Vanya Fernandez

1.2K 58 14
                                        

Vanya Fernandez

Aku duduk di depan koperasi. Menikmati teh kotak dan bakwan jagung.

"Vanya."

Aku bergeser. "Jangan terlalu dekat nanti mantanmu melempar pakai tasnya."

Ruben malah menarik hidungku. "Kau mau ikut?"

"Ke mana?"

"Jalan. Mereka punya urusan masing-masing."

"Kamis yang menyedihkan. Kita mau ke mana? Emm.. kita ke atap saja boleh?"

Ruben mengangguk.

Kami di atap sekarang, memandang langit cerah sambil bernyanyi merdu.

"Apa kau masih dendam samaku Vanya?"

"Tidak. Kalau dendam aku tidak mungkin duduk di sini lagi."

Ruben menarik wajahku. Menatap dalam mataku. Kami bertatapan lama sekali.

"Vanya.."

"Jangan katakan apapun Ruben. Jangan." Aku memotong. Aku takut. Yah aku takut Ruben menyatakan perasaannya dan memintaku jadi kekasihnya. Situasi ini sangat mendukung. Aku tidak punya jawaban apapun.

Ruben hanya menatapku.

Mataku berkaca-kaca. Aku tidak kuat. Aku langsung mendaratkan wajahku kedada Ruben, ini penolakan yang sangat aman. "Sampai aku benar-benar siap."

Kami sama-sama diam. Ia tidak bicara apapun. Aku pun tidak bicara.

Aku tidak dapat menahan perasaanku. Air mataku tumpah. "Kau mau tahu kejujuran Ruben?" Aku melihat wajah Ruben berubah. Ia menunggu aku melanjutkan kalimatku. "Tapi kau janji tidak akan meninggalkan aku setelah ini?"

"Apapun itu Vanya. Aku sudah menunggumu terlalu lama."

"Ruben?" Mataku nanar. Dadaku bergetar mendengar pengakuan Ruben.

"Aku jatuh cinta sejak kita mulai sangat dekat. Aku menahan karena aku sadar kau hanya menganggapku tidak lebih dari sahabat. Dan ketika kau sakit hati, aku semakin mencintaimu sekalipun aku tidak tahu apa yang terjadi padamu."

"Aku pacaran sama Igo. Kami menjalaninya benar-benar dengan cinta. Aku begitu jatuh cinta padanya sampai aku benar-benar rela demi apapun cara pacaran kami. Dia juga mencintaiku dan kami sama-sama sakit menghadapi hubungan ini. Ia cemburu padamu, Igo tahu kalau kamu mencintaiku." Aku menatap Ruben. "Aku bahkan tidak pernah tahu itu Ruben, aku baru mendengarnya sekarang." Aku menghapus butir air disudut mataku.

"Igo meninggalkan aku tanpa kabar. Dia menghilang. Pertemuan kami terakhir ketika acara Tribute For Third Graduation. Hubungan ini tidak tahu mau di bawa ke mana. Aku bahkan tidak tahu harus menunggunya atau tidak. Aku benar-benar merahasiakan ini dari kalian karena aku takut."

Ruben memelukku. Ia mendekapku dalam peluknya. "Aku sudah tahu." Ruben diam sejenak. "Dia tidak menyerangmu padahal kau mematahkan tangannya, dia tidak membalasmu padahal kau meludahinya, dia menculikmu saja tanpa melukaimu, aku melihat dia menatapmu berbeda setiap kali kita berpapasan. Dia mengunci kalian berdua di ruang Pramuka dan kalian sama-sama menangis. Dan dia yang menolongmu ketika kau pingsan di depan koperasi. Dia begitu mengkhawatirkanmu saat itu. Maaf aku merahasiakannya. Terakhir aku melihat kau dan dia di area kelas tiga tetapi kau datang sendiri dengan mata habis menangis."

"Jadi kau tahu semuanya?"

"Tidak tahu pasti. Kalian benar-benar rapat menyembunyikan ini."

"Karena aku tergila-gila pada Igo."

"Dia juga. Aku bisa melihat itu dimatanya."

"Dia meninggalkanku tanpa pesan. Dia begitu marah karena cemburu. Terserah, itu kata terakhir Igo. Sakit sekali." Aku tak dapat menahan sesak, semua kalimatku mengalir begitu saja. "Dan aku kehilanganmu kemarin benar-benar menyiksaku." Termasuk rasa ini.

"Aku tidak tahu kau merasakan sakit kalau aku meninggalkanmu. Aku sadar kita hanya sahabat. Aku tidak mau perasaan ini terlalu dalam untuk melewati batas itu."

"Tapi kau benar-benar melukaiku kemarin Ruben. Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu egois, aku pikir kita memang sahabat tapi aku sangat cemburu. Aku tidak ingin kau tahu kalau aku melanggar persahabatan ini maka itu aku menghindar dan bersembunyi."

"Kau sedang labil. Aku tidak akan mengatakan apapun. Mengalir saja. Aku lebih suka seperti ini. Aku merasa nyaman bersamamu."

Aku bersandar didadanya. Ia merengkuhku. Nyaman sekali. "Apa kau risih aku menatapmu marah kemarin?"

"Aku justru merasa bersalah."

"Apa yang ada dipikiranmu saat itu?"

"Ternyata kau sama denganku."

"Tapi aku takut Ruben."

"Kau takut Igo akan kembali dan kau bingung memilih?"

"Yah."

"Nanti kau akan tahu diujungnya Vanya."

"Kau?"

"Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu."

"Kau yakin?"

"Yakin. Aku tidak mau jatuh untuk keduakalinya."

Dunia memang indah jika kita melihat tidak dengan satu mata. Aku menerima Ruben kembali sebagai sahabatku dan ia menerima aku kembali sebagai sahabatnya. Setelah semua yang kami lalui. Igo dan Diaz. Aku tidak dendam dan dia pun tidak ingin merebutku dari Igo. Semua ini adalah warna-warni, kalau kami pernah tertawa ceria seperti kuning, saling menyayangi seperti merah jambu, saling melindungi seperti biru, pasti kami juga pernah bertengkar seperti hitam dan pernah diam menjauhi seperti abu-abu. Pasang surut air laut menandakan kehidupan. Dan persahabatan kami hidup!

***

Potret PersahabatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang