Chapter 3 -- They were enemy they were in love!

1.6K 73 0
                                        

"Selamat Pagi!" Vanya melemparkan senyum ke seisi sekolah. Rambut baru.Ia menggunting rambutnya yang panjang setengah punggung sampai bahu. Yang kemarin selalu menggunakan bandana sekarang cukup jepitan kecil.

"Vanya? Ini kau?" Tanya Anggun kaget.

Vanya mengerut dahi. "Ada yang salah dengan rambutku? Tampak asing lagi?"

Anggun tersenyum. "Kau tampak lebih cantik dan segar. Aku pikir tadi anak baru ternyata sahabatku." Anggun merangkul Vanya. "Lihat! Teman baru kita."

"Kau berlebihan, Gun. Aku malu." Vanya langsung duduk di sebelah Ruben. Menarik tangan Ruben. "Jujur. Apa ada yang aneh? Aku malu."

Ruben tertawa kecil. Ia mencubit pipi Vanya. "Kau terlihat lebih cantik."

"Jujur?"

Ruben mengangguk.

Pelajaran pertama Fisika. Guru Fisikaku bahkan tidak percaya ini aku dengan tatanan rambut yang baru. Well, am i look so different? I don't know well.

Bel!

"Tidak ada guru!" Ini pengumuman lima menit setelah bel pergantian pelajaran.

"Aku mau pipis dulu. Kau ikut?"

Ruben menggeleng sambil tertawa kecil.

Vanya melihat Igodi koperasi.

Akhirnya setelah hampir satu bulan aku melihatnya lagi.

Sesak,bergetar,rindu,tubuhVanya seperti melayang, padahal hanya melihat Igo dari atas. Ia memberanikan diri ke koperasi setidaknya ingin berpapasan saja dengan Igo. Menelusuri kelas kemudian turun,belok ke koperasi dan tidak menoleh sama sekali. Tetapi ia tahu kalau ada Roland dan Igo juga teman-temannya kelasnya yang lain. Ia tidak ingin menatap mereka. Cukup melihat Igo dari pantulan kaca kulkas minuman ringan.

Aku ingin dia juga melihatku, mungkin saja dia rindu. Setidaknya sama-sama tahu kalau kami masih hidup. Aku membayar jajananku.Terserah bagaimana nanti, yang pasti aku sangat merindukannya!

"Hai Vanya!" Roland sudah tepat dihadapanVanya ketika ia berbalik.

"Maaf Ka, aku harus kembali ke kelas."

"Hohohoho.... si Vanya panggil Kaka. Kau takut sendirian, gadis asing?" Roland melipirkan jarinya di rambutVanya bahkan mengambil jepit rambut adik kelasnya itu.

"Roland jangan iseng! Kamu kan mau ujian!" Petugas koperasi memperingatkan.

"Santai saja Pak. Aku enggak hajar dia lagi kok."

Vanya mencari pertolongan, mungkin saja anak kelas tiga itu ada yang mau membantunya. Vanya melihat Igo, Igo juga melihat Vanya. Mata mereka terkunci satu sama lain, saling menuntut sesuatu yang terasa sesak.

"Auu!! Tiba-tiba Roland menarik Vanya kasar ke pojok koperasi, menyandarkan tubuh Vanya kemudian menempelkan tangannya di tembok, ini terlihat menjijikkan!

"Kenapa putri cantik di sekolah ini dibiarkan sendirian? Mana Pangeranmu?"

Vanya menatap Roland, sesaat kemudian mengalihkan pandangannya.

"Ups kau buang mata dariku?" Roland mengangkat dagu gadis itu kasar supaya mereka bertatapan. "Ruben namanya??"

Vanya menatap Roland. Setajam samurai.

"Jangan tatap aku Vanya. Kau membuatku seperti singa. Apa kau serius pacaran sama Ruben? Gengster mu itu yang bilang di kantin. Aku sebenarnya tidak ambil pusing, tapi kebetulan kau sendiri yang datang ke kandang singa." Roland semakin menggencet.

Potret PersahabatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang