Aku sekarang di atap.
Tetapi bukan di atap kamar Ruben.
Di sini. Di langit.
Di dalam sebuah pesawat yang membawaku terbang meninggalkan Jakarta, meninggalkan Servagio Adam dan meninggalkan kelima sahabatku jauh di bawah sana. Sudah hampir dua jam aku tak mengalihkan pandanganku dari awan yang berarak. Aku memikirkan semua yang sudah terjadi di belakang sana. Semua hal yang membuat aku mengambil keputusan besar dalam hidupku. Lagi untuk sebuah hal yang sangat berbeda dari pergaulanku sebelumnya. Selalu begitu. Aku bingung kenapa aku berbeda sekali. Semoga ceritanya nanti membuat aku lebih baik dari hari ini.
"Kau sudah merindukan salah satu dari mereka?"
"Aku sudah ambil keputusan Al."
Alfa menoleh.
"Igo." Vanya senyum tulus.
Alfa menghembiskan nafas lega.
"Heiii..kenapa kau menghembuskan nafasmu begitu?"
"Kau berhasil mendengarkan suara hatimu, bukan egomu."
Vanya senyum menatap Alfa. "Menurutmu begitu?"
Alfa mengangguk membalas tatapan Vanya.
"Bantu aku menemukan Vally ya Va."
"Itu pasti."
Mereka tertawa kecil.
"Itu pin Ruben?"
"Yah. Ini kenang-kenangan dari dia."
"Aku salut sama dia."
"Kalau kau tadinya tidak jadi abang angkatku, kau kasih aku kenang-kenangan?"
"Tidak tahu. Aku tidak mau berandai-andai. Ini adalah jalan hidup terindah setelah pengalaman pahit hidupku."
"Kau pasti sudah tidak sabar menginjakkan kaki di Harvard."
"Kau benar."
"Untung saja ada kau Al."
"Untung juga ada kau Va."
Keduanya tertawa lagi."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
