Ada yang lain. Ada yang lain dari persahabatan ini setelah dua bulan kelas dua.
Aku memang selalu fokus dengan nilai-nilaiku apalagi kemarin baru saja musim ulangan yang pertama. Aku ketinggalan sesuatu. Tetapi aku tidak mau subjektif, aku pastikan dulu baru aku bertanya.
"Ruben enggak kempo lagi, Al?"
"Enggak Va. Dia sibuk."
"Sibuk apa tiga kali dia enggak kempo?"
Alfa hanya mengangkat bahu.
Yah Ruben. Aku merasa dia berubah. Aku tidak tahu alasannya, yang aku ingat kami semua baik-baik saja terakhir sebelum ulangan kemarin.
"Al."
"Yah?"
"Apa kamu tahu sesuatu tentang Ruben?"
Alfa menelan ludah. "Kenapa?"
"Aku merasa ada sesuatu yang berubah dari Ruben. Seminggu setelah ulangan kemarin dia enggak pernah bareng kita, bahkan aku enggak lihat di sekolah. Apa aku yang terlalu sibuk belajar atau Ruben yang sibuk OSIS ya?"
Alfa tidak ingin banyak bicara.
"Al. Ada apa?"
"Maksudnya?"
"Apa kamu enggak baca ada perubahan?"
Malam ini aku sengaja bersahabat dengan sunyi, aku memilih diam daripada menyakiti dua sahabatku. Aku tidak tahu apakah Ruben dan Diaz sudah resmi pacaran, aku tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya menyelimuti gadis dihadapanku ini, kehilangan cinta atau kehilangan kebiasaan? Izinkan aku untuk tetap diam.
"Aku antar kamu pulang."
Sepanjang malam ini Alfa dan Vanya hanya diam, satu kata pun tidak terucap. Alfa memilih bisu sementara Vanya bergumul dengan pikirannya tentang Ruben.
"Aku enggak usah masuk ya Va, sudah malam, nanti orang rumah sewot lagi."
"Masuk Al." Suara teduh Alvaro tiba-tiba membuka pintu. "Nanti kami antar kamu ke rumah. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
Alfa bingung. "Boleh."
"Aku bikin cokelat panas ya Al."
"Apa kamu tahu banyak tentang Servagio Adam?"
Alfa menggeleng. "Apa yang Vanya tahu, itu juga yang saya tahu. Saya pernah bicara sama Igo waktu Vanya masuk Rumah Sakit, saya kasih tahu dia Vanya diopname, tetapi Vanya bilang dia enggak dateng. Saya hanya berpikir mereka pacaran jadi seharusnya Igo tahu. Kak Alvaro juga tahu kan kalau Igo yang menyelamatkan Vanya?"
"Dan sampai sekarang Vanya enggak tahu kalau Igo yang jagain dia kemarin?"
Alfa menggeleng. "Kami menyembunyikan rahasia ini dari Vanya. Tetapi hanya aku yang tahu pasti kalau Vanya dan Igo pacaran, Mutia dan Ruben hanya berprasangka karena kekhawatiran Igo kemarin menggegerkan sekolah."
"Vanya dengan Ruben?"
"Sahabat."
"Ruben jatuh cinta sama Vanya?"
"Vanya hanya menganggap Ruben sahabat."
Alvaro mengangguk. "Tolong jaga dia Al."
"Kami semua saling menjaga Kak."
"Perlakukan Vanya seperti saudara perempuanmu."
Alfa sempat berpikir maksud Alvaro meminta itu. "Pasti. Dan aku tidak akan melanggar perjanjian ini. Aku akan menjaga Vanya seperti saudara perempuanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomansaVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
