Entah apa yang terjadi sekarang Ruben sudah punya waktu lagi untuk Tujuh Sahabat. Ini memang sedikit lebih maju tetapi tetap saja tidak merubah apapun. Karena Tujuh Sahabat tidak akan bercanda dan ngobrol seperti dulu lagi. Sudah ada batas tebal yang memisahkan Ruben dan Vanya.
Aku memang egois karena tidak berlapang dada dengan keputusan Ruben pacaran, aku janji akan bersikap biasa, sebiasa perasaanku menanggapi kehadirannya.
Aku akan berusaha sangat tenang dan biasa saja. Aku tahu mereka protes setiap kali aku mengajak Diaz, aku harus kembali seperti Ruben yang dulu. Persahabatan ini sudah aku kacaukan. Take a deep breath, everything gonna be OK!
Tujuh Sahabat jalan bergerombol lagi membelah lapangan. Tetapi posisi Vanya tidak lagi bersama Ruben. Anggun menggandeng lengan Vanya dan berusaha membuat sahabatnya itu ceria. Vanya benar-benar menanggapi keceriaan Anggun, ia tidak mau dianggap cengeng oleh Ruben!
Aku harus bisa sembunyikan kecewa dan sakit ini. Kalau perlu menghapusnya!
Sore ini Tujuh Sahabat nonton dan makan pizza. Member complete! Sekalipun semua tahu kalau Vanya dan Ruben saling diam. Tetapi mereka tidak mau menyinggung itu. Tidak mau menyia-nyiakan hari ini.
Aku sempat melihat Ruben tertawa lepas, sepertinya dia tidak mau tahu perasaanku. Buat apa aku capek memikirkannya. Sudahlah mungkin ini jalannya. Aku akan melepas dia.
Setiap Vanya bergerak aku mengawasi dia dengan sudut mataku. Aku tahu dia membuat jarak sejauh mungkin untuk tidak kontak langsung denganku. Sebegitu sakitnya dia sampai bersikap dingin seperti ini. Aku tahu, dia hanya tidak ingin kembali ke masa-masa kebersamaan kami kelas satu. Maafin aku Va.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
रोमांसVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
