemuan, meskipun akhirnya adalah PERPISAHAN." -Athena Wiatama Husein •••• Dewa Althaf. Satu nama yang di pandang sebag...
![DESTINY [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/229239070-64-k419819.jpg)