"Kau siap ujian akhir sekolah?"
"Siap Papi. Selama ujian apa Papi mau antar aku?"
"Pasti. Papi senang dengan keputusanmu kuliah kedokteran di Harvard."
"Aku akan jadi dokter terbaik."
"Kau cantik, pintar, suaramu indah, kau punya segalanya, bahkan kau punya sahabat terbaik dan masa SMAmu sangat menyenangkan, diperebutkan dua cowo tampan yang hebat. Itu sudah cukup. Kalau kau dapat beasiswa juga kau keterlaluan, Tuhan bisa dituntut tidak adil."
Aku tersenyum. Ya Papi benar! Aku terlalu sempurna untuk beasiswa kedokteran Universitas Indonesia. Mungkin ini cara Tuhan supaya dunia ini adil. Sekalipun aku kuliah dengan cara yang berlebihan juga dibanding teman-teman sekolahku.
Aku siap ujian!
Aku tidak boleh kalah dengan emosiku.
Aku harus menyeimbangkan semuanya dengan logika dan tidak boleh membiarkan otakku lemah.
Aku harus lulus dengan predikat terbaik. Harus!
Aku duduk manis siap menjawab semua ujian akhir sekolah. Ini pembuktian terakhir di sekolah ini. Aku bukan Vanya asing yang hanya jual tampang tetapi aku Vanya yang punya otak gemilang. Minggu ini aku akan mempertaruhkan nama baikku untuk masa depanku. Semua soal-soal ini aku baca dengan sangat teliti dan aku jawab dengan arsiran pas yang benar. Aku berharap kami semua lulusan terbaik.
Detik demi detik berputar. Hari pertama selesai berlanjut hari berikutnya. Sampai ketegangan ini agak longgar karena satu tahap selesai sudah, tinggal menunggu hasilnya. Satu tahap lagi menuju puncak.
"Bagaimana?" Kami melontarkan pertanyaan yang sama di hari terakhir UAS.
"Menegangkan dan memutar otak." Jawab Bayu.
"Aku sama sekali tidak mengangkat mukaku sampai bel."
"Kau takut dimintai contekan Johan?" Bayu merangkul Johan.
"Tidak, aku yakin kelasku sama sepertiku. Fokus."
"Aku berharap kita lulus semua."
"Ada beberapa soal yang aku ragu jawabannya tetapi semoga dapat nilai bagus.
"Aku bisa, aku harus lulus. Kita harus lulus!"
"Yeyy!!!" Teriak kami.
"Kau sudah daftar polisi?"
"Sudah. Doakan semoga aku lulus."
"Pasti. Kau akan jadi orang hebat nanti."
"Kau juga." Aku melihat senyum Ruben melebar.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Aku menyikut Ruben.
"Aku pasti akan kehilanganmu."
"Alasannya?"
Ruben mengangkat bahu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
Storie d'amoreVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
