Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bayu. Vanya. Mutia. Anggun. Ruben. Alfa. Johan

1.5K 66 0
                                        

Kami di sini. Membentuk sebuah lingkaran menatap sekolah. Tangan kami bergandengan. Merasakan persahabatan yang mungkin akan mendapatkan fase baru setelah kami melangkah keluar dari gedung ini.

"Mereka benar. Masa SMA masa paling menyenangkan. Aku pikir aku akan canggung pindah dari Bali ke Jakarta, ternyata melaluinya bersama kalian tidak seburuk itu. Tawa dan getir bersama kalian membuat aku mencintai masa putih abu-abu. Seperti belum rela untuk melangkah keluar dari sekolah, rasanya ingin sekali memeluk sekolah ini." Anggun.

"Aku juga. Persahabatan kita menjadi kebanggaan buat aku karena aku tidak pernah memiliki ini sebelumnya. Kalian menerima apa adanya aku dan selalu melindungiku. Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku tiga tahun ini. Ini tiga tahun terhebat sepanjang hidupku. See you on the top, mate!" Johan.

"Aku ingat, Senin pertama kita mengenakan seragam putih abu-abu. Aku menyapa Vanya, Anggun juga, kita baris bertiga mengikuti upacara. Sejak hari itu kita berteman. Bayu yang ramah, obrolan tentang ekskul, Alfa dan Ruben yang tiba-tiba datang, obrolan tentang Alfa dan Omega, dan Johan dengan keluguannya meminta pertemanan. Sejak hari itu aku semangat melalui hari-hariku bersama kalian di sekolah ini. Sekalipun waktu seleksi basket jujur aku grogi karena takut tidak diterima padahal kalian sudah rela menemani. Apalagi waktu Roland menarikku kasar, kalian melindungiku, saat itu aku merasa persahabatan kita benar-benar kental. Dan mulai merasakan apa yang kita rasakan."

"Awalnya di kelas satu aku kurang merasa nyaman karena sekelas dengan si ketua kelas. Tapi kalau boleh jujur, rasa tidak nyaman itu aku iseng untuk memperhatikan Vanya yang merasa asing. Tapi kesinian kok aku ngerasanya Mutia yah yang lebih memikat hati aku. Well, lepas dari setruman-setruman itu, ternyata sapaan iseng itu merambat jadi bertujuh, kita dekat dan semakin dekat, kejadian-kejadian mewarnai persahabatan kita. We did it rock guys!!! Gila! Masa SMA ini seorang Bayu bisa mendapatkan semuanya, termasuk Mutia!"

Kami tertawa. Mutia dan Bayu membawa kami ke masa lalu.

Hening.

Kami menikmati angin yang berhembus, terselip disetiap helaian rambut.

"Satu hal yang belum didapet di SMA. Omega dengan setangkai mawar merah."

Kami tertawa kecil mendengar celotehan Alfa.

"Kejadian Roland and the bastards yang merebut perhatian, kisah romantis Bayu dan Mutia, kenakalan-kenakalan kelas dua, kisah tarik ulur Ruben dan Vanya, menjadi hal yang menarik dan susah dilepas Bro!! Sementara seorang Alfa? Tidak satu kisah romantis pun yang lewat, sekedar lewat saja tidak. Tidak adil. Tadinya aku pikir kelas IPS adalah satu-satunya cara punya pacar di SMA, ternyata lolos begitu saja." Alfa.

​Tawa kami meledak.

​"Apa lagi yang harus aku bilang? Semua sudah kalian ucapkan. Aku yang asing mendadak Princess. Sepertinya seragam impianku ini memang bawa hoki dan hoki itu adalah kalian. Tapi ini bukan soal hoki, semua sudah dikotak-kotakan, kita memang sudah ditakdirkan bersama." Aku sempat diam.

Aku melanjutkan lagi. "Semuanya di sekolah ini sedetik pun masih berputar jelas diotakku. Aku minta maaf kalau pernah melakukan kebodohan. Satu hal yang perlu kalian tahu tentang aku. Selama ini aku punya rahasia yang aku sembunyikan rapat-rapat." Aku memejamkan mata. Aku pikir ini sudah waktunya jujur. "Selama tiga tahun ini aku pacaran sama Igo." Aku diam. Tidak kuat melanjutkan sesuatu yang selama ini mengendap. "Maafkan aku." Tenggorokanku tercekat. Hening.

Aku merasa mereka semua kaget.

"Aku menyembunyikan ini selama tiga tahun. Itu karena aku dan Igo sepakat untuk menyembunyikan hubungan kami. Kami pacaran sejak kelas satu semester dua, kalian ingat waktu aku galau kelas satu? Yah, pria itu Igo." Aku menggenggam kanan kiriku. Mereka balas menggenggamku. Johan dan Ruben.

"Hubungan kami enggak jelas waktu aku kelas dua, Igo berangkat tanpa kabar. Terakhir kami bertengkar, kalian ingat waktu Tribute for Third Graduation? Itu hari terakhir kami, Igo cemburu pada Ruben. Aku bahkan enggak tahu hubungan seperti apa kemarin. Labil." Aku menarik nafasku. Menyusun kata-kata. "Igo datang lagi dengan sekolah penerbangannya. Kalian tahu? Ia datang menemuiku."

Aku menunggu. Menunggu respon mereka. Ternyata mereka yang menunggu penjelasanku. "Maafkan aku." Aku berusaha menata hatiku supaya tidak menangis. "Aku masih merasakan getaran yang hebat, aku memang menunggu dan merindukannya." Aku memejamkan mata. Aku merasakan genggaman Johan menguat, tetapi genggaman Ruben melemah. "Maafkan aku Ruben." Aku melepas genggamanku dan jongkok. Aku melepas tangisku.

"Vanya." Suara lembut Johan terdengar ditelingaku. Ia ikut jongkok. "Kesetiaan adalah sesuatu yang paling berharga dalam hubungan asmara. Kau sudah memperjuangkan cintamu dan Igo sementara prahara kalian sangat kuat. Kau jangan merasa bersalah dengan semua yang kau lakukan, cinta memang datang dan pergi tanpa diminta, kalau kau berhasil memenangkan hatimu untuk kekasihmu sementara godaan mengelilingimu itulah yang disebut setia. Kau jangan menangis Vanya. Kau tidak salah."

"Berdirilah Vanya." Itu suara Ruben. Telapak tangan kirinya sudah lembut mendarat di puncak kepalaku, tangan kanannya mengangkat tubuhku lembut. "Lihat aku." Ruben mengangkat wajahku, menghapus air mataku. "Aku tidak apa-apa, aku tahu kita memang sangat dekat, aku tahu semua sudah terjadi begitu indah dipersahabatan kita khususnya kamu dan aku. Di depan yang lain aku mengakui kalau aku memang punya rasa khusus untukmu tetapi aku tidak ingin persahabatan kita retak lagi karena asmara. Tidak Vanya, aku tidak mau sakit lagi jauh dari kalian hanya karena tidak bisa menahan gejolak asmara. Aku tidak marah dan tidak menuntut kau membalas cintaku. Kau menerimaku kembali sebagai sahabatmu dan persahabatan ini erat lagi setelah kejadian aku kemarin, aku sudah sangat bersyukur. Itu jauh lebih berharga. Masih panjang perjalanan kita untuk membahas soal asmara, di depan sana terbentang bunga-bunga cinta yang pasti akan kita lalui, ini baru permulaan. Aku tetap di sini sebagai sahabat terbaikmu. Justru aku mengucapkan terima kasih karena kau mengajarkan aku sejuta rasa. Jangan menangis Vanya, kau harus tersenyum, senyum adalah kekuatanmu."

"Ruben." Aku menghempas tubuhku dipelukan Ruben. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Semuanya sangat indah ditelingaku. Tentram sekali.

"Ini baru aku lihat cinta segitiga dengan mata kepalaku sendiri, sahabatku sendiri. Vanya kejujuranmu sangat mahal. Aku semakin mengagumimu. Ketika kau mengikhlaskan Ruben untuk Diaz setahun lalu ini sama halnya dengan Ruben yang kini melepasmu untuk Igo. Aku yakin tidak seorang pun yang marah kau kekasih Igo. Seperti kata Roland dulu semua sudah berakhir dengan pertunjukkan itu. Ini warna-warni masa SMA kita, ini penutupan yang sangat luar biasa."

Aku menarik bibirku, membubuhkan senyum tercantik diwajah ovalku yang dari tadi merengut karena menangis. "Bayu." Aku langsung memeluk Bayu. "Kau selalu bisa membuatku tertawa ketika aku tidak tahu harus bertingkah apa."

"Yah aku tahu, termasuk ketika kau dan Ruben perang dingin."

"Bayu!!" Aku memutar jemariku diperut Bayu, ia menjerit.

"Kalau begitu kau bisa pesan sama kekasihmu supaya tidak menciderai aku nanti yah." Bayu memelukku. "Terima kasih Princess. Kalau kau tidak asing mungkin ceritanya akan lain."

Aku tertawa kecil. "Mutia, Bayu nakal!!"

"Aku sudah curiga sejak hari itu, aku melihatmu menangis ke toilet, ternyata karena Igo. Dan kejadian di basecamp Pramuka, improvisasi Tribute for Third Graduation, aku lihat kau dan Igo di koridor kelas tiga. Terakhir ketika Igo menolongmu di kantin pas kau pingsan, Ia begitu khawatir. Hari ini semua sudah jelas. Perasaan yang kau punya untuk Ruben aku rasa itu wajar karena kalian sangat dekat. Ini SMA, semua bisa saja terjadi."

Aku tersenyum. "Aku terpaksa bohong waktu itu."

"It's OK. Aku tahu alasannya sekarang." Mutia merangkul aku. "Kau tidak mengatakan apa-apa Anggun?"

"Aku sudah tahu semuanya. Kami sekelas. Vanya tidak mampu menahan dilemanya sementara mau ujian, jadi dia menumpahkan semuanya padaku. Well, aku senang akhirnya dia mengambil keputusan untuk terbang ke Amerika. Apakah kalian berpikir dia ekstrim? Dia bukan asing tetapi ekstrim!"

Kami semua tertawa.
***

Potret PersahabatanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang