Servagio Adam ???

1.1K 58 2
                                        

Vanya Fernandez

Kelasku masih hangat membahas pelajaran Fisika bab baru. Aku dan Anggun ikut. Bahkan sampai istirahat habis kami masih di kelas. Aku dan Anggun sering melakukan ini sehingga kami jarang sekali ke kantin sekarang, apalagi area kelas tiga jauh dari kantin, itu membuat kami malas.

"Dengar! Setelah ini kelas kita akan kedatangan beberapa instansi pendidikan."

"Oh yah?"

"Mereka akan masuk ke kelas kita setelah istirahat ini, mengganti satu jam pelajaran BK. Salah satunya dari sekolah penerbangan."

"Waaooww!"

Aku tidak tertarik. Aku pun melanjutkan kegiatanku mendalami bab baru Fisika tadi. Aku membiarkan Anggun ngobrol dengan yang lain, mungkin dia jenuh belajar.

"Selamat siang!"

Aku mendengar mereka membahas sambil terus mengerjakan soal. Aku tidak tertarik dengan sekolah penerbangan karena aku tidak ada niat jadi pilot. Pikiranku sama sekali tidak ke sana, sibuk dengan soal-soal di depan mataku.

"Dan salah satu dari alumni kalian sudah membuktikan, Servagio Adam."

Tiba-tiba aku berhenti. Servagio Adam. Apa aku tidak salah dengar?

"Selamat siang!"

"Igo!!" Seru teman-teman sekelasku.

Jantungku berdebar kencang. Aku belum berani mengangkat wajah. Dia datang lagi!

"Masih ingat saya?" Pertanyaan Igo disambut meriah.

Tanganku basah. Aku sudah tidak kuat memegang pulpen. Otakku tak mampu berpikir lagi. Bagaimana mungkin aku masih merasakan getaran ini lagi? Aku mengatur diriku sendiri. Menenangkan semua kegelisahan yang bergejolak. Aku harus bisa bersikap biasa.

Igo memberikan penjelasan tentang sekolahnya. Suaranya tertata matang sekarang.

Aku berusaha keras mengangkat wajahku untuk menatap ke depan. Dan. Aku melihatnya sekarang. Gagah sekali dengan seragam penerbang. Parasnya semakin dewasa dengan tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang keras. Seragam itu membalut tubuhnya dengan sempurna!

Aku berusaha tidak terjadi apa-apa. Aku yakin dia tidak sadar aku di kelas ini. Mungkin karena terakhir rambutku pendek dan sekarang rambutku sudah panjang lagi dan aku kuncir karena tidak mau terganggu ketika belajar. Atau mungkin dia lupa.

Tidak! Dia tidak lupa. Akhirnya kami bertemu tatap secara tidak sengaja.

Aku merasa dunia berhenti berputar seketika!

Ia sempat menatapku lama dari depan sana. Aku meladeninya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kemudian aku mengalihkan pandangan ketika partnernya menyudahi presentasi. Kami pun tepuk tangan.

Presentasi selanjutnya masuk lagi. Aku sama sekali tidak tertarik mendengarkan mereka. Aku nunduk, bukan belajar melainkan menata debar jantungku karena Igo. Dia datang lagi. Datang di saat aku dan Ruben memang sedang dekat-dekatnya. Aghh Vanya!! Benar kata Ruben. Ya Tuhan dosa apa ini?!! Kenapa justru di kelas tiga aku malah jadi terlibat cinta segita?!

"Apa Igo juga masuk kelas kalian?" Tanya Johan ketika kami pulang sekolah. Kami masih di kantin.

"Yah. Dia keren sekarang. Aku jadi pingin sekolah di penerbangan." Sahut Bayu.

Aku dan Ruben diam saja. Aku melirik Ruben, dia sangat tenang menikmati makan siangnya. Sama seperti Igo yang dulu tenang menikmati makan siangnya ketika sahabat-sahabatku menjodohkan aku dengan Ruben. Aku bahkan tidak bisa menelan es teh manisku.

"Bangga yah kalau sudah keren seperti itu kemudian datang ke sekolah." Ucap Johan. "Aku bermimpi akan seperti itu. Semoga Dewa berpihak padaku selama kuliah."

"Kau serius mau jadi arkeolog?"

"Pasti Bayu. Itu cita-cita lamaku."

Obrolan mereka seperti kafilah. Aku benar-benar bad mood.

Aku bahkan tidak menanggapi obrolan ini satu kata pun. Ruben pasti tahu apa yang sedang terjadi padaku. Kami sempat bertatapan lama. Dia hanya tersenyum tampan.

"Kita ke mana?"

"Ke rumahku saja." Sahut Bayu.

Aku benar-benar menghilangkan stress dengan bermain basket. Aku tidak mau membahas ini dulu dengan Ruben, Ruben juga kelihatannya tidak mau membahas ini. Ia tampak tenang sampai pulang.

***

Potret PersahabatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang