Di kamar Alfa.
Alfa berdecak kagum. Ia sedang mengamati poster klub bola favoritnya, Juventus. Dari kecil Alfa sudah menjatuhkan pilihannya pada klub sepak bola Italia tersebut. Bahkan ia hafal semua seluk beluk Juventus, kesukaannya inilah yang menyeret dia ke ekstrakulikuler sepak bola dan futsal di SMP dan menjadi tim inti untuk kesebelasan sekolah, bahkan Alfa sering mencetak gol dan melepaskan ciuman dua jarinya ke para cheerleaders sekolah lain karena sekolahnya tidak punya cheerleaders. Mereka tidak mau menjadi bintang iklan sebuah produk anti deodorant versi Indonesia.
Tetapi tahun ini, Alfa tidak meneruskan kepiawaiannya menggocek di lapangan hijau, ia memilih memainkan nada-nada indah yang tertata rapi di partitur. Tahun ini ia memutuskan untuk memikat perempuan dengan suara bassnya yang maskulin dan merdu apalagi jika ia bernyanyi sambil bermain organ. Itu memukau! Berharap dengan keputusan yang sudah ditekadkannya ini, ia menemukan Omega dengan setangkai mawar merah. Setidaknya menghibur dia yang terpaksa masuk SMA.
"Al." Pintu kamar Alfa diketuk.
"Ya Mbak Lin."
"Dipanggil Bapak sama Ibu."
"Aku lagi belajar besok ulangan."
"Kamu temui dulu Bapak sama Ibu sebentar."
"Bilang saja begitu Mbak." Alfa tetap tidak mau turun. Ia malas berdebat terus-terusan, apalagi kalau tidak membicarakan kemauan Bapak atau Ibu yang menggaris bawahi kalau dia pria satu-satunya di keluarga ini? Bosan!'
"Alfa!!"
Akhirnya Alfa menyerah setelah suara bariton Bapak terdengar membentak.
"Belajar apa kamu sampai susah dipanggil?"
"Besok saya ulangan Fisika, Pak." Sahut Alfa kesal.
"Turun dulu ada yang mau Bapak sampaikan. Penting!"
Dengan langkah berat Alfa menyeret kakinya.
"Kamu susah sekali menurut sama orang tua." Dumel Bapak ketika Alfa sudah duduk berhadapan dengan Bapak dan Ibu. Mbak Arlin dan Mbak Ersa sudah duduk sejajar dengannya. "Bapak mau bicara serius."
Kapan sih Bapak enggak pernah serius. Dalam seminggu bisa empat kali dia memberi nasihat yang isinya sama saja, mengintimidasi kemampuan anak laki tunggalnya dan memaksa menuruti semua jalan pikirannya! Termasuk membandingkan aku dengan Mbak Arlin juga Mbak Ersa.
"Jangan murung, Bapak belum mulai bicara. Bagaimana sekolahmu?" Tanya Bapak sambil menyeruput kopi hitam dan keretek yang tidak berhenti ngebul.
"Baik."
"Yang rinci toh Al." Ibu memperjelas maksud Bapak berperan sebagai kompor.
Alfa langsung berdiri dan naik ke atas, sebentar kemudian dia turun membawa berkas nilai, menyerahkan ke Bapak dan Ibu. "Ini hasil ulangan-ulangan saya." Alfa duduk kembali sambil bertingkah masa bodo.
"Bisa kau tingkatkan lagi nilai MIPAmu?"
Alfa menelan ludah. "Itu saya sudah maksimal Pak."
"Kamu pasti bisa lebih dari ini, belajar lebih keras lagi."
"Maksud Bapak saya enggak usah tidur supaya belajar terus?"
"Kamu akan Bapak daftarkan les pelajaran."
"Tidak perlu, kalau sampai Bapak daftar saya malah enggak les, rugi."
"Terserah, kalau nilaimu enggak naik, Bapak akan kirim kau ke Malang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
