Anggun menelepon ku tengah malam. "Aku ingin menyampaikan sesuatu Va."
"Harus tengah malam?"
"Faisal. Aku enggak sengaja ketemu dia di bis kemarin. Ngobrol. Soal Diaz."
"Ada apa?"
"Diaz anak broken home. Dia kehilangan cinta kedua orangtuanya dari masih sangat kecil. Almarhum kakak Faisal yang memberikan dia cinta, maka itu ia mengikatnya dengan kemanjaan akut. Setelah meninggal, Diaz benar-benar terpuruk, jiwanya kacau. Setelah Ruben datang Ruben berhasil menyembuhkan luka kehilangan dihati Diaz dan menambatkan hatinya benar-benar pada Ruben. Alasan gilanya selama ini karena dia tidak mau kehilangan lagi. Dia merasa masuk ke sekolah itu adalah takdir untuk bertemu dengan Ruben. Makanya dia tidak bisa melepas Ruben, dia takut kehilangan lagi setelah Ruben lulus. Dia tipe yang mencintai satu pria abadi."
Aku menarik nafasku berat. Aku tidak menyangka Diaz benar-benar rapuh. Air mataku menetes. Aku tidak jauh lebih baik dari Diaz. Dia bisa jatuh cinta abadi dengan satu pria dan memperjuangkan cintanya seburuk apapun situasi yang mengelilinginya. Tetapi aku? Aku begitu lemah memperjuangkan Igo hanya karena jarak dan waktu padahal Igo masih memperjuangkan aku dengan cintanya. Hatiku terketuk. Aku sadar. Aku belajar dari seorang Diaz tentang cinta.
"Vanya kau masih di situ?"
"Ya Anggun."
"Vanya apa kau marah pada Ruben?"
"Tidak. Aku tetap menyayanginya, sebagai sahabat. Dia bukan takdirku."
"Apa karena Ruben pernah berhubungan dengan Diaz?"
"Tidak sama sekali." Aku menarik nafas panjang. "Diaz saja bisa jatuh cinta hanya pada seorang cowo dan dia begitu keras memperjuangkan cintanya apapun situasi yang mengelilinginya. Dia bahkan sangat patah hati dan bertahan dalam derita hanya untuk setia. Sementara aku? Aku selalu aji mumpung. Tidak ada Igo masih ada Ruben. Ruben pergi aku masih punya Igo. Aku terlalu serakah."
"Vanya. Tenangkan dirimu Vanya."
"Terima kasih Gun." Aku mematikan ponselku.
Aku menatap lampu taman dari kamarku dengan tatapan gamang.
"Apa aku mengganggu?"
"Masuklah Al. Aku baru saja teleponan sama Anggun."
Alfa tersenyum. Aku melihat senyum tulusnya terlukis tampan. "Segala sesuatu ada masanya dan segala masa pasti ada sesuatu didalamnya."
"Yah kau benar."
"Jagoanmu sudah menunggu."
"Jagoan?"
"Igo."
"Ini jam sepuluh malam Al?"
"Temui sekarang."
"Apa katanya kau di sini?"
"Dia tidak membahas itu, dia sepertinya tidak punya banyak waktu."
Vanya lekas menuruni tangga. Dan menemui Igo yang sedang menunggunya di gazebo. "Igo?"
"Vanya. Maaf mengganggu malammu"
"Kenapa tidak besok pagi saja?"
"Aku harus mengikuti pelatihan dan aku akan dikirim pendidikan selama tiga bulan. Aku tidak bisa menghadiri kelulusanmu."
"Tidak apa-apa Igo. Aku paham."
"Aku berjuang untuk masa depan kita, Va."
Vanya menatap Igo yang mulai serius.
"Mungkin ini terkesan konyol. Tetapi aku serius sama hubungan kita. Aku akan berjuang, aku tidak akan mengulang kebodohanku lagi. Aku berjuang untuk kita."
"Terima kasih Igo." Vanya mengembangkan senyum. "Aku akan kuliah di luar negeri, aku akan lebih jauh menyita segala jarak dan waktu, aku pikir kita fokus belajar dulu. Aku akan selalu berdoa untukmu Igo."
"Jadi?"
"Aku tidak mau menjanjikan apapun Igo. Jalani saja apa yang menurutmu benar."
Igo mengangguk. Wajah kesatrianya terpatri jelas kalau ia mendapat sebuah pernyataan yang menantang dari perempuan yang amat dia kasihi. "Aku tetap akan berjuang untuk kita Vanya. Kalau seperti ini yang harus aku hadapi."
"Igo."
"Kamu cinta pertama aku."
"Igo."
"Dengar, apapun yang kau lakukan kau harus punya prinsip untuk membentengimu, kau juga harus punya tujuan untuk mengarahkanmu, kau juga harus punya semangat untuk tetap bergairah dihari-harimu. Aku punya itu semua sampai akhirnya aku menemukan cinta, yaitu kamu. Ketika aku jatuh cinta, aku memperjuangkannya sangat keras dan aku mempertahankannya mati-matian untuk tetap melesat kalau perlu lebih tinggi lagi. Dan kau Vanya, kau yang melengkapi kesempurnaanku. Kau yang membuatku berubah jadi lebih dewasa. Apapun masalahmu di SMA, aku menganggapnya sebagai warna-warni masa SMAmu supaya tidak sekedar putih abu-abu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu dan tidak pernah seyakin ini. Kau tidak perlu ragu padaku. Berjuanglah untuk masa depanmu, kita sama-sama berjuang. Hidup hari ini untuk esok, bukan kemarin. See you on the top."
Detik ini juga aku benar-benar mengenal Igo.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
