"Kak Ruben!!" Diaz mengejar Ruben yang sedang masuk ruang OSIS.
"Ada apa?"
"Kau berubah. Kau menjauhiku."
"Masih ingat kalimat terakhirku kemarin?"
"Jadi kau masih marah?"
"Aku tidak mau lagi berurusan denganmu?"
"Tidak bisa kita bicarakan ini baik-baik?"
"Menurutku semua sudah selesai."
"Sepihak? Lalu kau anggap apa aku selama ini?"
"Berhenti mendesakku."
"Aku akan menunggumu di sini dan tidak akan berhenti mengejarmu."
"Jangan bersikap sok manja Diaz!"
"Kalau begitu mari kita bicarakan secara dewasa."
"Hari ini kau pulang sendiri. Tidak usah menungguku, aku ada OSIS dan bola."
"Biasanya kak Ruben ajak aku atau minta aku nunggu."
"Aku sudah bilang kalau aku ada OSIS dan bola tadi."
Kening Diaz semakin berkerut. "Ada apa? Apa sahabatmu bicara sesuatu?"
"Sahabatku? Tidak ada kaitannya. Kenapa kau tiba-tiba bicara tentang sahabat?"
"Aku tahu mereka tidak suka denganku dan hubungan kita."
"Mereka hanya kaget."
"Kau selalu membela sahabat-sahabatmu! Padahal selama ini mereka sudah menyakitimu dengan tidak menerima kita, mereka juga menjauhimu Kak! Kalau mereka sahabat yang baik, mereka tidak akan setega itu. Apa salah kita pacaran?"
"Mereka punya alasan. Aku tahu."
"Vanya?"
Pertanyaan Diaz barusan membuat Ruben menggigil. Hatinya menolak untuk menepis kebenaran. Dan ia tidak suka mendengar nada sinis dari pacarnya tentang Vanya. Sekarang ia tahu jelas apa arti hatinya untuk Vanya. Diaz hanyalah sebuah pelampiasan, dia mau mengakui itu didepan sahabat-sahabatnya demi sebuah pengampunan.
"Kau urus dirimu sendiri. Aku sibuk." Ruben menutup ruang OSIS.
Diaz tahu momen ini akan tiba. Momen dia akan kehilangan Ruben yang selama ini menjadi tamengnya untuk tetap bertahan di sekolah yang membuatnya tersiksa. Selain mata pelajaran yang tidak bisa ia ikuti, ia juga bingung alasan teman-temannya menjauh sehingga ia hanya berteman dengan Ruben sepanjang hari. Bagi dia tidak masalah apapun yang terjadi, yang penting Ruben tampan yang punya nama di sekolah apalagi anak OSIS dan jago main bola ada digandengannya.
"Kau datang rapat hari ini Ruben? Apa pacarmu menunggu? Hari ini rapat penting jadi akan memakan waktu lama. Kau bisa?"
"Bisa." Akhirnya Ruben tahu kalau ia bukan hanya kehilangan sahabat tetapi kehilangan partner. Hilang sudah semua yang ia bangun dengan sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Potret Persahabatan
RomanceVanya. Mutia. Anggun. Bayu. Ruben. Alfa. Johan. Potret persahabatan dengan sejuta cerita yang terekam dalam seribu bingkai ekspresi.
