Kau tahu? Itu untuk yang terakhir kalinya.

1.2K 57 0
                                        

Kau tahu? Itu untuk yang terakhir kalinya.

Well, teater dan seminar lancar. Cukup. Ini yang lebih penting. Tiba saatnya Award. Vanya melihat sesuatu yang ganjal dan itu membuat dia gemetar kaget, darahnya mendidih dan ototnya tegang. Sekejap matanya berbinar mau nangis. Vanya melihat Ruben di depan ruang OSIS bercanda mesra dengan anak kelas I. Dan itu rasanya sakit sekali.

Dadaku sesak, aku lemas, otakku kacau.

Vanya menangis sejadi-jadinya, mengunci diri menenggelamkan pesakitan.

Entah setan egois apa yang menyerangku, aku mengaku kalau aku cemburu. Aku masih mencintai Igo dan berharap besar sama hubungan kami. Tetapi Ruben?? Kami terlalu dekat untuk ada perempuan lain. Aku memang sahabatnya, sahabat, yah aku memang hanya sahabat. Vanyaaa!!!! Jangan egoiss! Kamu sendiri yang menekankan kalau kalian tidak lebih dari sahabat. Tapi kenapa kamu melanggar hatimu sendiri?!!

Entah apa yang akan terjadi di sekolah hari-hari ini, aku enggak tahu kuat atau enggak.Enggak semangat sekolah. Aku merasa satu sekolah tahu kalau aku patah hati. Yah aku patah hati. Aku terlihat bodoh bukan?

"Kantin yuk Va." Teman sekelas Vanya berkali-kali mengajak tetapi ia menolak. Ia tidak mau menguji hatinya untuk melihat sesuatu yang tidak diinginkan. Memilih menghindar. Jauh dari semuanya.

***

"Al." Vanya sudah di depan kelas Alfa ketika bel pulang sekolah berbunyi tiga kali. Wajah sendunya tidak bisa disembunyikan lagi. "Boleh aku minta waktu?"

Alfa mengangguk. Ia langsung menggamit lengan Vanya dan menuntun sahabatnya itu keluar dari sekolah.

"Aku dijemput Al."

Beberapa detik Alfa sempat mengamati wajah pilu dihadapannya, hatinya teriris mendengar suara Vanya yang juga pilu. Ia tahu apa yang membuat Vanya seperti ini. "Kita ke sana sekarang." Alfa menunjuk Porsche hitam.

Siapa lagi yang punya mobil itu selain Vanya di sekolah ini?!

"Siang Non." Sapa supir sambil membukakan pintu.

"Ruben." Isak tangis Vanya langsung mencairkan gunung es dihati Alfa.

Alfa langsung merengkuh sahabatnya itu dan membiarkan Vanya menangis dipelukannya. "Nangis aja Va, lepas sesak kamu." Seketika itu juga tangis yang selama ini ditahan di sekolah meledak. Alfa mengepal jemarinya.

"Aku salah Al. Aku seharusnya enggak nangisin dia, aku punya Igo dan selama ini aku hanya menganggap dia sahabat. Tetapi jujur aku sakit Al, aku egois."

Alfa semakin mengeratkan pelukannya. "Ini hanya soal waktu Va. Kalian bertemu bukan diwaktu yang tepat."

"Aku benci nangis terus karena cowo Al. Aku benci sama diriku sendiri."

"Enggak boleh gitu Va. Kita memang lagi diusia labil. Kalau enggak mau terlihat lemah, gunakan logika lebih besar dari perasaan, kamu pasti kuat. Tegar. Ada aku."

Terlalu banyak kenangan di sekolah ini tentang mereka berdua. Bukan hanya setiap sudut sekolah yang tahu betapa dekatnya dulu mereka berdua, bahkan semua siswa dan guru pun tahu kalau mereka sama-sama menyimpan perasaan istimewa itu dengan sangat rapi. Ini memang sedih. Aku sendiri ikut emosi!

***

Potret PersahabatanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang