Child Abuse

1.2K 53 0
                                        

"Al." Vanya melambaikan tangan ketika ia baru saja turun dari mobil. "Sore ini.." Vanya terdiam. "Pipi kamu kenapa? Bapak kamu lagi? Ini keterlaluan Al. Kamu harus laporin setidaknya guru BP. Kalau kamu takut aku aja yang laporin."

"Va jangan Va."

"Child abuse. Ini ada hukumnya Al."

"Bapak aku cuma enggak ngerti cara mendidik anak cowo satu-satunya."

"Dan ibu kamu kompor meleduk?"

"Sudahlah Va. Ini urusan keluarga aku."

"Urusan hukum kalau sampai sekacau ini Al."

"Jangan bebanin semuanya semakin berat Va. Aku baik-baik aja."

"Babak belur gini kamu bilang baik-baik aja? Apa kamu jawab orang-orang nanti pas tanya pipi kamu biru? Jatuh dari tempat tidur?!" Vanya menjawab ketus. "Ooo jangan-jangan bahu kamu dihajar juga." Vanya menarik bahu Alfa.

"Aaaaaaaa!!!" Spontan Alfa teriak.

"Sakit banget? Aku lihat Al." Vanya memaksa sementara Alfa tidak bisa mengelak lagi. "Aaaalll, ini parah." Vanya kaget. "Ini enggak bisa didiemin Al."

"Tenang aja Va. Aku sudah biasa."

Vanya menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Aku bisa bantu kamu Al. Jangan tertutup yah, plis. Jangan merasa sendirian Al, masih ada aku."

Alfa tersenyum. "Thanks Va."

***

"Vanya."

"Kak Al?"

"Tumben kau masih di ruang makan jam segini? Enggak belajar?"

Vanya menggeleng. "Sesuatu terjadi pada Alfa. Dia dihajar Bapaknya sampai biru. Dan dia masih bilang dia baik-baik saja. Aku rasa dia takut atau sayang berlebihan?"

Alvaro terkesiap. "Kejahatan pada anak?"

"Mau tolongin Alfa kan Kak? Dia baik banget sama Va."

"Pasti." Alvaro mengangguk yakin. "Kau sudah hubungi dia malam ini?"

"Ponselnya mati. Sepertinya Alfa enggak mau diganggu."

Diwaktu yang sama Alfa terbangun dari tidur. Tubuhnya masih terasa nyeri dan perut mulai keroncongan. Tetapi dia segan turun, tidak peduli ia harus mati kelaparan.

Mbak Ersa tanpa diundang masuk membawa sepiring nasi ikan dan segelas air. "Mbak tahu kamu lagi demo." Mbak Ersa mengamati Alfa yang hanya diam. "Makanlah. Mereka belum pulang. Kalau sudah biar aku langsung cuci piringnya."

"Apa kau tahu silsilahku?"

Kepala Mba Ersa menegang. Tangannya menggantung di tuas pintu.

"Katakan kalau aku anak tiri. Itu justru menghiburku."

"Tentu saja kau saudara kandungku." Mba Ersa langsung keluar, ia tidak mau melanjutkan percakapan yang akan membahayakan dirinya sendiri.

Alfa memejamkan mata. Setelah kesabarannya yang sedang diuji ia temukan kembali ia lalu meraih ponsel dibawah bantal kemudian menekan tombol ON.

"Vanya?"

Berderet pesan semua dari Vanya. Senyum dibibirnya tersungging. Ia kemudian mengirim tiga kata "Aku baik-baik saja." Kemudian bercermin. Masih biru.

"Sudah selesai?" Mbak Ersa masuk lagi. "Kenapa belum dimakan? Nanti mereka keburu dateng. Kau mau piring itu melayang?"

"Ada yang saya ingin tanyakan Mbak. Apa yang Mbak tahu?"

"Jangan ngaco kamu. Kamu saudaraku."

"Tetapi dugaanku semakin kuat kalau aku bukan anak kandung mereka. Mereka sudah bertahun-tahun memperlakukan aku seperti sampah."

"Kau harapan mereka satu-satunya."

"Apa aku pernah mengecewakan?"

"Mungkin menurut mereka.."

"Mungkin menurut mereka. Kau selalu saja membela mereka!"

"Mereka orang tua kita."

"Tidak layak disebut orang tua."

"Sikapmu yang seperti ini yang selalu memancing emosi mereka."

"Mereka yang duluan."

"Cukup! Kau seharusnya pikir baiknya saja."

"Aku sudah bertahan selama ini."

"Memang begitu seharusnya."

"Sampai kapan?"

"Sampai kau wisuda."

"Agh!!"

"Aku dan Arlin berharap kau jangan melawan mereka lagi. Kami jantungan."

"Lalu aku? Aku gila!"

***

Potret PersahabatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang