"Normal day!" Alfa mengangkat kedua tangannya.
"Ada kabar gembira."
Enam Sahabat menanti kabar gembira yang dimaksud Bayu.
"Aku dan Mutia sudah pacaran."Bayu menatap satu-satu sahabatnya. "Apa kalian merestui kami?" Ia memberi jeda. "Kami akan mentraktir kalian makan siang hari ini, supaya kalian merestui." Bayu masih saja berguyon sementara kelima sahabatnya menganga kaget, ia malah menggamit tangan Mutia. "Kami jadian tadi malam."
"Serius Mut kamu terima Bayu?"
Mutia mengangguk ketika Anggun memastikan. "Mutia selamat ya, ternyata selama ini usaha Bayu enggak sia-sia."
Lagi-lagi sekolah ini menjadi saksi persahabatan yang semakin akrab dengan sebuah kisah dua sahabat yang kini maju satu langkah menjadi sepasang kekasih. Nada-nada sukacita terekam di langit-langit sekolah, angin dan udara meniup nada itu begitu hebatnya menjadi sebuah getaran kencang menciptakan chemistry. Hubungan ini kian tumbuh seperti pohon yang semakin hari semakin kuat dan lebat.
Aku juga sudah punya pacar sahabatku, tetapi aku harus merahasiakan ini. Kalian akan kaget kalau tahu siapa pacarku. Aku tidak sedang berbohong pada kalian, aku hanya menyembunyikannya. Suatu hari kalian akan tahu. Di waktu yang tepat.
"Bahagia yah mereka."
Alfa menoleh. "Kamu enggak bahagia lihat mereka?"
"Aku bahagia Al, tetapi kebahagiaan mereka seribu kali lipat dari kita."
"Kamu benar Va. Mereka saling beruntung."
"Apa ada keuntungan yang terhitung disetiap hubungan Al?"
"Tergantung dari mana kau memandang. Cinta bukan bisnis Va, bukan juga nafsu yang harus dituruti, bukan emosi sesaat, bukan karena kelemahan."
Vanya menoleh, ia menatap Alfa lebih dalam. "Apa yang kamu tahu tentang cinta Al? Kamu pernah kehilangan seseorang?"
Alfa mengangkat bahu. "Aku pernah melepas cinta pertamaku, tetapi aku tidak tahu apakah aku akan melepas cintaku lagi kali ini atau tidak." Alfa lalu meninggalkan Vanya dengan pikiran mereka masing-masing.
"Al."
Alfa terus melanjutkan langkahnya. Langkah gontai yang tidak pernah disadari Vanya kalau selama ini Alfa menyimpan luka dibalik guyonannya. Ada apa Al?
Vanya menatap lapangan dan menemukan Kak Illas di sana. Entah kenapa ia tidak tertarik lagi melihat Illas. Mungkin karena sudah punya Servagio Adam sekarang.
"Vanya. Ayo!" Johan memanggil.
Benar kan! Ada rahasia dibalik karakter Alfa yang selalu melucon.
"Mutia, bisa kau ceritakan bagaimana Bayu menyatakan cinta padamu? Apakah itu sangat romantis?" Anggun meledek Mutia dan Bayu diselingi sorak para sahabat.
"Es teh manis tujuh!" Bayu memesan dan mereka langsung mengambil tempat. Traktirannya adalah menu favorit bersama, nasi soto ayam. Tak lama pesanan datang.
Mutia dengan polos menceritakan setiap detail kemesraan Bayu saat mengajaknya malam mingguan, kemudian menyatakan cintanya ketika pulang latihan Kempo. Yang lain berisik karena akhirnya tahu kalau Bayu ternyata tipe pria romantis.
"Aku berharap kalian abadi dan mengingat setiap momen bahagia kapanpun. Ingat! Kalian sudah menghabiskan uang jajan seminggu untuk mentraktir kami." Pesan Anggun bijaksana. "Aku bahagia untuk kalian."
"Apakah saat jadian semalam kalian berciuman?" Johan berbisik dan itu membuat tawa mereka meledak. "Just kidding."
Diam-diam Johan memperhatikan Alfa. Ada sesuatu yang menjadi perhatian Johan sejak kejadian tadi di koridor. Kali ini pun Alfa tidak seheboh biasanya, hanya mengikuti irama mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
